Jokowi Sejak Dari Sononya

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Menjelang akhir Desember 2012, warga kampung Pulojahe di kawasan Cakung, Jakarta Timur, terheran-heran. Jokowi, Gubernur DKI Jakarta waktu itu, melantik Walikota dan Wakil Walikota Jakarta Timur di tempat pembuangan sampah. “Saya kira bercanda, eh beneran,...” kata seorang warga.

Meski sudah tiga hari sebelumnya dikebut dibenahi, tetap saja bau sampah tak terbendung. Jokowi melakukan pelantikan di sana, karena ingin agar pejabat yang dilantik langsung melihat persoalan dan masalah yang harus dibenahi.

 

 

"Orientasi kita bukan seremonial, tapi fungsional," kata Jokowi. Permasalahan perkotaan Jakarta ada di lapangan. Problem bukan di kantor. "Agar bisa langsung membuat keputusan, action lapangan. Itu yang ditunggu masyarakat, yaitu kerja nyata."

Dan Jakarta berbenah di era Jokowi, meski cuma dua tahun. Namun di tangan BTP (Basuki Tjahaja Purnama), yang melanjutkan, pembenahan Jakarta terus berlangsung. Banyak gebrakan, dari berbagai pembangunan area publik. Kalijodo, Simpang Susun Semanggi, penerapan e-Budgeting. Dan BTP masuk penjara!

Jokowi memang ugal-ugalan, pengacau; itu penilaian kaum vested-interest. Para calo yang selama ini ongkang-ongkang dapat duit. Dan apalagi kini, mereka yang dirugikan karena duit tak lagi mengalir leluasa.

Gaya Jokowi adalah gaya generasi baru. Tanpa basa-basi. Tak mau terjebak dalam konvensi dan regulasi lama. Birokrasi yang sombong dan lamban. Dan rakyat Jakarta, juga rakyat daerah lain, bangga dengan cara kerja Jokowi. Ia membangunkan amnesia publik, bahwa pejabat publik memang mesti bekerja melayani, bukan dilayani.

Dalam pidato serah-terima jabatan di lapangan Monas, BTP mengatakan Jokowi orang yang keras, teguh. Dan bisa lebih kejam dibanding dirinya. BTP dikenal bicara keras, tanpa basa-basi, tapi hatinya melow. Beda dengan Jokowi yang tampak klemar-klemer, namun kepemimpinan tegas, keberaniannya lugas, dan integrated.

Empat tahun Indonesia dalam kepemimpinan Jokowi, rakyat seolah diguncang-guncang. Bahkan ketika Jokowi melempar kerikil di kolam, Abu Bakar Ba’asyir akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan. Sontak semua mendadak ndangdhut.

Yang dulu mendukungnya, menyebut Jokowi berkhianat. Tak punya empati pada korban terorisme. Sebagiannya meneriakkan ajakan untuk golput. Apa hubungannya? Khas orang Indonesia jadul didikan Soeharto, kecewa-ngambeg-ngancam.

Menjadi Presiden tak semudah cocote Duo Fucks, apalagi cuma sinisme Filsuf Gemblung. Dalam praksis politik kenegaraan, apalagi dalam situasi transisi, perubahan yang digerakkan Jokowi bukan hal yang mudah diterima kawan apalagi lawan.

Namun dalam bermain politik, Jokowi lebih strategis dibanding musuh-musuh politiknya, yang hanya nunggu bola muntah. Para pengritik Jokowi rata-rata memang pecundang sejak dari hati. Asyik-masyuk memproduksi hoax dan fitnah. Termasuk yang kini punya modus baru, ngajak golput gegara baper ulah Jokowi.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Wednesday, January 23, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: