Jumhur Cari Untung Meski Prabowo Buntung

ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Jumhur Hidayat. Lama orang ini tidak muncul dan kini menjadi koordinator aksi 22 Mei yang minta agar Jokowi didiskualifikasi karena pilpres yang curang . Aktivis buruh yang mengklaim sebagai Koordinator Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) lumayan mengejutkan karena muncul disaat-saat akhir.

JUMHUR DAN SBY
Jumhur dikenal sebagai aktivis mahasiswa yang melewatkan kemenangan rakyat pada Reformasi 20 Mei 1998. Dia masih dipenjara karena menentang Suharto. Dia baru bebas tahun 1999 dan langsung bergabung di Partai Daulat Rakyat pimpinan Adi Sasono. Namun gagal.

Jumhur menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) selama 7 tahun. Jabatan terlama di BNP2TKI yang santer dikabarkan sebagai balas budi SBY atas dukungan massa Jumhur Hidayat menjadi presiden selama dua periode.

Harian Merdeka melaporkan Jumhur merapat ke Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) pada Pemilu 2004. Dia menjadi tim sukses SBY - JK pada Pilpres pertama di republik ini. Setelah SBY - JK menang, Jumhur pun mendapat hadiah dari pengorganisasian massa buruh yang dilakukannya. Pada 2007, dia diberi jabatan Kepala BNP2TKI oleh Presiden SBY .

CARI POSISI

Ada kabar, SBY membujuk Jumhur masuk Partai Demokrat. Namun di periode terakhir kepemimpinan SBY, Jumhur justru masuk PDI P. SBY kononnya marah hingga memecatnya sebagai ketua badan yang mengurusi soal TKI itu meski alasan resmi Sekneg pada waktu itu adalah sekedar penyegaran. Jumhur digantikan oleh Gatot Abdulah Mansyur, mantan Dubes RI di Riyadh, Saudi Arabia.

Jumhur tidak mendapatkan undangan mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, meski sudah mendaftar. Tidak masuk kriteria. Demikian kata DPP Partai Demokrat kala itu di tahun 2014.

Harian Merdeka melaporkan Jumhur bergabung dengan PDIP, partai yang sedang naik pamor menjelang Pemilu 2014 karena tujuan politik. Banyak kalangan menduga Jumhur mengincar posisi menteri tenaga kerja, jabatan yang gagal diraihnya saat SBY menjabat. ( https://m.merdeka.com/p…/akrobat-politik-jumhur-hidayat.html)

TIDAK DAPAT JABATAN

Ketika Jokowi nyalon di 2014, Jumhur menjadi pengembara politik dan mengumpulkan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Merdeka ( ARM). Dibawah organisasi ini bernaung puluhan organisasi buruh, sektor informal dan petani. ARM katanya dibentuk untuk mendukung Jokowi dan PDIP. ( http://jogja.tribunnews.com/…/ini-alasan-jumhur-hidayat-dir…)

Namun ketika Jokowi menang, tidak secuil jabatan pun dipegang Jumhur.

Kiprahnya hilang dan baru muncul di tahun ini ketika dia mengumumkan ARM mendukung Prabowo Sandiaga Uno. Suaranya makin kencang akhir - akhir ini karena dia mendapuk dirinya sendiri sebagai Koordinator aksi massa tanggal 22 Mei.

Sejauh ini tidak ada informasi bahwa BPN atau kubu Prabowo merestui manuver Jumhur. Namun nampaknya ada kesepahaman bahwa kubu Prabowo mendukung secara moril siapapun yang membela mereka. Tidak perduli siapapun dan kelompok apapun.

Bahkan dengan mudah kubu Prabowo memandang Jumhur, Egy Sujana, Kivlan Zein, Suryo Prabowo dan sejumlah pensiunan jenderal kepala pitak yang suka sebar hoax adalah mereka yang ingin meraih untung meskipun nasib Prabowo sebagai Presiden sudah buntung.

INI BUKAN SOAL DUKUNG PRABOWO

Jadi Prabowo membiarkan mereka bergerak sendirian tanpa komitmen apapun. Sama seperti Prabowo memperlakukan simpatisan dan tokoh 212 sebagai para budaknya.

Jumhur sebagai orang pintar tahu persis dia tidak akan dapat apa-apa dari manuver nya menggalang orang-orang tolol melakukan aksi massa di 22 Mei. Dia paham Prabowo kalah. Namun seorang Jumhur kembali dilihat orang politik sebagai kembali berkiprah.

Jadi bisa saja Jumhur sekarang ini tengah menjajakan diri sebagai makelar politik untuk 2024. Sama dengan kelompok 212 dengan jimak ketiganya.

Pertarungan 2024 diperkirakan akan jauh lebih sengit. Dan mereka yang bermata politik mengatakan Jokowi sudah selesai. Tidak diperhitungkan lagi dalam kalkulasi politik mereka.

Kata mereka -- dan tentu saja Jumhur : Silahkan bekerja Pak Jokowi tapi kami sudah bersiap mengkapitalisasi kekuatan kepada siapa saja yang ingin dukungan massa kami untuk Pilpres 2024 nanti.

Dan kami punya banyak orang tolol yang bersedia maju ke depan sementara kami duduk enak mengipas-ngipasi mereka sambil minum kopi.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Monday, May 20, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: