Jonru Memang Beda

Oleh: Aldinsyah Vijayabwana
 

Nah, inilah tulisan pertama saya sebagai Pakar Jonru, mengikuti jejak Alifurrahman yang menjadi Pakar Mantan. Tulisan ini adalah penjabaran dari lucu-lucuan yang saya tulis tadi mengenai post Jonru, yang gambarnya saya lampirkan lagi.

Bicara soal Pilkada DKI, yang heboh saat ini sebenarnya adalah soal Pak Mantan yang gagal move on dari post-power syndrome, dan membawa-bawa anaknya yang (dianggapnya) potensial untuk ikut mempertahankan trah Cikeas. Eh, tetapi, di mana Jonru berpihak? Ini yang akan saya bahas, karena saya takut melampaui kewenangan saya untuk membahas seputar Pak Mantan, yang sudah jadi wewenang om Alifurrahman

Pakar Jonru ketika melihat status ini, tertawa sejenak lalu mengernyitkan kening. Ya, tulisan konspiratif ini sudah biasa. Ingat waktu Jonru membahas PKI ala Kivlan Zen, atau ketika Jonru sok-sokan mengeluarkan tuduhan tentang ibu kandung Jokowi? Makanya, mari kita bedah pernyataan Jonru ini.

Dari paragraf pertama, kelihatan bahwa Jonru ini masih terkena 'post-Pilpres syndrome' alias gagal move on. Jonru masih memosisikan bahwa pemerintah sekarang itu pemerintah yang serba buruk, antek aseng, penjual negara, ada sembilan naga, dan isu-isu lain yang bagi Pakar Jonru, itu kantong sampah. Bagi Jonru, hanya pemerintahan Ridwan Kamil dan Aher yang 100% lurus. Sebenarnya itu dalih, melihat KMP alias KaMPret sudah tinggal Gerindra dan PKS, dan gaungnya sudah tidak kedengaran lagi di ajang perpolitikan nusa bangsa.

Jonru mengatakan 'jangan terkecoh' di akhir itu, maksudnya adalah mengawali isu yang dia hembuskan di akhir statenent ini. Jonru membangun ulang dulu persepsi bahwa pemerintah sekarang adalah pemerintah yang serba buruk dan selalu salah. Jonru memosisikan pemerintah seperti laki-laki yang selalu salah. Masalahnya, hanya cewek yang selalu menyalahkan laki-laki. Ingat, cewek, bukan perempuan atau wanita.

Paragraf kedua dan ketiga ini menunjukkan kecerdasan dan kelicikan Jonru dalam membangun opini. Jonru tahu, mayoritas orang berpendapat bahwa anaknya Pak Mantan belum siap untuk berpolitik dan punya karir bagus di militer. Dia ikuti itu.

Nah, sebagai Syaikhul Fitnah Al Hoaxi, Jonru memberikan analisis terbesarnya di paragraf terakhir. Pendapat Jonru, telah terjadi deal antara petahana (Ahok-Djarot) dengan Koalisi Kekeluargaan. Arahnya Jonru, masyarakat bahlulnya meyakini bahwa Pilkada DKI 2017 ini dimenangkan Ahok-Djarot secara curang terselubung. Ahok dan pengusungnya mengatur agar Koalisi Kekeluargaan mengajukan calon yang jauh di bawah Ahok sehingga Ahok dengan mulus menang Pilgub.

Hehehe, Jon, kamu lupa bahwa saat ini hasil kerja Ahok selama kamu nyinyir itu telah memberikan bukti nyata. Banjir mulai tertangani dengan baik, meskipun di beberapa titik masih kurang baik. Pelayanan publik makin oye, ndak tahu Jonru memanfaatkan atau nggak. Ah iya, Jonru kan nggak pernah nongkrong di portal media selain PortalPiyungan atau sejenisnya, jadi tahunya cuma demo-demo tolak Ahok yang jauh lebih kecil daripada keseluruhan pendukung Ahok. Efek demo tolak Ahok itu kalah jauh daripada Tolak Angin.

Elektabilitas Ahok masih cukup tinggi. Dibandingkan figur-figur lain, Ahok masih terlalu dominan untuk dikalahkan. Bukan saya jadi Tuhan, mengatakan Ahok pasti menang, tetapi, in fact kerja nyata Ahok dinikmati masyarakat. Masyarakat Jakarta sudah berotak 3D, sudah tahu mana yang kerja beneran.

Kedua, nggak mungkin banget PDIP deal sama Demokrat dkk. Pak Mantan mana mau damai sama Nyonya Besar, eh, kebalik ya :D. Lagipula, deal seperti ini sangat rawan bagi kelangsungan ambisi politik Pak Mantan. Eh, kesasar bahas Pak Mantan lagi.

Analisis Jonru yang dangkal ini sama dengan tuduhan Jokowi menang curang, bapaknya Jokowi itu PKI, ibunya Jokowi bukan ibu kandung, Sumber Waras lahan korupsi Ahok. Memang beda, dan analisisnya 'kelas tinggi'. Kelas tinggi, karena tanpa latar belakang, permasalahan, hipotesis, eksperimen dengan bukti memadai, bisa keluar kesimpulan. Bah, kemarin diskusi kasus saya sekelompok ditegur dosen tutor karena menyimpulkan tetapi buktinya kurang memadai.

Jonru cuma mau menyampaikan bahwa "Ahok itu pasti salah! Semua salah Ahok!"

Harus Pakar Jonru akui bahwa Jonru ini pintar memilih kata. Dengan membawa-bawa kata wallahu a'lam, Jonru bisa dengan mudah berkelit ketika ada kasus. Bisa saja Jonru berkelit "Ya kan sudah saya tulis wallahu a'lam, berarti saya cuma iseng berasumsi dan Allah lebih tahu. Asumsi lain-lain itu kan persepsi pembaca,".

Jon, nggak kasihan sama Tuhan to, kamu ajak-ajak berpolitik, itu pun berperan jadi setan juga!

 

(Sumber: Facebook Aldinsyah V)

Friday, September 23, 2016 - 20:45
Kategori Rubrik: