Jokowi Street

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Lagi viral, nama Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, diabadikan pada nama sebuah jalan di Abu Dhabi, Uni Emirate Arab. Jalan itu sebelumnya bernama Jalan Al Ma'arid.

Sebuah jalan yang 'bergengsi'. Bukan jalan kecil yang nrobos kampung menuju Pasar Kambing. Kanan kiri jalan ini Area Kedutaan dan Abu Dhabi National Exhibition Centre . . .

Ini bukan pertama kali. September tahun lalu, nama Raja Salman dari Saudi juga mendapat perlakuan sama. Dijadikan nama jalan.

Jokowi sendiri seperti biasa. Cool. Ndak perlu jingkrak2. Dia lebih memaknai sebagai tanda makin dekat dan akrabnya hubungan kedua negara. Semakin kokoh, semakin menguat, di segala bidang . . .

Segala bidang mungkin terlalu bombastis. Tepatnya banyak bidang. Tapi memang banyak sekali. Dari sektor energi, kesehatan, sampai pangan.

Nah, di bidang kesehatan ini ada yang menarik, karena berkaitan dengan pandemi Covid. G42, sebuah perusahaan di UEA sepakat untuk 'membagi' vaksin Covid, Sinovac.

Tidak itu saja, nantinya Kimia Farma, G42, dan Sinovac, sepakat kerjasama untuk pengadaan serta teknologi 'pembuatan' vaksin.

Kimia Farma itu Persero milik Indonesia, G42 ada di UEA, sedang Sinovac itu perusahaan dari Republik Rakyat China. Ini jelas aseng . . .

UEA juga ikut andil dalam pembangunan Ibu Kota baru Republik Indonesia. Yang akan ada di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam, Paser Utara, Kalimantan Timur.

Bahkan Putra Mahkota UEA, Sheik Muhammed bin Zayed, sudah ditawari jadi anggota Dewan Pengarah Pemindahan Ibu Kota baru.

Ada sosok terkenal lain yang ditawari jadi Dewan Pengarah, Masayoshi Son, pendiri Soft Bank. Bank dari Jepang ini akan ber-investasi di Ibu Kota baru, di bidang teknologi dan infrastruktur. Soft Bank ini pula yang jadi investor di awal berdiri perusahaan milik Jack Ma, Ali Baba. Ini asèng juga . . .

Jadi begitulah para 'Ho Peng', teman, relasi Cina, pada kumpul-kumpul . . .

Dari kasus Ibu Kota Baru saja, ada ras Melayu, kita yang punya gawe. Ada Arab diwakili UEA, ada Mister Son wakil Jepang.

Tentu saja akan ada ras atau bangsa lain, yang ikut kumpul-kumpul. Misal Tony Blair, Perdana Menteri Inggris 1997 - 2007, yang sudah setuju juga jadi Dewan Pengarah.

Kok bisa ya ? Ya bisa lah. Sudah fitrahnya manusia untuk bisa berkumpul. Tinggal cari 'pemicu'. Di era modern ini, pemicu itu bentuk-nya 'Kemakmuran'.

Kemakmuran itu bukan sekedar kekayaan. Ada di dalamnya 'Kebahagiaan'. Jadi ndak salah jika banyak orang yang mengejarnya.

Mengejar, meraih, mencari sesuatu, tentu lebih efektif dan efisien, jika dilakukan bersama-sama.

Untuk itulah kita berkumpul. Tak peduli apa warna kulit, bahasa, negeri, bahkan agama yang dianut.

Tentu ada yang masih 'ngeyel'. Bukankah lebih baik jika bekerja sama dengan yang se-Agama ?! Sesama muslim ?! Bukankah pula sesama muslim itu bersaudara ?!

Ya boleh-boleh saja. Asal mau dan bisa diajak jalan 'bareng', setara, seia-sekata, dan seiring setujuan. Namun ndak perlu juga selalu pakai 'Kacamata Kuda'. Jalan ndak nengak-nengok.

Mari kita ingat juga pesan Imam Ali, Sayyidina Ali bin Abi Thalib sepupu Nabi yang sering dikenal sebagai Baabul 'Ilmi, Pintu Gerbang Gudang Ilmu Pengetahuan.

Yang bukan saudara kamu se-Iman, adalah saudara kamu dalam Kemanusiaan . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Thursday, October 22, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: