Jokowi si Kodok Celamitan, Semua Salah Jokowi

 

Oleh: Tante Liza

Lagi dan lagi hinaan terhadap presiden. Itulah kelakuan kaum Salahnya Jokowi (Salawi) tak bermoral. Sehingga sampai detik ini, kaum salawi yang belum juga puas lebih suka melontarkan hinaan-hinaan kelas ketengan, fitnah-fitnah keji kelas pinggiran. Hal itu dilakukan untuk memuas-muaskan diri alias onani alias masturbasi.

Dari tuduhan Jokowi anti-islam, Jokowi PKI, Jokowi antek asing, Jokowi keturunan Tionghoa, Jokowi kodok, dan lain sebagainya. Mungkin yang belum terdengar adalah tuduhan Jokowi jomblo. Bahkan yang terbaru #PapaDoyanLo*te, hanya gara-gara Jokowi pernah foto bareng Nikita Mirzani. Padahal, waktu itu adalah ketika Jokowi mengikuti acara Nonton Bareng dalam peluncuran film Comic 8 yang dibintangi oleh Nikita sebelum beliau menjadi Presiden. Tepatnya Agustus 2012 silam.

Tapi Presiden Jokowi tetap santai-santai saja menghadapi fitnah tersebut. Beliau terus memegang filosofi, ‘anjing menggonggong Jokowi tetap berlalu’. Tapi kayaknya sesekali anjingnya harus kena lempar batu juga, seperti yang baru-baru ini terjadi kepada pemilik akun twitter @ypaonganan

Bila dilihat dari status yang ditulis oleh seorang perempuan yang mengaku tinggal di luar neger ini, dia sedang mencari tahu, apakah benar Jokowi lulusan UGM.

“Insinyur kok bego bangeut,” begitu katanya.   

Ini copy-paste lengkapnya yang dicatut dari akun facebook-nya.

“Gegara postingan anak muda yg mempertanyakan si kodok dapat gelar insiyur dari mana tapi bego bangeut. Aye jadi ikut penasaran so bantu daku mencari alumni UGM yg bernama Joko Widodo yg menurut blognye si kodok, die lulusan kehutanan UGM tahun 1985.”

“Aye kasih linknye aje yeee biar gak kena SE Hate speech-nya pak Kapolri. Mari kita ke websitenye fakultas kehutanan UGM untuk mencari alumni UGM yg bernama Joko Widodo alias kodok celamitan. Ada gak namanye? bisa cek di Joko or Widodo lulusan 1985.”

“Ach ketemu juga akhirnye si kodok di alumni kehutanan UGM. So pertanyaan adalah why is he so bloody idiot? Eh aye sebut si kodok idiot karena udah banyak fakta2nye kan yeee? terakhir merauke pindah ke barat indonesia.”  

“Kalo gitu lulusan or Alumni UGM patut dipertanyakan kualitasnye dong yeeee? Soalnye si kodok yg lulusan fakultas kehutanan UGM dongo setengah mampus dah. Pegimane nih my darling, Boediono, ngajar di UGM nih yeee? “

Kasihan sekali orang tuanya mendapati anak yang tinggal di luar negeri tapi tak punya etika begitu. Entah apa yang salah dengan mbak-mbak satu ini. Dan Jokowi punya salah apa terhadapnya sehingga dia mengatakan kalau Jokowi itu kodok celamitan, idiot, dan dongok setengah mampus!  Indah sekali bukan kata-katanya? Bahkan dia juga menulis, “Kalau gitu lulusan or alumni UGM patut dipertanyakan kualitasnya donk yeee.”

Ini semacam pelecehan terhadap para alumni UGM. Silakan tafsirkan sendiri kalimat tersebut. Ada apa dengan kaum salawi? Apa yang salah dengan otak mereka? Virus kebencian memang menggerogoti mereka tanpa pandang bulu. Tua-muda, berpendidikan, atau tidak.

Sekolah tinggi bahkan mengenyam pendidikan di luar negeri tidak akan menjamin orang tersebut menjadi ‘cerdas’. Ini benar-benar salah Jokowi. Mari ramai-ramai kita salahkan Jokowi karena sejak Jokowi menjadi presiden banyak orang Indonesia yang 'sakit jiwa' massal dan membabibuta; dari yang dosen sampai yang anak-anak. Dari yang tinggal di kampung sampai yang sudah menetap di luar negeri. Semoga ada orang yang melempar batu terhadap gonggongannya. Seperti kepada penggonggong tentang lont* beberapa waktu lalu.

Tentu saja publik akan semakin penasaran dengan orang-orang yang pede habis menghina Presiden. Mereka telanjur percaya diri tidak akan mungkin dikenai pasal oleh kepolisian, mengingat pasal penghinaan terhadap presiden sudah tidak ada sejak 2006. Tapi jangan salah, andai para alumni UGM, atau ada pelapor yang merasa dilecehkan maka bisa saja mereka dipanggil polisi walau tinggal di luar negeri dan merasa aman.

Adapun Jokowi, tentu beliau tidak akan mengurusi hal-hal semacam hinaan itu. Masih ingat kan ketika Jokowi berucap; “Saya enggak apa-apa dikatakan Presiden gila, Presiden sarap, Presiden koppig, nggak apa-apa. Tapi kalau sudah menyangkut wibawa, mencatut, meminta saham 11 persen, itu yang saya tidak mau. Nggak bisa!" tegasnya.

“Ini masalah kepatutan, masalah kepantasan, masalah etika, masalah moralitas, dan itu masalah wibawa Negara,"

Kita tidak akan jadi berkelas kalau melayani kaum salawi kurang piknik semacam itu. Bukan tandingan Presiden juga. Namun demikian, kaum salawi pun semakin menjadi-jadi sehingga mereka masih tetap pede hina sana hina sini. Fitnah sana fitnah sini. Silakan menggonggong, kaum salawi! Tunggulah timpukan batu dari orang-orang yang terganggu dengan suara berisikmu.  Kalau Anda penasaran dengan status kompasianer yang tante ceritakan di atas, bisa Anda lihat di bawah ini.

 

Sumber: kompasiana

Friday, January 8, 2016 - 12:45
Kategori Rubrik: