Jokowi Pemikir Sederhana

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

"Saya bisa nambah dikit, Jokowi itu tidak suka konsep pemikiran yg sifatnya mendasar, tidak suka diajak mikir yg dhakik-dhakik, dia maunya yg praktis-praktis saja, yg quick yield. Kurang menguntungkan untuk mengaddress persoalan yg dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.

Jokowi tidak menangani deindustrialisasi. Dia memerintahkan harga listrik untuk industri murah, sudah bener. Perijinan dipermudah, bener juga. Tetapi state-led industrialization left blank(negara yg menuju industrialisasi, tidak dipikirkan). 
Menteri Perindustriannya nggak nendang. Butuh Menteri sekaliber SMI untuk bantu mikir Jokowi atasi deindustrialisasi."

Ini salah satu contoh kritik yang bagus kepada Jokowi. Jika oposisinya model begini, pasti demokrasinya sehat.

Beberapa hari lalu ada anak muda sontoloyo bilang dengan penuh kemenangan " jaman orba kita swasembada beras".

Wah ini anak muda bodoh atau pura2 bodoh. Orba 32 tahun hanya sempat swasembada beras1-2 tahun (84-85). Itu pun menurut catatan Prof Mubyarto dari UGM, dicapai dengan harga beras di tingkat petani mencapai harga paling rendah! Artinya swasembada beras dicapai dengan mengorbankan petani.

Menurut data impor, ternyata pada saat dinyatakan swasembada kita masih impor kurang lebih 410 ribu ton beras.
Lalu anak muda sontoloyo yang lain bilang " lebih baik jadi antek orba daripada antek asing".

ni juga komentar oposisi yang memprihatinkan dan nggak mau melihat fakta. Dia jelas bukan orang yang ingin bergerak maju. Orba adalah sejarah buram negeri ini. Dimana penguasa membungkam suara yang berbeda tanpa proses hukum. Mahasiswa bisa weselnya distop oleh aparat gara-gara mengkritik pemerintah. Tentu banyak lagi daftar dosa2 Orba sehingga muncul reformasi menurunkan Suharto. Jangan lupa.

Dia juga tersirat bangga menuduh jokowi pro asing, sementara lawannya, untuk konsultan pemilu pun memakai orang asing. Orang asing ini pun model perusak toleransi dan kerukunan. 
Model kritik oposisi ngawur gini yang membuat kita emosi dan bodoh.

Kembali ke inti tulisan ini. Contoh kritik kepada pemerintah di awal tadi, sayangnya jarang muncul. Yang muncul seringnya opini tanpa data, menyajikan data sepotong, bahkan menyebarkan berita yang tidak akurat, dsb. 

Kita tentu sangat senang seandainya demokrasi berisi diskusi, wacana membangun bangsa yang aktual, positif, mencerahkan. Boleh kita berantem tapi untuk kemajuan bangsa ini. Tirulah politikus negara-negara maju. Mereka berdebat keras di parlemen , beradu argumentasi, tapi muaranya adalah kepentingan bangsa. Bukan merusak atau malah ingin membubarkan negara.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Friday, February 1, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: