Jokowi Ngajak Berantem? Memangnya Oposisi Punya Nyali?

Oleh : Kajitow Elkayeni

Ferdinan Hutahean, Andie Arief, adalah contoh orang-orang Demokrat yang kebakaran jenggot karena pidato Jokowi. Mereka dengan cerdasnya meminta DPR dan kepolisian menangani kasus ini. Kecerdasan yang out of the galaxies. Sebenarnya, itu hanya ungkapan putus asa. Atau upaya untuk memprovokasi massa.

Pidato itu tidak cukup unsur hukumnya untuk dilaporkan, menabrak etika saja tidak. Namun itu sengaja dibuat heboh oleh pihak oposisi agar mendapat simpati publik. Karena memang tidak ada bahan untuk menyerang Jokowi. Ada beberapa hal yang mencemaskan pihak oposisi atas pidato itu, jadi terbuka ke publik.

Pertama, sifat asli Jokowi itu pemberani.

Publik tidak banyak yang tahu, bahwa Jokowi itu sangat pemberani. Kalau anda paham gaya orang Solo. Mereka halus itu hanya di permukaan. Preman Solo memanggil senior mereka, Lék (paman). Bahasa jawanya halus, sopan, bedakan dengan gaya semarangan, atau suroboyonan.

Gambaran di permukaan itu juga melekat pada diri Jokowi sebagai orang Solo. Seolah-olah klemar-klemer, faktanya kalau tidak dinasehati aparat dan menteri, teroris itu akan dibabat habis. Tembak di tempat. Tegasnya sama seperti Duterte. Pertimbangan politik dan kemanusiaanlah yang membuat Jokowi setuju soft approach, pendekatan halus.

Padahal aslinya, kalau model Betawi, "Lu jual gua beli!" Lelaki kurus itu sudah putus urat takutnya.

Satu-satunya presiden yang berani menempuh bahaya ke Afganistan saat situasi kacau. TNI dengan tegas memberikan saran untuk membatalkan kunjungan. Jokowi tidak mau dijemput dengan tank, tidak mau pakai rompi anti peluru. Padahal itu saran pemerintah sana. Karena kondisi memang sedang gawat.

Jokowi ingin menyelamatkan muka pemerintah Afganistan. Ia ingin menunjukkan pada dunia, bahwa keadaan dapat dikendalikan pemerintah sana.

Pidato kemarin itu membuka sedikit tabir yang menutupi jiwa pemberani Jokowi. Itupun masih dilakukan dengan sopan, dengan pengantar yang baik.

Kedua, Jokowi sudah sangat siap.

Pidato itu sebuah aba-aba, posisi relawan itu mestinya sudah siap start. Jangan takut ini, jangan takut itu. Karena Jokowi sendiri sudah sangat siap.

Difitnah PKI sudah. Dikatakan cina-kristen sudah. Diledek plonga-plongo, disebut petugas partai, dicap antek Asing. Bahkan ibunya yang tak bersalah diseret ke dalam urusan politik. Jokowi mungkin marah, tapi tidak menjebloskan pelakunya ke penjara. Atau dengan cara Soeharto, melakukan Petrus, penembakan misterius.

Jokowi melalui semua itu dengan tabah. Tidak mau lapor. Semua kasus fitnah itu yang melaporkan orang lain. Semua yang memfitnahnya sudah dimaafkan, bahkan sebelum mereka minta maaf. Bayangkan jika itu orang lain, saya misalnya. Yang menghina ibu saya akan saya cari sampai ke liang semut. Kalau perlu saya bikin perhitungan di luar koridor hukum.

Di posisi itu saya akan gelap mata dan menghalalkan segala cara. Tapi kenapa Presiden tidak?

Dia punya segalanya hanya untuk membuat Jonru lenyap dari muka bumi. Tapi orang lain yang bertindak karena tak tahan dengan hinaannya. Mustofa Nahrawardaya dibiarkan berkeliaran. Padahal jangankan Mustofa, PAN (partainya sekarang) kalau Jokowi mau, gampang sekali mau diobrak-abrik.

Masalahnya, Jokowi ini tak mau membuka front permusuhan. Yang jahat dibiarkan gentayangan menyebarkan teror. Selama yang diserang adalah dirinya pribadi, ia merelakannya sebagai tumbal bangsa ini. Tapi kalau sudah membahayakan negara, lihat HTI, lihat KMP, tak perlu waktu lama untuk merobohkan mereka.

Pidato Jokowi itu adalah gambaran dari proses yang telah dilewatinya. Ia sudah sangat siap. Difitnah dan diserang model apa ayo saja. Jika tahun 2014 saja bisa dilewati dengan tabah, apalagi tahun 2019 saat Jokowi punya semua infrastruktur kekuasaan.

Ketiga, peringatan bagi lawan politik.

Satu pertanyaan yang selama ini menggantung di kepala saya adalah, kenapa partai oposisi dibiarkan leluasa memfitnah dan memframing untuk menggerakkan massa? Padahal kalau mau, gampang sekali membombardir mereka. Demokrat, Gerindra, PAN, PKS itu tidak punya kekuatan. Tampangnya saja serem. Dalamnya kosong.

Golkar dan PPP yang jelas lebih tua dan solid saja bisa goyang dan mengalami perombakan struktur. Dari oposisi beralih ke koalisi. Apa dipikir itu bukan karena strategi politik Jokowi? Orang yang dituduh klemar-klemer itu memang bisa berkompromi. Tapi dalam batas tertentu dia bisa keras. Yang melampaui batas ya dilibas.

Kemudian saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya di atas itu. Jokowi tidak memberhangus para pembangkang dan pembuat onar itu karena kasihan. Ini fakta. Kasus Rizieq itu dalam tataran pemahaman ini. Sebejat apapun, ada sebutan habib di depan namanya. Simbol seperti itu yang hendak diselamatkan Jokowi. Jangan sampai karena ulah satu orang, habib di seluruh Indonesia mendapat stigma.

Partai pembangkang seperti Demokrat, Gerindra, PKS dan PAN itu hakikatnya juga sedang dikasihani. Hanya saja mereka ngelunjak dan tak tahu diri.

Dalam pemahaman saya, Jokowi ingin menjaga situasi kondusif dan mengajarkan pada khalayak, bahwa politik tak perlu dilakukan dengan jalan brutal. Semarah apapun pada lawan politik, toh mereka bangsa Indonesia juga. Sebagian dari mereka adalah sejarah yang berjalan di negeri ini.

SBY itu mantan presiden, Amien Rais itu tokoh Reformasi, Prabowo, sejelek apapun, pernah berjuang untuk Negara ini. Pertimbangan-pertimbangan seperti itulah yang membuat sikap Jokowi lunak dan ramah terhadap lawan politiknya.

Pesan dalam pidato Jokowi itu jelas dan tegas, "Musuh jangan dicari, ketemu jangan lari!" Pihak oposisi wajar jika panik. Mereka lantas mengemis perhatian publik dengan cara membuat provokasi. Padahal jika Jokowi memang "ngajak berantem" mereka juga tak punya nyali.

Jadi, Ferdinan Hutahean, Andie Arief, Arief Poyuono, atau siapapun yang "nyocot" di media, sebaiknya teruskan upaya gaduh kalian. Karena jika masih tanggung, Jokowi akan bersikap kasihan pada kalian dan partai kalian. Kalau sudah melampaui batas, baru kalian akan tahu the real Jokowi.

Ayo haters, buktikan kejantananmu, jika memang punya nyali bangunkan macan yang sedang tidur itu...

 

Sumber : Facebook Kajitow Elkayeni

Tuesday, August 7, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: