Jokowi Tidak Menganggap Lawan Politiknya Adalah Musuh Yang Harus Dihadapi Dengan Taktik Muslihat

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Kadang sebagian kita beranggapan bahwa pihak yang berseberangan adalah musuh Jokowi dan berharap Jokowi menghadapinya dengan kebencian dan permusuhan. Itu tidak tepat. Masalah HRS itu murni masalah hukum. Kebenaran yudicial adalah kebenaran hukum yang belum tentu sama dengan kebenaran filosopi dan dogmatis. Belum tentu sama dengan kebenaran sosiologi atau kebenaran kultural. Kalau sampai HRS tersangkut hukum, itu hanya masalah hukum. Dan kalaupun akhirnya dia dinyatakan bebas dengan keluarnya SP3 dari Polisi , itupun bebas karena hukum. Soal lainya itu antara HRS dan Tuhan. Itu antara HRS dengan masyakarat. Negara tidak punya ruang mengadili soal persepsi masyarakat dan keadilan Tuhan.

Seorang teman pernah bertemu Jokowi ketika masih Gubernur DKI. Dalam pertemuan itu , teman saya sempat bertanya kepada Jokowi. “ bagaimana sikapnya terhadap musuhnya ? Dengan santai Jokowi mengatakan bahwa dia tidak pernah punya musuh. Yang ada hanya perbedaan pendapat. “ Saya menyimpulkan bahwa orang yang tidak menganggap orang lain musuh maka pasti dia tidak punya sifat benci. Tidak ada dendam. Pasti baginya terbuka dialogh untuk mencoba saling mengerti. Tanpa sikap rendah hati, tidak mungkin orang bisa bersikap seperti itu.Mengapa ? yang menghalangi orang berdamai karena merasa dia lebih baik dari orang lain dan orang lain lebih rendah darinya. Padahal hidup ini bukan mengekalkan perbedaan tetapi mengeliminasi perbedaan. Bukan mengekalkan permusuhan tetapi menciptakan perdamaian.

Jokowi tidak menganggap lawan politiknya adalah musuh yang harus dihadapi dengan taktik muslihat. Tidak. Dia menghadapinya dengan cinta. Dia bisa memisahkan mana ranah pribadinya , mana ranahnya sebagai presiden. Sebagai pribadi, Jokowi pasti pemaaf. Sebagai Presiden maka hukum dan UU adalah dasarnya bersikap. Makanya kalau Jokowi tidak mau intervensi hukum itu bukanlah karena sikap politik tetapi lebih kepada sikap pribadinya. Secara pribadi dia tidak punya dendam yang sehingga menggunakan kekuasaanya untuk “menghabisi” orang lain. Kalaupun orang itu akhirnya jadi pesakitan maka itu karena ulahnya orang itu sendiri. Semua harus menanggung akibat perbuatannya sendiri sendiri. Didunia maupun diakhirat.

Nelson Mandela sukses menumbangkan Rezim Apartheid dan akhirnya melakukan perubahan system kekuasaan yang lebih demokratis karena kerendahan hatinya dan menolak kekerasan dengan memaafkan orang yang menzoliminya terlebih dahulu. Mahatma Ghandi di India mampu merebut kemerdekaan India dengan menawarkan kesederhanaan dan Anti kekerasan. Tak ubahnya dengan tokoh dunia lainnya seperti ibu Teresa, Martin Luther King dan lain lain. Tapi dari 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh sepanjang masa , Nabi Muhammad ditempatkan nomor 1 karena sifat pribadinya yang sangat Agung. Para pendiri negara kita adalah orang hebat yang mengutamakan perdamaian atas dasar kebinekaan.Tidak mungkin persatuan Indonesia dapat terjelma bila satu sama lain yang berbeda saling membenci dan memusuhi.

Jokowi unggul di Jakarta untuk jadi gubernur dan kemudian jadi RI-1 karena sifat kesederhanaan nya yang membumi, bukan hanya terhadap dirinya tapi juga terhadap keluarganya sendiri. Padahal Prabowo yang telah beriklan sepanjang tahun tentang dirinya yang gagah dengan duduk diatas pelana kudanya, yang di back up oleh barisan ulama flamboyan dapat di kalahkan walau kemenangan tipis. Itulah kedahsyatan orang yang rendah hati. Sikap rendah hati adalah sikap yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Perjuangan mereka tidak lagi dilandaskan kepada kepentingan dunia tapi kepentingan dari langit. Ajaran agama bagaikan elang yang terbang setinggi langit namun membumi bagaikan induk ayam yang tak lain kecuali memberi cinta tanpa batas dan kelas.Mereka dicatat sejarah karena pribadi yang agung. Pribadi Cinta…

Kadang kita ingin mengubah dunia menjadi lebih baik. Tetapi kita lupa mengubah diri kita sendiri menjadi pribadi yang baik. Kalau masih ada sifat benci dan bermusuhan, maka jangan harapkan ada perdamaian. Yakinlah. Leo Tolstoy pernah berkata ‘Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself. Dari sosok Jokowi dari tahun ketahun kita melihat fakta dimana perubahan terjadi bukan karena acaman bedil seperti era Soeharto tetapi karena lebih mengutamakan pendekatan persuasif atas dasar cinta. Kalaupun akhirnya masuk ranah hukum maka itu adalah pilihan terakhir namun tetap saja berdimensi moral tanpa ada kesan kebencian karena alasan apapun.

 

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Sunday, October 14, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: