Jokowi Lancarkan Serangan Balik, Kejar Aset di Luar Negeri, Bangun "Rotterdam" di Indonesia

Oleh: Ricky Vinando

Jokowi pada pekan lalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Kompleks Maasvlakte II, pelabuhan Rotterdam, Belanda. Bagi Jokowi kunjungan ke Eropa, terlebih lagi ini adalah kunjungan bersejarah Presiden Republik Indonesia karena ini adalah kunjungan pertama sejak 16 tahun terakhir harus dimanfaatkannya untuk melihat dan memotret serta mengambil tips-tips apa saja yang diberikan dari Pemerintahan Kerajaan Belanda dalam mengelola dan membangun negeri kincir angin tersebut.

Sejak Jokowi pertama kali menginjakan kaki di Kompleks Maasvlakte II, pelabuhan Belanda, hati Jokowi langsung berbunga-bunga membayangkan agar Indonesia bisa memiliki pelabuhan kelas dunia seperti pelabuhan Rotterdam di Belanda Bagaimana mungkin jika Jokowi tidak terkagum-kagum dengan pelabuhan Rotterdam, Belanda, yang sangat menakjubkan di pelabuhan tersebut ada terminal kargonya, pengelolaan minyak serta adanya Maeslantkering yang juga berada di satu tempat yang sama yakni di Pelabuhan Rotterdam, Belanda.

Maeslantkering merupakan salah satu bentuk kecanggihan teknologi yang dimiliki oleh negeri kincir angin. Menarik sekali Maeslantkering karena teknologi pintu air raksasa penahan banjir yang secara otomatis akan tertutup ketika terjadi terjangan badai di tengah lautan. Pintu air dengan menggunakan teknologi Maeslantkering ini dapat menangkal terjadinya banjir di negeri kincir angin tersebut. Bagi Jokowi selama ini Indonesia sudah terlalu lama dibiarkan tertinggal jauh dari negera-negara lainnya dan ketertinggalan Indonesia itu sudah hampir di semua sektor.

Belanda yang merupakan salah satu negara paling maju di Eropa memiliki keunggulan di mata dunia internasional karena Belanda bisa mengelola laut dan perairan dengan menggunakan teknologi canggih semacam teknologi Maeslantkering yang secara otomatis akan tertutup pintu airnya ketika terjadi terjangan ombak di tengah laut. Di pelabuhan Rotterdam pula Jokowi melihat kecanggihan lainnya yang membuat Rotterdam menjadi pusat perdagangan dunia.

Di pelabuhan Rotterdam, Belanda, Jokowi melihat adanya bukit pasir di pesisir Hoek Van Holland yang dipotong dan jalur baru digali sampai menuju pelabuhan Rotterdam, yang mana dari hasil penggalian tersebut di pelabuhan Rotterdam terdapat jalur air yang baru. Sungguh menakjubkan bagi Jokowi. Tak hanya ada jalur air baru dari hasil bukit pasir yang dipotong oleh pemerintahan Belanda, tetapi di pelabuhan itu juga terdapat cekungan-cekungan yang baru digali. Alat angkut bertenaga uap dan mesin lainnya memfasilitasi keluar-masuknya barang-barang di pelabuhan itu dan kereta api barang juga bisa dengan cepat mengangkut barang-barang yang diturunkan dari kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Rotterdam. Di pelabuhan Rotterdam, Belanda juga terdapat Betuweroute, yang merupakan jalur kereta api barang yang baru yang menghubungkan antara Rotterdam-Jerman.

Tentu setelah mengunjungi langsung pelabuhan Rotterdam, Belanda, Presiden Jokowi langsung terbesit di dalam pikirannya untuk membangun pelabuhan berkelas internasional tersebut di Indonesia. Sehingga tak heran jika akhir-akhir ini Jokowi makin mengebu-gebu untuk segera dan secepat mungkin menerapkan tax amnesty atau pengampunan pajak bagi wajib pajak asal Indonesia yang sengaja memarkirkan uangnya di luar negeri.

Bagi Jokowi, setelah tax amnesty diberlakukan maka duit-duit orang Indonesia yang terparkir di luar negeri harus bisa dibawa pulang kampung yang tak lain tujuannya adalah agar bisa dipakai untuk membangun infrastuktur kelas dunia di Indonesia. Indonesia yang masuk dalam 10 besar negara yang uangnya diparkirkan di luar negeri pun memaksa Jokowi untuk memulangkan uang-uang itu ke dalam negeri yang tak lain tujuannya adalah agar uang-uang itu bisa di simpan di Bank-bank di dalam negeri, karena pemerintah bisa meminjam uang-uang itu untuk mengembangkan perekonomian nasional yang menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan sebuah negara dalam membangun negaranya.

Kalau ini menjadi kenyataan maka perekonomian Indonesia bisa dipastikan akan melesat karena adanya dana ratusan bahkan ribuan triliun yang bisa dipakai untuk membangun Indinesia dari semua sektor yang selama ini sudah tertinggal jauh dari negara-negara lain di dunia. Salah satu opsi yang bisa dilakukan Jokowi untuk memulangkan uang-uang yang sengaja diparkirkan di luar negeri tersebut adalah tax amnesty atau pengampunan pajak. Dimana untuk dapat memulangkan uang yang diparkirkan di luar negeri tersebut Jokowi menggunakan jurusnya yakni mengancam para pemilik uang-uang tersebut dengan mengatakan bahwa era keterbukaan perbankan dunia akan dimulai pada tahun 2017-2018. Sehingga kedepannya akan menjadi lebih gamoang untuk mengetahui pihak-pihak yang sengaja memarkirkan uangnya di luar negeri.

Bagi pemilik uang yang memarkirkan uangnya di luar negeri tak ada pilihan lain selain mengikuti kebijakan tax amnesty atau pengampunan pajak yang dalam waktu dekat akan diberlakukan pemerintah apabila RUU Tax Amnesty selesai disahkan menjadi UU. Dukungan untuk secepat mungkin memberlakukan tax amnesty di Indonesia pun sudah mendapatkan dukungan penuh dari DPR yang mana Ketua DPR, Ade Komaruddin pun memastikan pembahasan RUU Tax Amnesty akan selesai pada akhir April ini. Itu artinya sudah tidak ada lagi ganjalan dari parlemen terhadap Jokowi sebagaimana sebelumnya Jokowi selalu diganjal di parlemen. DPR sepakat dengan kebijakan tax amnesty karena dengan diberlakukannya kebijakan ini maka uang-uang yang sengaja diparkirkan di luar negeri bisa dipulangkan dan disimpan di Bank-bank dalam negeri yang tak lain tujuannya adalah pemerintah ingin meminjam uang-uang itu untuk membangun infrastrktur dalam negeri juga terus mengembangkan berbagai sektor yang selama ini tidak terlalu pesat perkembangannya.

Jokowi yang pada pekan lalu sempat mengunjungi pelabuhan Rotterdam, Belanda pun semakin bersemangat untu cepat-cepat menunggu kabar baik dari DPR yakni selesai dibahasnya RUU Tax Amnesty, karena jika kabar baik itu sudah datang , maka keinginan Jokowi untuk membangun pelabuhan berkelas seperti pelabuhan Rotterdam di Belanda pun bisa terwujud karena tidak main-main jumlah uang yang diparkirkan di luar negeri sungguhlah besar nilainya yakni mencapai 11 ribu triliun. Bagi Jokowi uang sebesar itu harus bisa dimanfaatkan untuk membangun dan mengejar ketertinggalan infrastrktur dalam negeri karena jika infrastruktur yang merupakan fondasi awal kemjuan dari sebuah negara tidak dibangun, maka keinginan Jokowi menjadikan Indonesia sebagai negara besar dan maju pun tak akan terwujud.

Meskipun saat ini Indonesia sudah memiliki pelabuhan-pelabuhan yang cukup besar salah satunya pelabuhan Tanjung Priok , hal ini tetap saja kurang berarti bagi Jokowi karena pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan yang belum berkelas sehingga tak ada pilihan lain bagi Jokowi untuk memulangkan uang-uang yang sengaaj diparkirkan di luar negeri tersebut agar bisa dimanfaatkan untuk membangun pelabuhan berkelas. Untuk membangun pelabuhan berkelas dan menggunakan teknologi canggih sebagaimana pelabuhan Rotterdam, yang dilengkapi dengan terminal kargonya yang canggih, pengelolaan minyak serta adanya Maeslantkering di satu tempat (di pelabuhan Rotterdam) maka Jokowi akan memanfaatkan uang 11 ribu triliun tersebut untuk membangun pelabuhan sekelas Rotterdam yang bisa menangkal terjadinya banjir karena pintu airnya akan tertutup secara otomatis pada saat terjadi terjangan ombak yang tinggi di tengah laut.

Karena bagi Jokowi membangun pelabuhan dengan teknologi canggih seperti pelabuhan Rotterdam adalah satu-satunya cara terakhir yang bisa ditempuh untuk membebaskan Jakarta sebagai Ibu Kota dari banjir termasuk pula genangan air apabila intensitas hujan turun dengan sangat lebat dan berlangsung sampai semalaman. Bagi Jokowi selama ini menjadi Presiden, Jokowi akan berusaha semaksimal mungkin mendobrak sesat pikir masyarakat Indonesia selama ini yang sudah pesimistis bahwa banjir bisa diatasi dengan berbagai kebijakan.

Selama ini berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah berhasil membuat Jakarta tidak dilanda banjir lagi akan tetapi itu saja belum cukup bagi Jokowi sejak Jokowi pulang dari pelabuhan Rotterdam, Belanda yang terbesit di dalam pemikirannya saat ini adalah satu yakni membangun pelabuhan sekelsa pelabuhan Rotterdam, Belanda yang sangat canggih karena bisa menangkal banjir. Bagi Jokowi mengadopsi kecanggihan teknologi Belanda adalah sebagai wujud bentuk bahwa Jokowi memang bertekad untuk menghilangkan sejarah banjir di Ibu Kota. Meskipun dahulu kala pada masa penjajahan Belanda pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun, itu bagi Jokowi adalah masa lalu yang tak patut dan tak panats untuk di ingat-ingat kembali apalagi mengungkit-ungkit kesalahan Belanda kepada Indonesia 350 tahun yang lalu.

Bagi Jokowi saat ini cuma satu yakni bagaimana Indonesia bisa meniru pembangunan pelabuhan super canggih seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kerajaan Belanda yang berhasil membangun pelabuhan yang sekaligus bisa menangkal terjadinya banjir pada saat terjangan ombak mulai menerjang kawasan lautan. Bagi Jokowi kunjungan bilateralnya ke Belanda pada pekan lalu adalah kunjungan yang sangat bernilai tinggi karena dari kunjungan itu Jokowi bisa bekerjasama dengan Belanda soal pembangunan pelabuhan sekelas Rotterdam yang dilengkapi sebuah kompleks bisa dibangun Jokowi di pusat Ibu Kota Indonesia, DKI Jakarta. Dan jika pembangunan pelabuhan sekelas Rotterdam dilakukan oleh Jokowi , maka keinginan Jokowi mengembalikan Indonesia sebagai poros maritim dunia akan cepat terwujud.

 

Tuesday, April 26, 2016 - 19:15
Kategori Rubrik: