Jualan Politik Orde Baru

Oleh: Muhammad Ilham Fadli

 

Sekitar tahun 1990. Upah menjahit celana di "Melarat Tailor" sekitar Rp. 7.000. Satu stel (celana alias "sarawa" plus baju) upahnya dibandrol ayah (Fadli senior) Rp. 10.000. Klien atau pelanggan "Melarat Tailor" biasanya menjemput pakaian mereka setiap hari Sabtu. Hari pasar, di kampung kami. Biasanya uang yang terkumpul antara Rp. 40.000 - Rp. 70.000. Rata-rata ayah menyelesaikan antara 4 hingga 7 stel dalam satu minggu. Diselang-selingi dengan upah "vermaak". Memperkecil kaki celana jeans hingga 14 cm (pakai kantong kresek/assoy untuk memakai celana jenis ini). Dari "vermaak" ini, biasanya ayah mendapatkan uang untuk beli rokok, minum di kedai, bayar listrik. Bila ada uang berlebih, biasanya ditabung di BRI Unit Desa. Tak banyak. Biasanya, tak pernah lebih dari dua minggu. Minggu ke tiga, diambil lagi.

"Buyung, antarkan uang Rp. 50.000 ini buat Umakmu. Suruh beliau belanja ke balai. Jangan lupa sisihkan uang untuk belanja sekolah kalian", kata ayah.

 

Dengan riang, saya pulang ke rumah. Sekitar 1 kilometer jarak kedai tempat ayah saya menjahit dengan gubuk kami.

Umak kemudian mengambil "kambuik". Tas dari daun rumbia. Pergi ke pasar dengan ditemani adik-adik saya. Beberapa jam kemudian, Umak pulang. Saya yang menunggu di dekat jenjang rumah, bergegas membantu menurunkan belanjaan dari becak.

"Banyak sekali, duhai Umak ?". 
"Iyaa ..... nak. Ada beras 2 sukek (1 sukek = 2 gantang), bekal kita untuk satu minggu ini. Ada telur ayam kampung beberapa biji. Tempe kesukaan ayahmu tiga bungkus. Kelapa beberapa buah. Cabe satu kantong kresek kecil, penuh. Garam. Gula 1 kilo. Teh beberapa bungkus. Sabun mandi. Sabun cuci. Bedak viva untuk kalian. Minyak kemiri, tak lupa pula Umak beli ....... Ikan nanti kita beli di TPI, setiap hari. Dan tak lupa ...... ini martabk dan cendol delima untuk kamu dan kakakmu, nak. Untuk adik-adikmu ini, mereka sudah belanja sate dan es tebak, Kekenyangan mereka, Umak lihat :) ".

"Uang yang dikasih ayah tadi, berarti habiiss ... dong ?"

"Tidak, nak. Paling Rp. 30.000. Sekitar Rp. 10.000 untuk belanja kalian sekolah, sisanya untuk beli ikan di TPI, nantinya !", jawab Umak sambil mengeluarkan sirih dari "kambuik". Bahan belanjaan yang tak pernah lupa dibelinya.

Itu zaman Orde Baru. 
Rp. 30.000, Umak mampu belanja begitu banyak belanjaan. 
"Enaak zaman ku ... tho ?"

Tahun 2018. si Upik pernah menjahit satu stel pakaian saya. Di tukang jahit pinggiran Padang. Mirip-mirip dengan "Melarat Tailor" milik ayah saya.

"Satu celana panjang, satu baju panjang lengan, berapa upahnya ... bang ?", tanya si Upik pada tukang jahit tersebut.

"Celana Rp. 150.000 .... baju panjang lengan 100.000. Total Rp. 250.000 !",

Saya biarkan si Upik "bernegosiasi". Ia hebat dibidang itu. Kalau saya, agak peng-hiba. Baperan. Karena itu, saya melihat dari jauh-jauh saja. Bila sudah "deal" baru saya masuk ke dalam kedai tukang jahit tersebut. Badan saya di ukur. Dari leher hingga selengkangan. Tak lupa, pinggul dan kaki. Si Upik biasanya "nyinyir" mengatur bentuk celana dan baju saya pada tukang jahit ini.

"Agar abang tampak gagah. Bila abang gagah, hidung awak juga yang akan lebar !", kata si Upik ketika saya protes. Tak didengarkannya. Akhirnya saya diam saja. Pasrah. Si Tukang Jahit, tersenyum.

Setelah proses ukur mengukur selesai, barulah saya keluar dari situasi "diam". Saya mulai mengajak Bapak tukang jahit ini diskusi. Tentang banyak hal. Si Upik ? ........ ia mengambil posisi saya sebelumnya. Diam. Pasrah. Sesekali bergumam, "lama lagi ... bang ?".

Biasanya saya jawab, "satu batang rokok lagi !", sambil mematikan rokok yang sudah terpuntung.

Salah satu yang saya diskusikan dengan Bapak tukang jahit tersebut adalah jumlah pendapatannya serta pengeluarannya. Satu stel Rp. 250.000. Berarti bila dihubungkan dengan pendapatan ayah saya, dulunya, dengan parameter 1 stel pakaian, maka pendapatan Bapak tersebut antara Rp. 1.000.000 - Rp. 1.750.000/ minggu.

"Rata-rata Rp. 1.500.000 setiap minggu ?", jawab Bapak tukang jahit ini ketika saya tanya berapa pendapatannya.

"Kebutuhan harian ? ... Untuk biaya dapur dan belanja anak-anak, berapa satu minggu ?".

"Sekitar Rp. 1.000.000. Sisanya saya tabung untuk kontrak kedai dan belanja yang lain. Biasanya uang di tabungan saya jarang bertambah besar. Setelah dimasukkan, beberapa minggu setelah itu diambil lagi. Begitu terus !". Persis "my pader".

_____________________

Kemaren, seorang anak mantan penguasa Orde Baru berkata (kira-kira), "Uang Rp. 50.000 tak dapat beli apa-apa. Zaman Soeharto, dapat beli banyak !".

Saya jadi teringat dengan ongkos 1 stel pakaian zaman Orba dan tahun 2018.

Saya jadi ingat dengan filosofi para Tukang Jahit yang tidak menggunakan ukuran lama ketika seseorang datang menjahitkan celana dan baju padanya. Si Tukang Jahit akan kembali mengambil ukuran baru. Mengambil ukuran "hari ini".

Saya jadi ingat dengan ucapan prang tua salah seorang mahasiswa saya, beberapa tahun yang lalu, "Coba Pak Dosen bayangkan, anak saya sudah saya kuliahkan S2. Tak kunjung juga jadi PNS. Saya hanya tamat PGA, setingkat SMA, baru lulus langsung diangkat jadi PNS. Enak sekali zaman dulu !".

"Begitu banyak pintu yang dibukakan Tuhan untuk kita. Mungkin ada satu atau dua pintu yang tertutup. Kita selalu terfokus pada pintu yang tertutup tersebut dengan mengabaikan begitu banyak pintu yang terbuka !", kata seorang ahli hikmah.

Sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin, Islam hadir ke dunia ini untuk menghilangkan sifat jahiliyah. Sifat yang identik dengan kebodohan. Tetapi membuat ummatnya justru menjadi berakhlak dan pintar. Bukan bodoh. Termasuk membodohi orang lain.

Pilihan boleh beda. Tapi jangan menyamakan "kondisi" hari ini dengan "kondisi" zaman "ketumbar". Mengapa tak langsung saja diambil sampelnya zaman Majapahit yang tak membutuhkan BBM ataupun kuota pulsa.

Salam damai !

 

(Sumber: Facebook Muhammad Ilham Fadli)

Saturday, November 17, 2018 - 07:45
Kategori Rubrik: