Jokowi Menang Telak

ilustrasi

Oleh : Asharo Lahagu

Potret beberapa survei ternama tak bohong. Hasil quick count sementara Pilpres 2019 berbanding lurus dengan hasil survei. Jokowi menang telak atas Prabowo di atas 55 persen. Kemenangan Jokowi atas Prabowo sudah terbaca beberapa bulan lalu. Bahkan beberapa pengamat sudah mengambil kesimpulan bahwa Pilpres sudah selesai.

Usaha keras Jokowi untuk memenangkan Pilpres 2019 luar biasa. Serangan-serangan hoax dan fitnah yang diarahkan kepadanya nyaris membuatnya terjungkal. Hasil kerja keras dan nyatanya selama 4,5 tahun menjadi Presiden bukannya dipuji dan diapresiasi oleh lawan-lawannya tetapi malah diputar-balikkan menjadi fitnah dan hoax.

Akan tetapi Jokowi tetaplah Jokowi. Ia adalah seorang petarung, seorang pemenang. Ia tetap mutiara langka yang tahan dari serangan. Prestasinya tetap berkilau di tengah kubangan lumpur hitam sekalipun.

Beberapa point berikut ini adalah kunci kekuatan Jokowi dalam memenangkan pertarungan.

Pertama, hasil kerja nyata. Kerja nyata Jokowi dalam membangun infrastruktur di seluruh pelosok negeri tak bisa ditutup-tutupi. Ribuan kilometer jalan telah dibangun. Jalan tol yang menghubungkan kedua ujung pulau Jawa tak bisa dibohongi. Secara masif Jokowi terus bangun bandara, pelabuhan, pintu gerbang perbatasan baru di berbagai tempat. Dan itu semua tak bisa ditutupi dengan daun kelor.

Hal yang paling spektakuler adalah kehebatan Jokowi membangun desa. Ratusan ribu kilometer jalan di desa-desa dibangun. Listrik di pelosok-pelosok negeri yang lama gelap dinyalakan. Penyamaan harga BBM di Papua dan di Jawa terealisasi. Kartu Indonesia pintar berhasil mengangkat martabat rakyat kecil. Ini semua memberi kesan luar biasa kehebatan Jokowi.

Kedua, tipe kepribadiannya yang merakyat. Jokowi adalah kita. Kita adalah Jokowi. Jokowi lahir dari rakyat, ia besar karena rakyat dan ia kemudian mengabdikan diri kepada rakyat. Blusukan Jokowi di berbagai negeri, bergaul dengan rakyat biasa, makan dan tidur bersama rakyat telah memberi kesan kuat kepada Jokowi bahwa dia adalah pemimpin yang sangat merakyat.

Ketiga, Jokowi tidak KKN. Kehebatan Jokowi yang mampu menjauhkan dirinya dan keluarganya dari Kolusi, korupsi dan Nepotisme (KKN) telah membuat citra Jokowi sangat kuat baik di hadapan kawan maupun di hadapan lawan. Tak ada celah sama sekali untuk menjatuhkan kredibiltas Jokowi soal korupsi, kolusi dan nepotisme. Lawan Jokowi sangat sulit mencari celah korupsi Jokowi.

Keempat, Jokowi merapat kepada ulama. Kemampuan Jokowi untuk merangkul tokoh-tokoh Islam terutama dari Nahdatul Ulama dan organisasi Islam lainnya, membuat citra Jokowi di hadapan pemilih Muslim sangat positif. Kehidupan beragama Jokowi yang puasa Senin, Kamis telah mengesankan para pemilih Muslim bahwa Jokowi adalah Muslim sejati dan bukan hanya seorang Muslim KTP.

Kelima, kemampuan Jokowi meramu koalisi besarnya. Salah satu kunci kemenangan Jokowi adalah kemampuannya meramu sebuah koalisi besar dalam menghadapi Prabowo. Selain PDIP, Jokowi berhasil merangkul partai Golkar yang sebelumnya menjadi penantangnya pada Pilpres 2014 lalu.

Partai-partai lain yang tak kalah penting seperti PKB, Nasdem, PSI, PPP, Hanura, Perindo turut berkontribusi pada kemenangan Jokowi. Para caleg-caleg partai pendukung ikut mengkampanyekan Jokowi di akar rumput. Ditambah lagi sebagian partai lain yang menyeberang ke kubu Jokowi seperti kepala daerah dari Demokrat, PAN ikut menyumbang kemenangan Jokowi.

Keenam, penguasaan media. Nyaris semua media ada di kubu Jokowi. Televisi dan media-media mainstream sudah berhasil dirangkul bersama para pemiliknya. Belum lagi media-media opini seperti Seword yang siang malam memframing keberhasilan Jokowi, turut menyumbang citra positif Jokowi di mata masyarakat.

Ketujuh, undang-undang IT yang jitu. Dengan meluncurnya UU IT, maka pihak aparat dapat menetralisir berbagai hoax dan fitnah keji yang diarahkan kepada Jokowi. Bukan hanya berhasil diantisipasi tetapi juga berhasil dibongkar. Sebagai contoh hoax Ratna Sarumpaet. Dampaknya adalah para penyebar hoax tak bisa leluasa menyebar segala berita busuknya. Fitnah dan hoax gagal bekerja.

Kedelapan, strategi babat alas. Kehebatan Jokowi yang mampu merangkul sebanyak mungkin lawan dan kemudian bergabung dengan kubunya mampu mengurangi kekuatan lawan. Sebagai contoh Ngabalin, Yusril, dan seterusnya, cukup menambah kekuatan Jokowi. Belum lagi taktik Jokowi yang berhasil merekrut Moeldoko. Sosok ini mampu menyingkirkan Gatot Nurmantyo yang berkaki dua selama menjadi Panglima TNI.

Kesembilan, jejak buruk yang terlalu banyak pada lawannya. Tak heran ketika Prabowo mendaftar ke KPU, Jokowi ikut bersorak. Alasannya Jokowi paham isi luar dalam seorang Prabowo. Jadi mudahlah mengalahkannya. Sebaik apapun Prabowo diiklankan, jejak hitamnya tak bisa ditutupi. Nah, kelemahan Prabowo inilah yang mampu dieksploitasi oleh kubu Jokowi sehingga keluar menjadi pemenang.

Kesembilan point di atas adalah kunci kemenangan Jokowi. Boleh ditambah dengan poin-poin yang lain. Semuanya membuat Jokowi menang telak atas Prabowo. Kemenangan Jokowi atas Prabowo tentu kemenangan bersejarah. Jokowi yang ndeso mampu mengkadali dua kali seorang Jenderal. Dan kekalahan ini merupakan kekalahan ketiga atau hatrik Prabowo dalam percaturan Pilpres.

Tentu saja kemenangan Jokowi akan memukul habis psikologis Rizieq Shihab yang kabur ke tanah Arab. Impian dan halusinasinya untuk pulang dan disambut sebagai imam besar dengan dijemput langsung oleh Prabowo kandas total. Ia terpaksa gigit jari dan menyesali nasibnya yang merana dalam beberapa tahun ke depan.

Bukan hanya Rizieq yang terpukul tetapi juga seorang Amin Rais yang selama ini sangat getol menjatuhkan Jokowi. Segala serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Amin Rais selama ini akhirnya gagal total. Kini Amin Rais hanya menyesali nasibnya di masa tuanya dan terpaksa melihat kehebatan Jokowi menjadi Presiden untuk periode kedua.

Lepas dari kubu-kubuan selama kampanye Pilpres, tentu saja Jokowi layak berterima kasih kepada Prabowo yang sudah memberi perlawanan sengit. Perlawanan sengit Prabowo mampu menguras energi dan membuat hiruk-pikuk demokrasi lebih hidup.

Dengan selesainya perhelatan Pemilu legislatif dan Pilpres, maka saya harap kita semua kembali menjadi saudara. Pihak yang menang merangkul yang kalah dan yang kalah menerima kekalahannya dengan lapang dada. Mari semua kembali bersatu membangun negeri menuju Indonesia maju.

Sumber : Status Facebook Asharo Lahagu

Thursday, April 18, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: