Jokowi - Sri Mulyani Tahun 1998

ilustrasi

Oleh : Bambang Haryanto

Kirim uang dari Jokowi ke Sri Mulyani Indrawati di tahun 1998 kok engga kepikiran pakai transfer saja. Bukankah lebih murah? Lebih cepat?

Ketololan itu baru saya sadari di tahun 2020 ini. Karena di tahun 1998 itu saya harus naik kereta api Solo-Jakarta pp dalam 24 jam untuk membawa uang tersebut. Honor untuk ibu SMI untuk menjadi nara sumber seminar ekonomi di Solo.

Tetapi kini dalam bernostalgia, ada juga rasa manis dari ulah bodoh saya saat itu.

Di Solo, 14 Agustus 1998, mungkin menjadi momen pertama kali Jokowi mengenal Sri Mulyani Indrawati. Mayor Haristanto, adik saya, dan saya, rasanya bisa sedikit berbangga karena mampu mempertemukan keduanya.

Yakni dalam acara seminar ekonomi di Solo. Saat itu kami berdua, setelah Solo porak-poranda akibat kerusuhan Mei 1998, mencoba ikut mencari solusi. Terbentuklah Forbis, Forum Bisnis Surakarta. Merancang seminar ekonomi. Penyandang dananya, pengusaha kayu bernama Joko Widodo.

Di seminar itu, Jaya Suprana sebagai moderator, membuat nujum, bila kelak SMI akan menjadi presiden RI. Tahun 2011 terbentuk Partai SRI untuk kendaraannya. Saya ikut membuat catatannya di : http://esaiei.blogspot.com/…/sri-harus-menyeberang-jurang.h…?

Sayang SRI terganjal syarat keikutsertaannya dalam Pemilu.

Yang kemudian jadi presiden di Pilpres 2014 dan kembali di tahun 2019 justru pengusaha kayu Solo yang berpidato membuka seminar itu.

Naskah pidato yang saya buat, agak sedikit panjang, ternyata dipersingkat. Mungkin sesuai motto dia, sedikit bicara banyak bekerja.

Sisanya adalah sejarah.

Sumber : Status Facebook Bambang Haryanto

Sunday, July 19, 2020 - 13:00
Kategori Rubrik: