Jowo Ilang Jawane

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Persekusi saat hajatan 'Midodareni', malam sebelum pernikahan, keluarga Habib Umar Assegaf di Solo, Sabtu Malam kemaren, sungguh membuat 'roso' ke-Jawa-an saya teriris-iris. Sekaligus menindih pepat 'rasa' ke-Islam-an saya . . .

Roso ke-Jawa-an yang saya tangkap. Rasa ke-Islam-an yang saya pahami.

Tak sekali dua kelompok yang klaim diri mereka 'sarngi', beraksi atas nama agama, Islam. Dalam bentuk kata suara, ragam tulis dan gambar, bahkan gerak nyata.

Mendesak, menindih, bahkan menghancurkan kelompok yang lain, yang tidak sepaham dengan mereka. Dan sedihnya, tak ada satu kelompok pun yang dinilai sama dengan mereka. Jadi siapa pun akan digilas habis oleh mereka . . .

Yang non muslim, diteriaki dengan ganas sebagai 'kafir', oleh sebab iru halal darahnya. Lalu tumpas habis.

Yang Muslim, karena tak sama dalam penafsiran, atau dinilai 'menyerupai' kafir, tak lagi cukup cuma disebut dengan 'bid'ah', dicari padanan kata lain agar bisa menjadi sah 'halal' pula darahnya. Sikat habis juga.

Ke-Jawa-an yang saya mengerti itu laiknya sebuah samudra yang luas. Apa saja mampu diserapnya, tanpa mengubah 'jati-diri'nya.

Lihat saja bentuk alas kaki 'Selop'. Sepatu milik eropa yang menyulitkan langkah saat masuk keraton atau mesjid, dipotong sisi tumitnya.

Jas 'londo' pun di utak-atik, dibikin 'lubang' di sekitaran pinggang, agar bisa 'nyengkelit' keris, 'ageman' resmi suku Jawa.

Dan banyak lagi . . .

Tidak 'yang datang' saja yang perlu direkayasa agar berbau Jawa. Seperti jas dan sepatu tadi, tapi juga 'diri' mereka sendiri, kalau perlu.

Awalnya dulu, orang Jawa sudah punya 'agama' sendiri. Termasuk 'Kejawen' atau apa saja sebutannya. Kalau di tatar Sunda semacam 'Sunda Wiwitan'.

Agama Budha datang disambut. Datang lagi Hindu, ini pun dirangkul. Islam menyusul, ini pun dipeluk. Tak ada yang datang langsung ditunjang, dibuat tunggang langgang mbalik ke tempat asalnya. Tak ada yang tiba langsung dicerca, agar malu hati lalu pulang juga ke kampungnya.

Penuh 'adab', dan demokratis, dalam arti siapa pun yang mau boleh ikut. Juga penuh Percaya Diri . . .

Majapahit, yang ada di Pulo Jawa, tegaskan itu. Bhinneka Tunggal Ika, janji mereka. Maka terhadap Islam yang datang belakangan pun di beri nya tempat dan waktu . . .

Raden Patah disediakan 'Glagah Wangi' yang awalnya sebuah pesantren, berkembang jadi sebuah kerajaaan, Demak Bintoro.

Raden Rahmat diberi 'Ampel Denta' untuk tempatnya mengajar. Yang nantinya jadi pusat penyebaran Islam di Jawa.

Dulu sekali, Orang Islam dengan 'Roso Jowo', atau Wong Jowo yang Islam, membalas semua perlakuan 'tuan-rumah'nya dengan cantik dan penuh adab. Roso Jowo nya yang bak samudra menuntun dan membimbing perilaku itu.

Sunan Kudus, yang notabene 'orang Asing' karena dari jazerah ngArab, pun menjadi Jowo. Di daerah tempat beliau sebarkan Islam, warganya tak diperkenankan sembelih sapi. Cuma untuk hormati warga Hindu, si 'tuan rumah'.

Bahkan bentuk2 gapura yang model ke-Hindu2-an dengan santai tetap 'dilekatkan' dalam mesjidnya.

Kalau sempat bertandang ke mesjid2 di Jawa, Tengah dan Timur, banyak kita temui langkah 'adaptif' semacam itu. Di mesjid Mantingan, Jepara, meski banyak ornamen ndak ada bentuk mahluk binatang. Yang konon dilarang dalam Islam.

Namun mesjid Demak, di mihrab, tempat imam sholat, malah nempel dengan santainya ornamen bentuk binatang mirip kura2, tepatnya 'Bulus' . . .

Atap mesjid pun dibuat tumpang, Susun Tiga. Bukan bentuk kubah. Konon berarti Islam, Iman, dan Ihsan.

Bahkan lebih dalam lagi, dipuncak terpasang bentuk 'mustoko'. Mahkota atau Kepala. Sehingga bentuk atap pun menyiratkan urutan 'pemahaman' Islam, nurut wong Jowo, setidaknya yang dipahami oleh mereka. Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat . . .

Wong Jowo Ilang Jawa ne ?

Tempohari kami berdua jalan2 ke kota2 Jawa Tengah pesisiran, Semarang, Demak, Kudus, dan Jepara,

Ada fenomena yang saya tangkap. Mesjid2 beratap susun tiga masih ada, bahkan yang pakai mahkota. Namun mesjid2 baru semua sudah pakai atap kubah warna-warni. Bahkan mesjid lama yang atap susun tiga, posisi mahkota, mustoko, diganti juga. Dengan bentuk kubah dari bahan aluminium. Ngêjrèng. Berkilat bikin 'bunar', bikin silau.

Saya sebut, bergurau dengan istri, model atap kubah adalah mesjid 'Ngacêngan'. Karena mirip bentuk 'anu' . . .

Nyaris juga ndak nemu lagi ibu2 yang pakai kebaya dan kain jarik. Baik di pasar, jalan, atau kerja di sawah. Nyaris semua pakai jilbab. Ada juga yang brukut, panjang tertutup, dan warna hitam . . .

Wong Jowo Ilang Jawa ne ?

Embuh juga. Yang jelas sepanjang perjalanan kami tempohari nampak, para wanita, tua-muda, ditutupi brukut. Mungkin pada takut pada para lelaki Jawa yang sekarang lebih 'ngacêngan'.

Di tandai dengan makin banyaknya mesjid beratap kubah yang 'ngacêng'. Yang juga dengan bangga di beri corak warna-warni. Mengkilap. Narsis, pada kelaminnya.

Jadi ndak heran kalau sedekah laut di pantai selatan di obrak-obrak. Juga hajatan Habib Umar di Solo, Midodareni, dipersekusi. Oleh Wong Jowo justru di tanah Jowo . . .

Wong Jowo yang wwk wk wk . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Monday, August 10, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: