Jualan Bango, yang Dikampanyekan Onta?

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Sebetulnya drama Capres-Cawapres kali ini akan lebih seru, menarik, dan menggairahkan untuk ditonton dan dinikmati kalau timses Prabowo-Sandi menggunakan "bahasa sekuler" ketimbang "bahasa agama". Hal itu karena "identitas keagamaan" sudah jelas-jelas "direbut" oleh paslon Jokowi-Ma'ruf Amin.

Mau dipoles dan didandani seperti apapun, bahkan kayak walisongo, habaib, atau orang Arab Timur Tengah sekalipun, paslon Prabowo-Sandi tidak bisa meyakinkan mayoritas publik Indonesia tentang kapasitas dan kualitas keagamaan dan keislaman mereka.

 

 

Hanya orang-orang yang katarak, rabun, amnesia, dan menderita sakit hati permanen saja yang mempercayai kesantrian dan keulamaan Sandi. Tambah ngawur lagi kalau ada tokoh politik dan agama yang bilang Sandi itu "perilakunya" seperti ulama. Ulama cap bango? Eh kecap kalau yang ini.

Mau dipacakin model apapun, kualitas Sandi tetap tidak level (jauuuuuhhhhh sekali seperti langit dan sumur) dibandingkan dengan Pak Ma'ruf Amin yang dalam ilmu keislamannya dan sudah jelas, gamblang, dan ceto welo-welo kesantrian dan keulamaannya. Kalau tidak santri dan ulama, kan tidak mungkin beliau menjadi pemimpin tertinggi NU (Rais 'Aam PBNU) sekaligus Ketua Umum MUI.

Jadi, saya sarankan sekali lagi, timses Prabowo-Sandi lebih baik mengubah gaya kampanye dan bahasa politik kalian untuk memasarkan paslon idaman kalian ke masyarakat. Jangan menggunakan "bahasa agama" lagi tetapi "bahasa sekuler" saja sesuai dengan kapasitas paslon Prabowo-Sandi yang memang lebih pas sebagai representasi masyarakat sekuler-nominal.

Kalau terus-menerus menggunakan "bahasa agama" untuk sistem marketing yang jelas-jelas sangat dipaksakan, maka kalian akan terus-menerus jadi bahan tertawaan para ayam kampung, ayam kampus, onta gurun, dan bahkan keledai petamburan. Ibarat orang jualan, maka "kampanye" dan "halo-halonya" harus sesuai dengan barang yang dijual.

Masak mau jualan bango yang dikampanyekan onta?

Jadi, jelasnya begini, timses Prabowo-Sandi tidak usah ngomong agama lagi, tidak usah jualan agama lagi, tidak usah macakin Sandi jadi santri atau ulama KW lagi, dan tak perlu menyuruh dia untuk memanjangkan jenggot dan memakai udeng-udeng dan jubah misalnya. Tetapi fokus pada jualan dan marketing ide-ide sekuler non-agama saja seperti pentingnya kesejahteraan, pendidikan, kemakmuran, kejayaan, kedaulatan, perlindungan minoritas, hak-hak azasi manusia, dlsb.

Tapi repotnya timses Prabowo-Sandi ada sekelompok yang biasanya dan bisanya cuma jualan agama tok til itil-itil saja seperti PKS, HTI, alumni Universitas Tugu Monas, dll. Repotnya lagi, kalau mau jualan ide-ide non-agama, sudah pasti keok dengan Pak Jokowi yang bukan hanya janji tapi sudah terbukti hasil kerjanya di berbagai bidang non-agama.

Lalu gimana dong? Ya pikir sendirilah strategi dan taktiknya yang jitu, cespleng, dan brilian, masak tanya saya? Memangnya sayyahh timses Prabowo-Sandi apa?

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Saturday, September 22, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: