Jokowi Naik Motor untuk Pencitraan?

Oleh: Niken Satyawati

 
 
Indahnya melihat Presiden RI Jokowi berboncengan dengan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Zainul Majdi (TGB). Di manapun tempat, Presiden Jokowi memang selalu menunjukkan kerendahan hatinya. Walau mobil dinas antipeluru tersedia 24 jam, beliau pilih naik motor. Untuk pencitraan? No way...
 
 
 
Tidak hanya sekali, namun beberapa kali kesempatan beliau pilih mengendarai motor. Tak hanya saat meninjau kondisi kerusakan akibat gempa di NTB. Sebelumnya beliau naik motor berboncengan dengan Ibu Negara masuk ke kampung-kampung di Papua. Sebelumnya, masih dalam kunjungan di ujung timur Indonesia, dia juga naik motor trail memastikan pembangunan infrastruktur berjalan sesuai target pelaksanaan. Satu lagi saat touring dengan motor yang baru-baru ini dilakukan.
 
Dengan naik motor, beliau siratkan pesan bahwa jadi orang besar tak perlu gengsi. Naik motor itu asyik. Bahkan geraknya lebih leluasa dibanding kalau baik kendaraan roda empat. Pesan kedua, beliau tidak takut mati. Mengendarai motor tentu sangat berisiko dibanding mengendarai mobil lapis baja, karena orang-orang yang terus digosok sentimen kebenciannya berkeliaran di luar sana. Itulah Jokowi. 
 
Namun demikian keelokan adab yang ditunjukkan Kepala Negara  tak juga membuat para pembenci mampu berpikir mengenai pesan-pesan yang saya sebutkan di atas. Ketika pikiran dan hati telah dipenuhi benci dan prasangka, yang keluar adalah komentar nyinyir, bahwa itu hanya pencitraan belaka. “Pencitraan Mbahmu kiper,” batin saya setiap kali menemukan ucapan nyinyir tentang Presiden RI. 
 
Pencitraan hanya tepat ditujukan kepada orang yang sebelumnya tidak pernah melakukan hal yang dicitrakan. Namun Jokowi sudah naik motor sejak dahulu kala. Saat masih sibuk mengelola perusaannya dan menjadi eksportir mebel, dia sudah menjadi salah satu orang yang cukup berada di Solo. Namun kalau pergi menyetor uang di bank atau untuk keperluan lainnya,  dia pilih naik motor. 
 
Bahkan saat sudah menjabat walikota, dia masih sering tampak naik motor kesana-kemari, baik sendirian ataupun berboncengan dengan FX Hadi Rudyatmo, wakilnya. Ada satu cerita lucu ketika suatu hari dilaksanakan operasi lalu lintas oleh Polres Solo. Jokowi yang saat itu mengendari motor ikut antre dalam untuk menunjukkan surat-surat kelengkapan mengendarai motor. Lalu tibalah saatnya dia mesti menunjukkan STNK dan SIM. Dengan patuh Jokowi menyerahkan surat-surat. Dia tidak mengucapkan satu kata pun. Da menunggu petugas mencocokkan surat dengan pengendaranya. Hingga sang petugas sendiri sadar yang diperiksa tak lain Walikota Solo.
 
Masih soal operasi lalu lintas, seorang kerabat dekat Presiden yang berprofesi sebagai dokter pernah cerita kepada saya bahwa dia kena tilang. Karena masalah “kecil”, kalau tidak salah tidak menggunakan sabuk pengaman. Dia pun menunjukkan surat tilang yang diperolehnya saat hendak bekerja di sebuah RS swasta di Kota Solo. Saya mentertawakannya. Apa gunanya jadi saudara sepupu Presiden kalau masih juga kena tilang? Ternyata sudah menjadi kebiasaan dan peraturan tidak tertulis dalam keluarga besar, bahwa tidak boleh ada yang minta fasilitas khusus dan semacamnya walah salah satu anggota keluarga kini menjadi orang nomor satu di negara ini.

Bagi kebanyakan orang, itu mungkin hanya peristiwa kecil yang tidak penting. Namun orang yang berpikir akan sadar ini masalah integritas. Jokowi bisa saja menggunakan previledge, jalan terus atau bahkan menolak diperiksa. Tinggal bilang saja kalau dia orang nomor satu di Kota Solo. Namun itu tidak dilakukan. Dia memberi contoh orang-orang untuk patuh terhadap hukum. Ini tentang integritas. Dan Jokowi, tak diragukan lagi, adalah orang dengan integritas yang sangat tinggi. 

 
(Sumber: Facebook Niken Satyawati/ tagar.id)
 
Thursday, August 16, 2018 - 00:15
Kategori Rubrik: