Jualan Anies Baswedan

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Tidak ada yang salah dengan kearaban. Keturunan Arab, sama bernilainya dengan WNI lain. Kebudayaan arab, termasuk jubah dan jilbab juga baik. Hanya saja, muncul persoalan ketika mereka dan budayanya dikultuskan.

Orang keturunan Arab tidak beda dengan keturunan Cina, Jepang, Belanda. Tidak ada yang lebih luhur apalagi suci. Hak dan kewajiban mereka sebagai bangsa sama. Rasisme dan peminoran terhadap mereka adalah melawan akal sehat.

 

Dilihat dari kebudayaan Arab, saya tidak percaya dengan adanya keturunan Nabi. Kalaupun ada, mestinya keturunan Ali, menantu Nabi. Kebudayaan Arab yang patrilineal mewajibkan jalur nasab dari pihak ayah. Semua teori kehaditsan yang membenarkan keturunan Nabi melalui putrinya, menggugurkan seluruh bangunan kebudayaan Arab.

Oleh sebab itu, kehabiban akan runtuh, karena mereka juga hanya menghitung nasab dari jalur laki-laki.

Meskipun begitu, sebagai orang Jawa, saya justru menghormati keturunan Nabi dari pihak perempuan itu. Padahal jika dilihat dari kebudayaan Arab, itu batal dengan sendirinya. Maka di Arab Saudi misalnya, kehabiban tidak mendapat tempat. Cucu Nabi dianggap hanya anak-anak Ali.

Di Yaman, kehabiban (kesayyidan) mendapat posisi terhormat. Berhubung Walisanga bersumber dari Yaman, kebudayaan islam kita berkiblat ke sana. Baik dari mazhab fikih, sampai penghormatan kepada habib (sayid).

Anies adalah keturunan Yaman. Ia mestinya dilihat sebagai sosok sekular. Namun seiring perjalanan politiknya, Anies menggeser posisi berdirinya. Ia lebih dekat pada radikalis FPI dan ormas terlarang HTI. Anies mencitrakan dirinya sedikit ngarab. Bukan dari cara berpakaian (atau belum). Ia sering menggunakan simbol lain di luar dirinya.

Dalam sebuah foto, Anies terlihat sedang sumringah menjamu ulama dari Palestina. Di meja jamuan itu, terhidang santapan buka puasa yang didominasi oleh buah. Tentu bukan tradisi kita. Orang kita, belum makan kalau belum ketemu nasi. Kalau di Papua, belum makan kalau belum bertemu ubi.

Barangkali lebih dekat ke tradisi tamunya. Atau tradisi leluhurnya di Yaman sana. Buah adalah barang yang langka, atau setidaknya mahal harganya.

Dengan penuh kebanggaan, menurut Anies, ulama-ulama Palestina itu akan menjadi imam tarawih di masjid-masjid Jakarta. Ini yang menyalahi akal sehat. Mungkin Anies berpikir, ulama impor itu dianggap jauh lebih ulama dari kiai lokal. Kepalistinaan dianggap sangat terhormat. Oleh sebab itu, dalam demo ormas garis keras selalu ada bendera Palestina.

Apa yang ditunjukkan Anies itu sebenarnya adalah jualan politik. Sah saja ia menjamu tamunya. Tapi untuk menjadi imam tarawih, tunggu dulu. Sudah lulus test baca quran belum mereka yang berjubah dan berjenggot itu?

Palestina tidak ada bedanya dengan Irak, Iran, Afganistan atau negara lain. Mereka yang memuja Palestina berlebihan adalah orang-orang yang gagap memahami sejarah. Mereka yang tak bisa memisahkan urusan politik dan agama. Konflik Israel-Palestina itu konflik politik, bukan agama.

Kita wajib bersimpati pada semua korban konflik di seluruh penjuru dunia. Baik muslim atau bukan. Kemanusiaan kita yang maju lebih dulu, bukan keimanan.

Palestina mestinya dihormati dalam batas ini. Bukan untuk menjadi imam tarawih. Seolah-olah dewanya dewa, ulamanya ulama. Untuk jadi imam satu masjid okelah, demi penghormatan terhadap tamu. Berani-beraninya mereka menjadi imam beberapa masjid Jakarta. Sudah ditest wudlu yang benar belum mereka itu?

Anies tahu pelanggaran etika ini, tapi ia pura-pura bloon. Anies sedang jualan politik. Dagangannya disesuaikan dengan kadar kecerdasan pembelinya. Yang alhamudlillah rata-rata dungu. Ia sengaja menawarkan nama Palestina. Membuat framing ulama sana jauh lebih hebat dari kia dusun Indonesia.

Gubernur yang gagal mengurus Jakarta itu sedang melakukan manuver politik. Ia membungkus ketidak-becusananya itu dengan simbol agama. Permainannya cantik, Anies tidak menggunakan simbol itu pada dirinya. Kalaupun ada sekadar syal bergambar bendera Palestina. Yang dia gunakan adalah simbol di luar dirinya. Ulama-ulama dari Palestina itu salah satunya.

Orang kita takjub dengan istilah kehabiban. Mereka tercengang-bengang dengan budaya Arab. Menyebutnya wajib. Padahal tidak demikian. Jubah, jilbab dan memanjangkan jenggot hanya kebudayaan Arab. Tidak lebih dari itu. Jikapun ada nilai ibadah, karena hal itu baik. Semua hal baik bernilai ibadah.

Ahli agama kita, yang juga seorang habib bernama Quraish Shihab telah menyebut dengan lantang, jilbab tidak wajib. Apalagi hanya jenggot dan jubah. Tapi lihatlah di kampung-kampung, jilbab dianggap wajib, bahkan oleh kultur NU dan pemuja kehabiban. Nama Quraish Shihab yang ahli tafsir dan seorang habib dicoret. Dianggap sesat.

Orang-orang kita, senang jadi konsumen kebudayaan Arab. Dengan label wajib dan ditakut-takuti neraka, mereka "menyembah" kebudayaan Arab itu. Menganggapnya lebih agung dari kebudayaan Nusantara. Cis, rendah dan dungu sekali anggapan mereka.

Menghadapi orang-orang dengan mental kegetan, gumunan, ndlongopan itulah, Anies menjual dagangan politiknya. Sekelompok orang berjubah dengan jenggot panjang menggusur kiai-kiai Jakarta. Yang digusurpun bangga. Tidak ada protes. Karena ada embel-embel Palestina. Betapa tololnya mereka Yang Mulia...

https://seword.com/umum/jualan-anies-baswedan-b0ih-f_ct

Kajitow Elkayeni

Thursday, May 9, 2019 - 07:45
Kategori Rubrik: