Jokowi Makin Mendunia

 

Oleh: Iyyas Subiakto 

 

Ditengah kisruhnya hubungan USA dan China, dan nyinyirnya JK yg mengatakan Indonesia apa-apa minta ama China, serta ketidakpastian ekonomi dunia, disitu pula Jokowi memainkan kartu Jokernya. Via telepon singkat dgn Trump, kita mendapat khabar indah bahwa USA akan memindahkan 27 perusahaan farmasinya ke Indonesia. Dan Jokowi menyanggupi menyediakan lahan 4.000 ha di Brebes, Jateng.

Ada tiga isu yg pantas kita cermati atas berita ini. 

 

1. Jokowi diam tapi pasti.

Sebagaimana prilakunya dimata pemimpin dunia, bhw kehadirannya diantara pemimpin negara adalah sosok yg tidak bisa di pandang sebelah mata. Sikapnya, keberpihakannya kepada kebenaran, dan kelenturannya dlm menyikapi masalah adalah gaya Jawa yg mendunia, kalem tidak grusa grusu, tidak reaktif tapi effektif. 

Walau pasti diuntungkan oleh keberadaan pindahnya 33 perusahaan China yg lebih dulu ke Vietnam, sehingga Trump tidak memilih Vietnam sebagai basis kepindahan industriya. Tapi memilih Indonesia adalah juga tidak asal tunjuk, karena kalau mau Afrika sekarang juga lebih terbuka dan sedang berkembang. Pertimbangan lain pastilah Trump tidak mau begitu saja meninggalkan Asia yg penuh pesona, mereka tak mau membiarkan China menjadi Naga dan melilitkan ekornya kemana-mana.

2. Jokowi dan Indonesia sebagai penyeimbang. 

Sikapnya yg selalu mengambil posisi tak mau ribut, tapi bukan berarti penakut, lembek-lembek timah kata orang Bangka. Memanasnya hubungan Amerika dgn China akan merugikan dunia, dan sudah menyeret isu kemana-mana, termasuk Rusia ikut bicara. 

Kehadiran Jokowi berkomunikasi dgn Trump diharapkan tidak hanya bicara Industri maupun farmasi, tapi dgn gayanya yg hati-hati tapi pasti bisa mengkontribusi menyusup mendinginkan situasi, hal ini sangat mungkin dilakukan, karena filosopinya pelan tapi pasti. Dari sudut investasi Jokowi mendudukkan Indonesia agar tidak terkesan bisa di kuasai pihak tertentu, baik China maupun Amerika, yg selama ini sampai di framing bhw Indonesia antek China. Walau zaman orba kita bgt kuat jadi begundalnya Amerika. Tapi karena kaum penikmat merasa aman, makanya bacotnya diam, sekarang mereka geram, karena tak nyaman.

3. Jokowi menjawab antek China, dan mulut nyinyir JK.

Seperti kita fahami bahwa memframing komunis masih jadi pemanis, antek China adalah senjata kaum picisan menyerang Jokowi. TKA China selalu jadi isu seolah Indonesia akan di jajah China, padahal TKA adalah tenaga ahli yg datang utk menyelesaikan pembangunan investasi yg triliunan nilainya.

Baru saja mulut murahan seorang JK bicara seolah apa-apa kita minta ama China, emang ada yg bisa di minta. Statement murah itu hanya membangun benang merah utk 2024 yg sudah bisa ditebak, mereka mau memainkan isu agama dan pribumi lagi, apalagi isu Ahok akan hadir dalam kancah perpolitikan kembali. Kehadiran Ahok sbg Komut Pertamina dan calon kuat sebaga kepala Otorita IKN baru sudah meresahkan kaum pecundang yg mencoba menggalang kekuatan dgn cara lama, politik identitas yg tak pantas. 

JK jadi wapres dua kali tapi prilakunya tak menunjukkan kedewasaan berbangsa, kritiknya mengundang bahaya dan membuat panas suasana. Tua di sandang, dewasa tak di sandang, akhirnya jadi pecundang. 

Andai dia sadar prestasi awalnya bersama Sby, sekarang banyak monumen power plant yg jadi besi tua di Indonesia, ada 34 lokasi lengkap dgn bangkai besi. Cobalah introspeksi, jangan merasa bersih diri, padahal pernah ikut men**ri.

Sekarang Jokowi menggandeng Amerika dan China, terus pakcik mau jadi antek siapa. Mau berdiri sendiri atau main dua kaki yg biasa pakcik lakoni. Pakcik jangan pura-pura lupa mana ada berdagang tak pakai pembeli, manalah ada negara yg tak pakai jual beli, darah PMI saja harus kami beli. 

Jangan coba mau mentakel kaki Jokowi, sebelum sampai, kaki pakcik bisa patah dua kali. Marilah bersama membangun negeri jgn ada niat merusak lagi. Kita sudah lelah cuma berargumentasi dan unjuk gigi pakai maki-maki. 

MARI KITA JADIKAN
INDONESIA SEBAGAI POROS ASIA DAN PENYEIMBANG DUNIA

===========================
BREAKING NEWS: Indonesia won the battle over Southeast Asian countries as a main destination for the relocation of US factories. Trump decided to relocate around 27 US factories from China to Indonesia. Conflict between USA and China has greatly benefited Indonesia. Some of European & Japan companies also join the US to go out from China to cut world supply chains from China. 

 

Indonesia under the administration of President Joko Widodo made a very fast movement to seize almost all the US companies from China. Huge incentives including freeing up land for 5 years and holding direct talks with the President of the United States and all heads of US companies is one of the ways taken to succeed in seizing US multinational companies. Brebes Industrial Park in Central Java with around 4000 hectares land is the biggest land to accomodate US factories relocation along with others 25 Industrial Area.

When Vietnam was chosen by some Chinese company due to it’s closer geography to China & cheaper labour, Indonesia won the relocation of the company from the United States due to it’s huge manpower productivity, better infrastructure, huge land and incentives. Chinese-owned company domination in Vietnam also being a reason why more US companies prefer Indonesia. Indonesia (US company) and Vietnam (Chinese company) are between the US-China conflict.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

 
Sunday, May 17, 2020 - 05:15
Kategori Rubrik: