Jokowi, Pemimpin Optimis Bukan Pesimis dan Penebar Ketakutan

Ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Menyimak pidato Presiden Jokowi di hadapan World Economic Forum on ASEAN di National Convention Center, Hanoi, Rabu (12/9/2018), entah kenapa sebagai anak bangsa dada saya membuncah BANGGA dan semangat saya berkobar menjadi terlecut untuk berkarya untuk negeri sekecil apapun.

Mari sesaat kita simak cuplikan pidato Beliau kemaren di Hanoi Vietnam :

"Apa yang sedang terjadi dalam perekonomian dunia hari ini adalah kita sedang menuju perang tanpa batas [Infinity War]. Kita belum pernah menghadapi perang dagang dengan ekskalasi seperti saat ini sejak Great Depression di tahun 1930-an. Namun, yakinlah saya dan rekan Avengers saya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagia populasi dunia.

Thanos ingin menghabisi separuh populasi sehingga sisanya yang bertahan dapat menikmati sumber daya per kapita sebesar dua kali lipatnya. Namun, ada kesalahan mendasar dari asumsi ini. Thanos yakin sumber daya di planet bumi terbatas. Faktanya adalah sumber daya alam yang tersedia bagi umat manusia bukannya terbatas, namun tidak terbatas.

Perkembangan teknologi telah menghasilkan peningkatan efisiensi, memberi kita kemampuan untuk memperbanyak sumber daya kita lebih banyak dari sebelumnya.

Penelitian ilmiah membuktikan, ekonomi kita sekarang lebih 'ringan' dalam hal berat fisik dan volume fisik. Hanya dalam 12 tahun terakhir, total berat dan volume televisi, kamera, pemutar music, buku, surat kabar, dan majalah telah tergantikan oleh ringannya ponsel pintar dan tablet.

Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang berat telah tergantikan oleh panel surya dan kincir angin yang ringan.

Kedua, saat perekonomian kita terus berkembang, ekonomi tidak lagi didorong oleh sumber daya alam yang terbatas, melainkan oleh sumber daya manusia yang tidak terbatas.

Generasi muda Indonesia menjadi motor ledakan e-commerce dan ekonomi digital yang transformasional. Saat ini, kami memiliki empat unicorn atau startup bervaluasi di atas US$1 miliar di Indonesia dan tentu saja sumber daya manusia sekarang mendorong revolusi industri 4.0. Pada 4 April lalu kami telah meluncurkan program pemerintah Revolusi Industri 4.0 yang diberi nama "Making Indonesia 4.0".

Pertama, saya percaya bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menciptakan banyak lapangan kerja BUKAN MENGHILANGKAN tidak hanya dalam jangka panjang melainkan juga dalam jangka pendek.

Kedua, saya percaya Revolusi Industri 4.0 tidak akan meningkatkan kesenjangan namun justru menurunkannya karena salah satu aspek penting dari Revolusi Industri 4.0 adalah penurunan biaya secara dramatis bagi barang dan jasa sehingga menyebabkan produk tersebut lebih murah dan mudah dijangkau bagi kalangan berpendapatan rendah.

Ketiga, saya percaya ASEAN termasuk Indonesia akan menjadi yang terdepan dalam Revolusi Industri 4.0. Namun, kita harus mencegah perang dagang ini berkembang menjadi perang tanpa batas.

Anda mungkin bertanya-tanya siapa Thanos? Hadirin sekalian, Thanos bukanlah seorang individu. Maaf sudah membuat Anda kecewa. Thanos ada di dalam diri kita semua. THANOS adalah paham yang salah bahwa untuk berhasil, orang lain harus menyerah. Ia adalah persepsi yang salah bahwa keberhasilan sekelompok orang adalah kegagalan bagi yang lainnya.

Sehingga, Infinity War bukan hanya tentang perang dagang kita tetapi tentang setiap dari diri kita mempelajari ulang sejarah bahwa dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerja sama umat manusia akan menikmati sumber daya yang melimpah dan tidak terbatas bukannya perang tak berkesudahan".

*******

So amazing bukan ?
Bagaimana mungkin seorang TUKANG KAYU dari pinggir kali di pinggiran kota Solo mempunyai kemampuan visioner dan penguasaan perkembangan teknologi anak jaman begitu mumpuni, kalau tidak digerakkan oleh KEHENDAK dan TANGAN TUHAN ?

JOKOWI telah menunjukkan kelasnya. Bukan sekedar pemimpin domestik negeri ini tapi sudah menjadi IKON PEMIMPIN DUNIA yang menjadi idola generasi muda dunia. Hal ini bisa kita lihat, bagaimana sambutan generasi milenial Korea Selatan dan Vietnam dalam menyambut dengan suka cita kedatangan Presiden Jokowi. Bagaimana mungkin generasi milenial di Seoul dan Hanoi begitu fasih bergaya GOYANG DAYUNG ALA JOKOWI ?

JOKOWI telah menjadi pembeda. Beliau bukan hanya calon pemimpin yang kerjaannya menteror masyarakat dengan ketakutan dan pesimisme. Beliau bukan ANAK MAMI yang nyinyir memprovokasi mahasiswa di Riau untuk beringas dan menebarkan kebohongan di hadapan emak-emak bahwa harga bumbu dapur melambung tinggi sambil dengan mesra menggenggam tangan laki-laki yang duduk di sebelahnya. Bagaimana mungkin lelaki penuh pesimisme dan emosional dan Lelaki Tulang Lunak bisa membawa negeri ke arah yang lebih baik, kalau mereka sendiri tidak yakin dengan kejayaan masa depan Indonesia ?

Mereka berdua sejatinya adalah THANOS seperti yang disebutkan Presiden Jokowi. Thanos yang akan membawa Indonesia kembali ke titik nadir menjadi negara primitif yang sibuk mempermasalahkan ideologi kebangsaan yang sejatinya sudah final.

Amit-amit jabang bayi', jangan sampai Thanos itu menghancurkan negeri ini. Pait pait pait !!!

Salam Satu Indonesia
13092018

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Saturday, September 15, 2018 - 19:30
Kategori Rubrik: