Jokowi Jangan Sampai Digergaji

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Selesai tahap awal hingar bingar pencapresan kaum pemangsa kekuasaan, dengan segala manuvernya akhirnya menghasilkan capres yang dari semula kita terka.

Head to head Prabowo vs Jokowi tak terhindari, bahkan strateginyapun sudah bisa ditebak. Isu SARA pastilah masih dipiara, caci maki, fitnah dan kritik tanpa data sudah tabiat mereka, kita tidak boleh ikut gila.

 

 

2014, dengan Obor Rakyat mereka menebar isu PKI dan keturuanan Cina, Jokowi yang asli islam dan asli Jawa dihajar sedemikian rupa agar islam dan Jawanya hilang. Sementara yang islamnya tak jelas, dan Cinanya malah yang jelas seolah naik kelas.

Ini adalah kesempatan terakhir Prabowo nyapres dan disini pula mereka akan all out berusaha, ocehan islam, ulama, dan agama sudah lagu lama. Mereka sudah tak punya malu bahkan kepada Tuhanpun mereka berani menipu, dan itu dianggap mereka bak angin lalu, makanya kita tak perlu ikut ikutan menari dari sudara gamelan mereka, kita harus beda, bermartabat dan tetap di jalan yang benar dan tepat.

2014 saat Pak Jokowi memulai niat membenahi negeri, dihantam kanan-kiri dengan fitnah keji, perlindungan dari illahi, semua bisa dilalui, sekarang tegak berdiri bekerja bersama rakyat yang makin cermat melihat sebuah hasil yang begitu nyata dari sebelumnya. Modal 2014, dari 34 provinsi Jokowi memenangi 24 provinsi dengan selisih 8 jutaan suara. Jokowi kalah telak di Jabar, NTB dan Sumbar. Tiga wilayah jawa ( Timur, Tengah dan Barat ) menyumbang 52% suara untuk Prabowo, dan Jabar yang membuat perbedaan mencolok dimana Prabowo mendapat 14,1 jt suara sementara Jokowi 9,5 jt suara.

Kondisi saat ini Jabar dan Sumbar sudah mulai memudar untuk Prabowo, NTB takluk karena TGB sudah jelas mendukung Jokowi, hanya Jatim menjadi abu-abu karena Demokrat memenangi pilgub, dan Karwo masih ketua Demokrat. Walau dia katakan awalnya mendukung Jokowi, namun politik mewaspadai harus selalu dijalankan, perampas kekuasaan dalam jajaran oposisi skrg ini - 1000 % pun tidak bisa dipercaya lagi, karena Tuhan saja diplokotoi apalagi sebuah janji.

Saya kok berfikir sebaiknya relawan Jokowi tidak usah buang energi lagi, lawan kita sudah pasti, tabiatnya kita mengerti, menjual diri dengan balutan agama, nasionalisme, anti asing, yang sejak dulu didengungkan, ini isu basi, justru kita harus hati-hati di acara bilik suara nanti, serta hasutan sehari-hari dari mulai rumah ibadah sampai WC umum pasti mereka sambangi, duit m.ereka tak berseri nafsunya sedang dipuncak, tinggal ejakulasi. Ini yang harus dihalangi.

Para relawan siapkan jadi saksi yang tidak perlu di bayar. TPS jumlahnya 800.000 di 510 Kabupaten-Kota, 7.131 di Kecamatan, dan 82.700 di Kelurahan. Total ada +/- 900.000 TPS. Disanalah para relawan harus hadir. hadirkan dirimu untuk Indonesia, JANGAN SAMPAI DIA MERAMPOK SETELAH MEMBAKAR RUMAH KITA. Kita harus aktif bergerak kalau kita tak ingin di palak.

Ingat masalah wapres sudah selesai, jangan dengar komen mereka karena energi kita akan terhisap kesana, konsentrasi saja pada ranah yang berbahaya agar kita terlepas dari mulut buaya.

ENERGI KITA UNTUK INDONESIA, BUKAN NGURUSI BARANG BEKAS TAK BERKUALITAS.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Saturday, August 11, 2018 - 22:30
Kategori Rubrik: