Jokowian Garis Keras

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Sebagaimana dengan Koh Ahok, saya juga tak pernah bertemu dengan Pak Jokowi, apalagi selpi bareng. Tetapi dari dulu, sejak Pak Jokowi menjadi walikota di Solo, Jawa Tengah, saya sudah "jatuh hati" kepadanya. Waktu itu, saya berpikir: "Kayaknya orang ini bagus dan serius menjadi pemimpin beneran yang peduli pada rakyat banyak".

Maka sejak itu, saya amati perjalanan karir politiknya yang sangat fenomenal. Sejak itu pula saya diam-diam menjadi "Jokowian" karena Indonesia memang paceklik pemimpin yang benar-benar mau "ngurus rakyat." Kalau pemimpin yang demen "ngurus amplop" eh kardus maksudku sih segambreng jumlahnya.

 

 

Karena kepincut dengan gaya kepemimpinan dan prestasi Pak Jokowi, maka ketika Pilpres tahun 2014, saya milih dia (waktu itu saya ikut nyoblos di Kupang karena kebetulan sedang ada acara mengajar sebagai "dosen tamu" disana).

Bukan hanya milih Jokowi saja tetapi juga ikut aktif kampanye di dunia maya untuk pasangan Jokowi-JK dan "menggembosi" Prabowo-Hatta. Padahal waktu itu, tidak seperti sekarang, pasangan Prabowo-Hatta didukung oleh banyak parpol dan tokoh agama. Tapi saya tak peduli, saya tetap obrak-abrik paslon Prabowo-Hatta.

Jadi, 2014 adalah tahun pertama kali saya milih di ajang Pilpres. Sebelumnya, saya selalu setia dan militan menjadi golput. Meskipun banyak orang kala itu, tahun 2004, memuja-muji SBY sebagai "satria piningit" yang akan membuat dan membawa Indonesia pada kejayaan yang makmur gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem lan raharjo, saya tetap tidak percaya SBY.

Waktu itu, saya sama sekali tidak tertarik dan tidak melihat kualitas dan prestasi SBY. Calon-calon presiden lain seperti Bu Mega atau Pak Wiranto, juga tak mampu meyakinkan diriku. Oleh karena itu, dua kali Pilpres yang mengantarkan SBY menjadi Presiden RI (2004 & 2009) itu, saya golput mania.

***

Saya menjadi "Jokowian militan" sama sekali bukan untuk sebuah jabatan (menjadi menteri, dubes atau pejabat ini-itu) atau untuk mencari sesuap nasi (supaya dapat proyek ini-itu).

Siapapun presidennya, sama sekali tidak mempengaruhi rizeki dan karir akademikku karena saya bukan PNS, pejabat, petugas partai, atau pengurus ormas dan LSM yang suka mencari proyek dari pemerintah. Dari dulu saya bekerja di Luar Negeri (Amerika, Singapura, Saudi), baik sebagai dosen maupun peneliti. Dan saya menikmati profesiku.

Saya menjadi "Jokowian" karena saya sungguh berharap Indonesia kelak menjadi negara besar dan makmur yang dihargai martabat dan kebesarannya di berbagai belahan dunia.

Saya ingin rakyat Indonesia berdiri tegap dan bisa bangga menjadi "orang Indonesia".

Saya ingin kekayaan alam Indonesia yang melimpah-ruah ini betul-betul dikelola dengan baik dan digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat dan kepentingan bangsa dan negara, bukan untuk kemakmuran dan kepentingan para konglomerat rakus, politisi busuk, dan birokrat korup bermental garong.

Saya ingin negara Indonesia yang kaya raya dengan khazanah spiritual, kultural, dan intelektual ini terawat dengan baik dan lestari.

Saya ingin bangsa Indonesia yang sangat majemuk ini tetap hidup rukun-harmoni berdampingan dengan damai dan toleran saling menghargai kekayaan, keunikan, dan karakteristik masing-masing etnis, suku, dan agama.

Itu saja.

Hingga kini saya masih percaya Pak Jokowi bisa membuat Indonesia akan lebih baik di kemudian hari dan mampu menjawab dan mewujudkan kegelisahan dan keinginanku di atas.

Oleh karena itu, tahun 2019 nanti saya akan tetap memilih beliau. Saya tak peduli, siapapun wakilnya, saya akan tetap memilihnya. Jangankan seorang Kiai Ma'ruf, Pak Jokowi berpasangan dengan kardus pun tetap akan saya pilih.

Meskipun saya kecewa dengan pilihan cawapresnya, saya akan tetap menggunakan hak pilihku untuk memilih Pak Jokowi, bukan lantaran pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin itu yang terbaik tetapi lebih karena pasangan ini yang saya nilai paling minim keburukannya.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Sunday, August 19, 2018 - 22:30
Kategori Rubrik: