Jokowi Mulai Mengeras

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Apakah menyebut kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 ini mendahului Tuhan? Tentu saja tidak, kecuali karena dua hal: (1) Menganggap KPU Tuhan, dan (2) karena pemuja berat Prabowo.

Karena bisa dipastikan, alam semesta sudah merekam peristiwa tanggal 17 April 2019 lampau. Sekitar 80% dari 180-an juta rakyat Indonesia pemilik hak suara Pemilu Serentak, sudah menjalankan haknya dalam sistem demokrasi kita. Artinya, kita tinggal membuktikan atau menghitung suara itu.

 

Ilmu pengetahuan bukan barang haram, dan telah berkembang sedemikian rupa. Ada quickcount yang bisa menerawang, sistem hitung random wilayah berdasar C1, atau yang paling transparan dan fair rekapitulasi berjenjang yang menyertakan semua peserta, penyaksi, pengawas, dan masyarakat (meski kadang juga pengacau, terutama dari para peserta itu sendiri).

Hitung-hitungan terakhir, dengan proporsi jumlah yang dihitung, makin menjelaskan kemenangan Jokowi itu. Penghitungan selebihnya, tak memungkinkan terjadinya keajaiban. Kecuali kubu Prabowo bukan bertantrum-ria atau bermain drama, namun memberikan bukti-bukti apa saja yang disebut sistemgratis, terkenastruk, tur masir kayak salak pondoh pesantren.

Di depan peserta Musrembang 2019, Jokowi mulai menunjukkan taring. Periode kedua Jokowi mengaku tak lagi punya beban. Ia akan melakukan apa yang terbaik untuk negeri ini. Tingkat komprominya akan lebih rendah. Ia sudah mulai mengancam akan membabat lembaga-lembaga yang tak produktif, tak ada peran, dan senyampang itu justeru jadi sarang penghamburan uang negara sekaligus penghambat.

Itu yang ditakuti para ASN bukan, yang tak memilih Jokowi? Celakanya, ternyata Jokowi menang. Tentu saja hanya ASN korup dan tak punya prestasi yang ketakutan. Meski toh Jokowi bukan manusia jahat. Setidaknya para ASN tak perlu khawatir, THR sudah ditandatangani Presiden. Dan pemerintah sudah menetapkan libur Lebaran untuk ASN 11 hari. Kurang? 

Kalau masih tetap benci Jokowi, Anda para ASN nggak usah malu. Katakan bahwa THR itu kewajiban pemerintah. Sebagaimana juga jatah libur panjang itu. Dan tetap ngototlah nuntut kewajiban pemerintah, tak usah menyinggung imbal balik hak pemerintah menuntut kewajiban sampeyan. Toh agama juga tak mengajarkan terimakasih pada Presiden toh? Karena thogut? Thogut atau buruh? Pasti thogut! 

Kalau buruh, ngapain deklarasi kemenangan berkola-kali, sambil nyiam-nyium tanah? Iqbal Said saja nggak mau nyapres, karena dia sudah presiden buruh. Rumahnya di Bekasi, menunjukkan kehebatan kaum buruh. Karena kalau ketua buruh tampak miskin, ‘kan tidak berwibawa? 

Jokowi itu lho, di Jakarta rumahnya numpang Paviliun Istana Bogor. Pantesan ada yang bilang Jokowi nggak pantes manggil-manggil rakyat yang menggajinya. Ehm. Pantesan pula Amien Rais dengan penuh kasih sayang, janji mau nganter Jokowi yang bak bebek lumpuh pulang ke Solo. Itu seandainya Amien Rais nggak keburu rambutnya rontok, jadi gundul kayak ketan. Ketan? Ketan gundul?

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Friday, May 10, 2019 - 23:30
Kategori Rubrik: