Jumpa Lagi Cikeu Bidadewi

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Ketika mengenal tampilan namanya, beberapa tahun lalu, di majelis Facebookiyah ini, saya mengira dia menggunakan nama samaran. Karena unik, tidak lazim dan cenderung bernuansa sastrawi.
Kebetulan dia penulis - jadi wajar tokh penulis menggunakan nama samaran?

Ternyata Cikeu Bidadewi adalah nama sesungguhnya, nama KTP dan nama di paspor. Dia pernah memperlihatkan di dinding facebooknya.

Dia ibu tiga anak yang suka menulis dan traveling. Seperti saya. Makanya begitu ketemu di acara peluncuran buku Noorca N. Massardi di Gedung DPR RI, beberapa waktu lalu, kami langsung nyambung. Akrab. Sebelumnya saling comment saja di FB.

Dia sudah mengunjungi setidaknya 37 negara dan masih ingin terus traveling lagi. Beberapa negara yang dikunjungi kebetulan ditinggali oleh saudara dan teman temannya. Tapi pandemi Corona telah mencegatnya

Covid 19 bukan hanya menghambat perjalanannya tapi juga menghambat transferan suami di ATM-nya, karena perusahaan migas pun terkena imbas pandemi global ini - membuat dia harus memikirkan ulang untuk melampiaskan hobinya, raun raun ke mancanegara agar survive menghadapi kondisi saat ini - situasi yang juga sedang terjadi pada siapa saja di Indonesia kini.

Kecuali keluarga Cendana yang tetap makmur sentosa, tentu saja.

Pertemuan siang hari itu selain memenuhi janji untuk menyerahkan dua buku karyanya, juga dalam rangka minta opini saya untuk channel Youtube yang baru diproduksinya, Omacie Story. Karena dia minta pendapat pribadi, dengan senang hati saya menyanggupinya.

Ini project baru untuknya, membacakan pendapat 10 orang, dari berbagai latar belakang - tentang "Indonesia masa lalu, masa kini dan masa depan". Juga Indonesia yang kami dan kita didambakan.

Selain disiarkan di channel Youtubenya - Omacie Story - catatan ke 10 orang yang dipilihnya juga akan diibukukan, sebagai tema sentral buku berikutnya. Saya pun langsung mengiyakan.

Kalau sekadar minta "pendapat" pribadi boleh saja. Kalau minta "pendapatan" udah lain lagi. Udah gak ada. Sudah pensiun soalnya ha..ha..

Di luar bayangan saya tentang kehidupannya yang aman nyaman damai dan sentosa, sebagai warga penghuni perumahan kaum menengah di Bintaro Jaya Sektor 9 (450 M2 kalau tak salah dengar) - ternyata dia melewati dan mengalami kehidupan berliku. Bahkan ekstrim.

Dia banyak curhat siang itu dan saya pilih mendengarkan.

Padahal awal ketemu dia bilang, "Hari ini, aku mau dengar Mas Dimas yang banyak omong. Aku mau jadi pendengar saja, " katanya.

Kenyataannya terjadi sebaliknya.
Tak apa lah. Senang dipercaya mendengar curahan hatinya. Apalagi sambil makan makan.

Pada akhirnya saling curhat juga, sih. Dari ngomongin anak, mantu, cucu, buku buku yang sudah dan akan ditulisnya - sampai ngomongin negara! Wuih.

Dia punya kegelisahan juga tentang kondisi negara yang sama sama kita huni ini. Perjalanan jauh ke berbagai negara membuatnya punya banyak pembanding. "Sebenarnya negeri kita penuh berkah, " katanya.

Dia menikah dengan tukang gali sumur. Bukan sumur air, tentu saja. Melainkan sumur minyak. Emas juga. Investasinya ratusan M untuk panen puluhan tahun ke depan. Perlu kegigihan dan keberanian.

Saya membaca sekilas buku pertama yang diterbitkannya: "Problematika Rumah Tangga" - Kumpulan tulisannya di dinding Facebook. Segera mengingatkan pada catatan ringan novelis La Rose di era majalah 'Kartini' di 1980-'90an.

"Ini yang bikin Cikeu tetap waras, ya? " saya mengoloknya, seraya menunjukkan bukunya, sembari senyum. Dan dia mengangguk. "Iya..." akuinya.

Menulis bukan hanya 'katarsis' - pelarian dan pelepasan ketegangan - melainkan juga 'therapy'. Saya langsung tahu, karena saya mengalami juga.

Kami sama sama penggelisah, tak bisa duduk tenang dan tidur nyenyak, bila melihat sesuatu yang tak beres. Atau menarik. Langsung saja mengambil hape, merekamnya dan menulisnya.

"Sebenarnya saya gak perlu hape mahal - dengan fitur ini itu canggih, bisa apalah.. apalah... Wong, perlunya cuma buat fesbuk dan ngetik ngetik. Hape China pun jadi, " selorohnya, menyesali hapenya yang kelewat canggih dan mahal.

Buku 'Emily' yang lebih tebal, berupa novel belum berani saya komentari karena baru membaca alinea awalnya, ada kemiripan dengan novel novel Mira W. Editornya saya kenal baik. Penyair kondang. Berteman di FB ini juga.

Kami saling berebut bicara dan ngobrol asyik tak ada habisnya dari makan siang bareng sampai hari sore tiba.

Baik di FB maupun dalam pertemuan dia 'cerewet'. Tapi audionya bagus. Enak dengarnya. Saya menduga dulu banyak pacarnya. Tapi saya lupa menanyakan.

KAMI orang Jawa punya istilah dalam hidup ini kita "wang sinawang" atau "saling memandang" Yang nampaknya kaya dan bahagia ternyata tak sekaya dan sebahagia yang kita bayangkan. Dia menyebut beberapa nama orang kondang seantero negeri, yang ternyata berteman baik dengan suaminya.

Mereka yang nampak sukses tak sesukses yang kita bayangkan. Juga yang nampak alim keluarganya rukun damai. Atau sebaliknya.

Ada banyak pencitraan di media sosial selama ini. Orang orang banyak pamer sekaligus juga menyembunyikan. Saya tahu tapi sering kecele juga. Kenyataan sedikit terkuak setelah saling bertemu dan berbincang.

Saya kira drama mencekam di masa kecil dalam kehidupannya itu yang menjadi "bahan bakar" yang tak habis habisnya dalam menulis, selama ini. Dan itu lazim terjadi. Kepahitan dan kegetiran hidup justru memperkaya dan memperlancar para penulis - yang tak dirasai oleh mereka yang hidupnya biasa biasa saja. Jalan hidupnya landai.

Cikeu Bidadewi lebih religius dan lebih spiritual dari yang tampak di FB. Dan itu mengejutkan saya di siang hari itu.

Itulah hidup. "Wang Sinawang". ***

Sumber : Status facebook Supriyanto Martosuwito

Saturday, July 4, 2020 - 15:15
Kategori Rubrik: