Jonru dan si Pemakan Mayat

 
Oleh: Laura Irawati
 
Sewaktu saya masih tinggal bersama orangtua dulu, Bapak punya kegemaran menyetel kaset ceramahnya KH Zainudin MZ selepas shalat Subuh. Suara yang keluar dari tapedeck begitu kencang, membangunkan kami anak-anaknya. Karena itu sudah menjadi menu rutin setiap paginya, materi ceramah Pak Kiai tertanam kuat di benak saya. Gaya ceramah Pak Kiyai yang jenaka dan sarat kisah-kisah agama, lama kelamaan membuat saya menyukainya dan hapal.
 
Ada sebuah kisah dari Pak Kiyai yang saya sangat suka. Kisahnya tentang seseorang yang setiap hari menghina Nabi Muhammad SAW. Orang tersebut selalu menunggu di lorong yang biasa dilalui Nabi. Saat Nabi lewat, dia memanggil dengan kata-kata hinaan sambil meludahi wajah Nabi. Demikian ia lakukan terus menerus setiap harinya. Akan tetapi, Nabi hanya mengusap air ludah di wajahnya tanpa kemarahan atau keinginan untuk membalasnya.
 
Hingga pada suatu hari, seperti bisanya Nabi berjalan melalui lorong itu. Tapi hari ini tak didapatinya si penghina tersebut. Nabipun bertanya-tanya dalam hatinya, kemana gerangan orang yang selalu
meludahi mukaku?
 
Bertanyalah Nabi kepada orang-orang di sekitar. Akhirnya, seseorang memberitahu kepada Nabi bahwa si penghina tersebut sedang jatuh sakit. Nabipun bergegas pergi ke rumah orang itu.
 
Sesampainya di rumah orang tersebut, si penghina terkejut melihat yang datang menjenguknya adalah orang yang setiap hari ia ludahi mukanya. “Mau apa kau kemari?”
 
“Aku datang untuk menjengukmu, Saudaraku. Sebab aku mendengar kabar bahwa engkau sedang sakit,” jawab nabi dengan lembut.
 
Si penghina takjub mendengar jawaban Nabi. Dengan nada haru ia berujar: “Wahai Muhammad, ketahuilah bahwa sejak aku sakit, tak seorang pun datang menjengukku. Bahkan Abu Jahal sekalipun, yang telah menyewaku untuk memfitnahmu dan menyakitimu. Padahal aku telah beberapa kali mengutus orang kepadanya agar ia segera datang memberikan sesuatu kepadaku. Namun engkau, yang telah aku sakiti selama ini dan kuludahi setiap hari, justru datang menjengukku.”
 
Demikian kisah yang saya ingat dari ceramah Pak Kiyai, belasan tahun yang lalu itu. Dan kisah inspiratif Pak Kiyai tersebut mudah-mudahan tidak ada relevansinya dengan maraknya tulisan kompasianer akhir-akhir ini yang mengulas tentang Jonru.
 
Siapakah sosok fenomenal Jonru?
 
Saya tidak mengenal Jonru, Saya juga tak pernah membaca status-status di fanpage-nya di Facebook. Tapi, dari ulasan-ulasan teman, baik di Kompasiana maupun media lainnya, sosok Jonru begitu fenomenal. Dia dikenal sebagai orang yang suka menghina dan menebar fitnah, khususnya kepada presiden, sehingga dianggap dapat menimbulkan perpecahan pada kehidupan berbangsa negeri ini.
 
Penasaran, saya pun browsing tentang sosok fenomenal tersebut. Sebenarnya tak ada yang menarik pada status-status di fanpage-nya. Dia tak lebih seperti updater FB lainnya. Hanya saja saya harus akui kalau Jonru memang fenomenal. Itu saya lihat dari ribuan orang yang me-like dan berkomentar di setiap statusnya. Apakah yang me-like itu manusia atau engine? Wallahu a’lam.
 
Dibandingkan statusnya, saya malah lebih tertarik dengan komentar-komentar di bawahnya. Misalnya, ketika Jonru menulis:
 
"Orang yg paling layak dikasihani adalah mereka yang cinta buta dan membela mati-matian seorang penipu, dan tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang dibodohi."
 
Siapa yang dimaksud dalam statusnya itu saya tak begitu paham. Ada yang berkomentar lucu menanggapi statusnya itu:
 
"Wes to...ojo ribut..itu status dibuat pak jon untuk dirinya sendiri...yg patut dikasihani karena terlibat cinta buta dengan junjungannya...yg ternyata selama ini pak jon sdh menipu dirinya sendiri ...sebenernya dia itu mohon dikasihani...yo wes pak saya kasihan loh sama sampeyan ini...mari kita kasihani dia....teman teman."
 
Kalaupun Jonru benar seperti apa yang dituduhkan oleh banyak orang, bahwa dia sosok penghina dan penebar fitnah, kita memang patut kasihan kepadanya. Sebab orang yang suka memfitnah, seperti yang disampaikan dalam ceramah Pak Kiyai di atas, adalah orang yang suka memakan bangkai atau mayat saudaranya.
 
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat:12)

 

Sumber: Kompasiana
Thursday, January 7, 2016 - 06:15
Kategori Rubrik: