Jokowi VS (dan?) Fundalisme

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Snajzd Model memberi kita perspektif baru dalam apa yang disebut Pembentukan Opini (opinion formation). Itu model matematika Katharina Snajzd. Ia seorang fisikawan sosial (sociophysicist) sekaligus penggumul teori Kompleksitas. Jika saya urai, model tersebut akan terasa sangat teknikal, menyita halaman, bakal di-skip para pembaca.

Gampangnya begini. Masukkan 2-3 orang (jumlahnya bisa dihitung dengan menggunakan Snajzd model), yang kita sebut agen, ke dalam kerumunan orang di sekitar Bundaran Hotel Indonesia. Pada saat yang disepakati, 3 agen tersebut mendongak ke langit dengan tangan teracung ke atas menunjuk satu arah. Dapat dipastikan sebagian besar dari kerumunan akan melihat ke arah yang sama. Jumlah orang yang ‘mengekor’ dapat dihitung. Dan untuk memaksimakan hasil, banyaknya agen bisa disesuaikan.

Saya menduga model Snajzd sudah digunakan dalam pertarungan gagasan di dunia politik, komunikasi pemasaran, dan pembentukan kebijakan publik. Kita tak merasakannya tapi ia ada di mana-mana. Anda tak bisa mencegah karena ia lahir dalam alam yang kita sebut demokratis. Itu tak bisa dilarang jika Anda tak mau disebut fundamentalis. Itu tak bisa dikonter karena berhubungan dengan simpul refleks manusia. Sekali para agen menyelusup ke kerumunan dan dengan serempak membuat sebuah gerakan, seisi kerumunan terbius.

Keganjilan dalam hasil Pemilu di Amerika Serikat, yang memunculkan Donald Trump sebagai Presiden, membuka kecurigaan. Opinion formation di Inggris, yang mengantar mereka beranjak keluar dari komunitas Eropa (Brexit), menerbitkan kekuatiran. Media menyebut sekian ratus juta data pengguna Facebook disedot Cambridge Analytica. Tak mengejutkan bahwa sekian puluh juta darinya adalah warga AS. Sebagian lagi warga Inggris. Sebagian lagi…., Indonesia.

Dengan menggunakan Snajzd model Anda tidak butuh seratus juta orang untuk mengubah opini rakyat Indonesia terhadap sesuatu. Sekian juta data yang disedot CA sudah jauh lebih dari cukup. Tapi bagaimana cara mereka bekerja? Sekian juta orang itu bukan Agen.

Betul. Tapi aliran berita dalam newsfeed di laman mereka, aliran status-status orang di timeline, bisa diatur dengan algoritma tertentu untuk membentuk haluan berpikir si “calon agen”. Dengan giringan itu perlahan-lahan mereka akan berseide dengan gagasan handler (orang yang menata mereka di belakang layar). Semua diatur sedemikian mekanis, sedemikian transfiguratif, sehingga pada saat yang dimau kelak bisa digerakkan untuk “mendongak dan mengacungkan tangan ke langit”.

Siapa dari kita tak bingung mendapati bahwa mencari resto non-halal di London lebih sukar daripada mencari resto halal. Secara demografis masyarakat Kristen di sana masih yang terbanyak. Populasi muslim cuma 12.4%. Tapi Anda tak bisa memungkiri data perubahan preferensi pemilik resto: menyediakan makanan halal ketimbang porki. Dan untuk ukuran Inggris, perubahan drastikal akan datang lebih cepat. Populasi muslim sudah mencapai 21%. Kelompokan orang berjilbab, berburqa, bercelana cingkrang dan berjanggut, di tengah kerumunan massal, adalah pemandangan sehari-hari.

Mereka tidak membaur. Mereka hidup berkelompok di pemukiman-pemukiman tertentu. Saat berada di resto, mereka duduk mojok berceloteh satu sama lain. Anda tak bisa menahan mata untuk tidak melihat ke arah mereka. Snajzd Model menampakkan pewujud-nubuatan dengan cara paling sederhana.

Opinion formation akan berlangsung jauh lebih cepat jika gerakan ini memiliki beberapa super agent. Mengalirkan status, ciapan, celoteh, rekaman video, para super agent ke timeline calon agen adalah cara terampuh untuk memendek waktu pertumbuhan. Dengan itu pesan yang dialirkan bisa bernarasi terbuka, langsung ke tujuan, dan dengan cepat membangun keserempakan.

Joko WIdodo tahu persis potensi kerusakan yang ditimbulkan gerakan semacam ini. Menegkominfo dengan cepat memanggil perwakilan Facebook di Jakarta. DPR langsung menjadwalkan hearing dengan mereka. Hasilnya? Facebook berjanji selekas menindaklanjuti temuan tersebut.

Tapi, satu tak bisa disangkal: kelompok ini sudah tumbuh. Menghalang algoritma yang dipasang para handler adalah satu cara. Tapi tak ada yang tahu seberapa jauh keseragaman telah terbentuk. Mereka dengan mudah berpindah dari Facebook ke WA atau Telegram. Untungnya di sana tidak ada timeline yang mengalirkan status atau ciapan teman-teman. Satu kemungkinan tersisa: penyebaran konten super agent.

Berperang secara terbuka dengan para super agent selama 8 (delapan) bulan masa kampanye adalah tindakan super tolol. Itu sama saja dengan menciptakan panggung. Dikibas narasi suci, api menjalar lebih cepat. Ledakan cuma bersisa hitungan pekan. Cara lain harus ditempuh.

Dan itulah yang dengan dingin, santun, tapi keji, dilakukan Joko Widodo. Pertama, dia menyiapkan Undang-Undang Anti Terorisme sebagai jala. Berikutnya, 'pendekatan’ dilakukan. Habib Rizieq masuk ke dalam ketiak. Lalu Tuan Guru Bajang. Dari sana berlanjut ke AA Gym, dan kemudian Ustad Somad. Kemarin kita dengar pengacara Rizieq telah didaftarkan PDIP sebagai caleg. Semua berlangsung secara masif dan terstruktur.

Kekuatan mereka hancur. Para juragan terperangah. Dalam kepanikan mereka berulangkali ganti strategi. Rentangnya tak panjang, berlangsung dalam hitungan hari. Hari ini si A dijagokan sebagai capres, besok berganti ke B, keesokan hari kembali ke A. Kecemasan merajalela.

Bukan cuma tegas, Joko Widodo membunuh musuh-musuhnya secara sadistik namun dengan dingin dan berulas senyum. Kemarin, melalui Pramono Anung, dia berkata bahwa pengumuman cawapres akan dilakukan pada hari terakhir masa pendaftaran. Bisa jadi di jam terakhir.

Anda boleh saja berteriak, memrotes, berkaok-kaok mirip orang sakaw, menuduh Joko Widodo telah bertindak dengan cara yang tidak demokratis, dengan kelihaian seorang fundamentalis. Kenapa tak membiarkan seluruh gagasan bertarung di arena terbuka, teriak Anda meracau.

Goblog. Itu pertarungan tidak seimbang. Yang satu masuk ke gelanggang dengan pikiran naif dan terbuka, yang satu datang dengan pikiran tertutup berlandaskan impuls yang sudah diprogram. Kita tak bisa menyerahkan masa depan Indonesia ke pertarungan model itu. Karenanya saya paham akan upaya yang sedang dilakukan para elit untuk mengembalikan dasar negara ke bentuk semula dan murni. Pertarungan tolol harus dihindarkan.

Dunia sudah berubah secara cepat. Kita tak pernah tahu apa yang kita makan siang ini. Boleh saja Anda sudah membayangkan sepiring gado-gado. Tapi sekian detik saat tiba di konter, sebuah pesan masuk ke gadget, tak berhubungan dengan makanan. Detik berikutnya Anda menyebut Capcay kepada gadis di depan Anda.

Ada tangan-tangan tak kelihatan yang mengarahkan pikiran Anda.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Saturday, July 21, 2018 - 19:00
Kategori Rubrik: