Jokowi Sang Maestro, Individu yang Mature

Oleh: Marsda Pur Prayitno Wongsodidjojo Ramelan
(Pengamat Intelijen)

Sepuluh hari setelah Presiden Jokowi dilantik, penulis membuat analisis tentang pria sederhana asal Solo ini, kini sudah menjadi Sang Maestro, inilah linknya ,
http://ramalanintelijen.net/…/pak-jokowi-sang-maestro-deng…/.

Kejutan terjadi setelah susunan kabinet diumumkan, umumnya para pendukung paslon 01 dan 02 terkejut terpana tidak terkira. Penyebabnya, karena Letjen Purn Prabowo (code number 08) lawan JKW saat pilpres dipercayainya menjadi Menhan. Bila diukur dari fungsi intelpam persepsi intelijen taktis, ada kecurigaan terjadinya penetrasi atau bahaya kuda Troya. 

 

Memang intelijen harus selalu curiga lebih ke waspada bukan? Bekas lawan Jokowi yang saat kampanye pilpres memainkan strategi "tumpas", bubar-bubaran kok kini diambil, di posisikan sebagai Menhan, ujung tombak Triumvirat. Jelas ada urusan politik besar atau kekuatan penyangganya.

Tetapi, bila di analisis dari persepsi Intelijen Strategis, ini sebuah keputusan high risk, high profit. Dimana untuk mencapai sasaran jangka panjang (strategis), presiden berani mengambil langkah taktis agak beresiko, tetapi terukur. Menurutnya dibutuhkan stabilitas politik, yang akan memengaruhi stabilitas keamanan dan ekonomi. Ini keputusan kelas "dewa" terkait erat dengan sense of security dan maturity. 

Sense of security adalah rasa aman, bagian dari sense of intelligence. Pokok dari rasa ini hanya dimiliki oleh mereka yang sudah memiliki pengalaman cukup dan wawasan luas, saat akan mengambil keputusan. Keputusan yang diambil menggunakan sense ini didukung dan berkait erat dengan maturity of Jokowi as a leader.

Dalam ilmu psikologi (ref. Hesti Nur Lestari S.Psy), maturity berarti kematangan seseorang, sementara pribadi yang memilikinya disebut individu yang mature (matang). Penulis melihat presiden mampu memahami permasalahan negara dari sudut pandang yang lebih luas. Sehingga dapat mengetahui apa yang tepat untuk dilakukan atau tidak dilakukan dalam situasi tertentu. Dapat mengetahui apa konsekuensi dari tindakannya, dan dengan sadar membuat keputusan. 

Presiden Jokowi Menjelaskan Keputusan Besarnya

Presiden Jokowimenyatakan keputusannya menarik Partai Gerindra berkoalisi dengan pemerintahan adalah untuk membuktikan bahwa demokrasi Indonesia adalah gotong royong. 
"Demokrasi kita ini adalah demokrasi gotong royong. Kalau itu baik untuk negara, utk demokrasi kita kenapa tidak," katanya di Istana Merdeka, Kamis (24/10/2019).

Tentang pemilihan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan, dia menegaskan hal itu memang disesuaikan dengan pengalaman Prabowo. "Kenapa? Ya memang pengalaman beliau. Pengalaman besar beliau ada di situ," tambahnya. Dari persepsi intelijen, Prabowo sebagai patron Gerindra setelah diajak bergabung akan mengurangi tekanan dari pendukungnya ke pemerintah. 

Sementara kelompok keras yang kini lepas libat justru berbalik tidak respek kepadanya . Hal ini jelas akan memengaruhi stabilitas politik lebih baik, disamping juga tentunya diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan TNI sebagai deterrent effect. Dari sejarah, 08 yang sukses membesarkan Kopassus, baik SDM, kekuatan maupun kemampuan organisasi tempurnya. 

Disamping itu ada beberapa pejabat yang dinilai kapabel untuk menangani fakta semakin berkembangnya radikalisme dan khilafahisme. Prof Mahfud MD, ahli hukum, paham politik, pakar ilmu Islam dan kasus-kasus radikalisme yang membawa nama Islam, kini dijadikan Menko Polhukam. Dari ilmu dan pengalamannya sulit dibantah. Jenderal Pol Tito Karnavian sebagai Mendagri, jelas sudah khatam menangani terorisme dan radikalisme. 

Jenderal Purn Fachrul Razi yang dikenal tegas dijadikan Menteri Agama. Mereka ini kini merupakan kesatuan dalam mengantisipasi berkembangnya virus radikalisme. Menurut penulis, target strategisnya selain meminimalisir radikalisme, juga mengamankan ideologi Pancasila dari faham khilafahisme.

Presiden Jokowi, menegaskan bahwa tidak ada visi dan misi menteri, yang ada hanya visi dan misi presiden dan wapres. Semua kebijakan yang telah diputuskan dalam rapat, baik rapat paripurna, rapat terbatas, rapat internal dengan segala risiko harus dilaksanakan. Keputusan itu tidak lagi diperdebatkan di luar, ini sebuah bukti rentang kendali jelas dan komandonya tegas.

Membangun negara besar ini adalah kerja tim, bukan kerja menteri per menteri, kerja yang dikoordinasi oleh para Menteri Koordinator, bukan kerja sektoral. Pesan presiden kepada anggota kabinet; Menteri maupun kepala lembaga agar tidak korupsi dan menciptakan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi.

Tidak membuat visi misi sendiri (yang ada adalah visi misi presiden dan wapres). Bekerja serius, cepat, keras dan produktif, pada hasil yang berorientasi nyata dan selalu mengecek di lapangan. Ditegaskannya, “Saya pastikan yang tidak serius, yang tidak sungguh- sungguh, saya sudah sampaikan kemarin, semuanya hati-hati bisa saya copot di tengah jalan." 

Presiden mencanangkan empat prioritas utamanya pada periode kedua kepemimpinannya tahun 2019-2024, yaitu pembangunan lima tahun ke depan yaitu pembangunan sumber daya manusia, keberlanjutan pembangunan infrastruktur, penyederhanaan regulasi, dan reformasi kelembagaan.

Presiden menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama yang harus digarap. Dunia kini berubah begitu cepat kearah era digital, ini dinilainya harus dilakukan pendekatan yang berbeda di bidang pendidikan. Disrupsi teknologi harus disikapi, manajemen besar pendidikan di Tanah Air harus dikelola dengan teknologi tanpa menggeser tujuan dari pendidikan kita yaitu membangun karakter dan jati diri bangsa. 

"Untuk menghasilkan lompatan kemajuan dalam pendidikan nasional itu, dibutuhkan figur yang berani mendobrak hal-hal yang monoton," katanya. Nah, langkah taktis menjadikan Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan jelas akan merubah sistim pendidikan yang ada, hasilnya strategis terkait mutu pendidikan dan lapangan kerja. Nadiem alumnus Harvard, sebagai praktisi sukses dengan konsep Gojek-nya. Dengan begitu, menurut presiden kita memiliki harapan dan optimistis akan kemajuan yang hendak dicapai di bidang pendidikan. Selebihnya, dukungan kita dan waktu yang akan menjawabnya.

Selain pembangunan SDM, tiga prioritas utamanya terbaca sebagai bagian strategi ekonomi. Infrastruktur apabila selesai diibangun dan lancar, pada hilirnya akan berpengaruh kepada sektor ekonomi. Demikian juga masalah regulasi terus menjadi hambatan bagi para investor. Urusan perijinan dinilainya ribet dan membuat para investor malas berhubungan dengan birokrasi. 

Presiden akan memangkas dan menyederhanakan jabatan eselon tiga kebawah sehingga organisasi bisa lebih efektif dan efisien. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto serta Menkeu Sri Mulyani kini menjadi tulang punggung perekonomian, disamping Menko Maritim dan Ivestasi Luhut Panjaitan yang bertugas menarik para investor dari luar negeri. 

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan, pemilihan anggota kabinet memiliki peran dan target besar, diantaranya menjaga dan mengamankan mindset masyarakat agar tidak terpengaruh ideologi dan faham lain seperti radikalisme maupun khilafahisme, tetap mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara.

Dilain sisi, dalam menghadapi gelombang resesi ekonomi, empat prioritas utama pemerintah menjadi pilar bangsa Indonesia dalam menghadapi persaingan dan perebutan ruang hidup dengan negara lain di era digital. Kita tidak perlu terlalu muluk, disaat dunia dipukul resesi ekonomi, negara-negara yang bisa survive, aman dan selamat sudah bagus. Mari kita bergandeng tangan, agar kuat dan tangguh.

Pada periode kedua pemerintahannya, sudah pantas Presiden Jokowi disebut sebagai Sang Maestro bukan hanya dirigen orkestra. Kepercayaan dirinya semakin tinggi dan semakin memiliki ketegasan dan kematangan. Jokowi kini menjadi seorang Maestro, juga individu yang mature (matang). Demikian persepsi intelijen membacanya, salam. PRAY, Old Soldier Never Die.

 

(Sumber: Facebook Prayitno Ramelan)

Saturday, November 9, 2019 - 14:45
Kategori Rubrik: