Jokowi, Ulama dan Para Durjana

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Membaca buku Gusmus, membalik halaman tentang pengertian ulama, walau selama ini ada beberapa penggalan pengetahuan, tapi jujur sekedar dipermukaan. Terusik juga setelah orang-orang kelasnya entah dari mana tiba-tiba mendapat gelar itu, tersemat tiba-tiba karena ybs akan di dapuk untuk berkuasa, adalah Sandiaga S.Uno misalnya, mendapat gelar ulama dari PKS dan Amien Rais. Sedangkan para pemberi gelar banyak melakukan tindakan yg bertolak belakang dengan moral dan agama, absurd.

 

 

Ulama, gelar yg lazim disematkan kepada pemuka agama yg berilmu mumpuni, ternyata menurut Gusmus tidak sekedar tau ilmu agama, tapi ybs harus benar melakukannya, ditambah lagi ilmu-ilmu yg lain. Penyandang gelar ulama harus berwawasan kebangsaan, adil, merakyat, dan sosok tauladan buat keluarga dan orang lain, tuturan katanya bisa menyejukkan dan tidak memihak, netralitasnya harus lahir dari pikiran dan ucapan, menjauhan kepura-puraan yg menyesatkan.

Contoh-contoh ulama kharismatik dari Indonesia begitu banyak pada zaman-zaman sebelum kemerdekaan, sampai zaman pergolakan Indonesia berikutnya. Menyusutnya ulama dimulai sejak era Soeharto, meredam ulama yg mengkritiknya, yg berseberangan dengannya, dihabisi semua. Indonesia zaman itu menjelma sebagai negara tiran yg luarbiasa kejamnya. Ulama-ulama kharismatik seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Achmad Dahlan, KH. Syech Hamid, ,dan Wali Songo, Kini yg ada bisa dihitung jari, mereka KH. Gusmus, Prof. Quraisy Shihab, Buya Syafi'i Maarif, KH. Nazaruddin Umar, dll. Peletak pondasi keislaman di Indonesia. Jejaknya menjadi langka untuk diteruskan karena ulama yg ada sekarang adalah ulama Suu' ( ulama duniawi ) yg merapat ke penguasa, menjauhi masyarakat, kalaupun dekat harus ada " syarat ", dan kemeringet kalau mau jadi pejabat, buat hajatan dan syukuran saat terpilih, di OTT KPK dengan senyum renyah. Ini ulama atau srigala.

Contoh zaman Muawiyah, muncullah manusia kelas utama yg dikirim Allah untuk membenahi carut marut sebuah negara. Dialah Umar Bin Abdul Aziz, cicit buyutnya Umar Bin Khatab. Umar Bin Abdul Aziz, adalah sama pada awalnya seperti penduduk pada umumnya, menikmati indahnya dunia dan merengkuh isinya. Tapi bila TUHAN berkehendak KumfayakumNya menyadarkan Umar untuk merubah kondisi pemerintahan yg sudah dibibir jurang kehancuran, baik akal, maupun akhlak penghuninya.

Membayangkan Jokowi, manusia bantaran kali, yg akrab dengan kemiskinan, terbiasa dengan lapar dahaga, namun hati dan prilakunya tertata. Allah mengutusnya ditengah Indonesia yg sarat dengan maksiat, kedurjanaan pemimpin yg 42 tahun berkuasa, menguras isi perut bumi, merampok dana APBN, dan ingin menguasai pemerintahan dengan pola kerajaan, dimana anak keturunan di siapkan memonopoli dari kekuasaan sampai komisi proyek yg didesign dengan kerakusan bagaimana cara membagi dan merampoknya, dengan pura-pura baik, tapi mencabik.

Tidak gampang bagi Jokowi, ibarat berjalan, dia sendiri dijalan sepi, karena keramaian cuma ada pada wilayah bagi-bagi dan bagaimana cara mencuri. Jokowi dengan kebaikan dan menjalankan kebenaran pasti menjadi musuh abadi dari para pencuri. Jokowi menjadi target untuk dihabisi, tapi berkali-kali Tuhan melindungi dan dia terus berjalan kedepan untuk membasmi para musuh negeri. Isu PKI, China, Agama, dia lalui dengan seksama dan dalam tempo yg sesingkat-singkatnya, bahkan grand design pemakzulan dia kibaskan, hoaks penganiayaan dia hadapi dengan dingin dan sepi, seperti kasus-kasus lainnya, kelak berujung pada kemusnahan membakar diri pelakunya sendiri.

Ratna menelanjangi dirinya dan kawan-kawannya. Mereka berusaha melawan dengan jalan melempar fitnah, caci maki seperi biasanya, karena itulah keahlian mereka. Keahlian para durjana bermuka manis sekaligus bengis, memakai topeng agama, melakukan upaya penghancuran negara. Jujur sebenarnya manusia-manusia murah ini harusnya musnah sebelum merugikan bangsa dan negara, karena kelas mereka lebih rendah dari sampah yg tidak bisa dipilah, dan tidak bisa didaur ulang menjadi barang bermanfaat, mereka sudah berkarat, cepat atau lambat mereka akan sekarat. Zuulkhatimah kata para ulama, nauzhubillah..mati dalam kesia-siaan yg prima.

ALLAHLAH YG MEMBERIKAN KEKUASAAN, DIA PULA YG MENARIK KEKUASAAN. DIA YG MEMULIAKAN, DAN DIA YG MENGHINAKAN.

JOKOWI DIMULIAKANNYA UNTUK MENGEMBAN TUGAS NEGARA DAN KEMANUSIAAN, DIA BEGITU ANGGUN MEMILAH SAAT TERHARU DALAM DUKA PALU, DAN MEMBUKA ASIAN PARA GAMES BAGI SAUDARA KITA YG DISABILITY, MEJADI " ABILITY ". DAN TERBANG KE MEDAN MEMBUKA MUSABAOAH TILAWATIL QUR'AN.

#IQRA', BACALAH ATAS NAMA TUHANMU, TAMBAHKAN ILMU DIDADAMU, BUKAN KEDUNGUAN YG ENGKAU MUKIMKAN. KARENA DARI KEDUNGUAN HANYA ADA KE-IRIAN, KEMUNAFIKAN, KETIDAK PEDEAN. SERTA CACI MAKI YG TERUS MENYERTAI, TANPA BISA MENGHADIRKAN PRESTASI, BAIK UNTUK DIRI SENDIRI, APALAGI UNTUK NEGERI.

DENGAN ITU TIDAK ADA ALASAN TIDAK MEMILIH JOKOWI, DIA BUKAN WALI, TAPI JELAS DIA ORANG YG MUMPUNI, DIA UMAR BIN ABDUL AZIZ ZAMAN KINI, DIA PILIHAN BAGI PEMUDA YG KEKINIAN, BUKAN YG TERUS MEMPERODUKSI MAKIAN BAK MAKAN HARIAN, KEBANYAKAN LAUK KEPEDESAN, DAN NGOS-NGOSAN, MENABUR KEBOHONGAN, MELIRIK KEKUASAAN.

#JOKOWILAGI.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, October 10, 2018 - 16:45
Kategori Rubrik: