Jokowi Hari Ini dan Calon Penantangnya

Oleh : Sahat Siagian

Kelihatannya Anies akan berlaga di pilpres 2019. Bukan sebagai cawapres melainkan Capres. Dari partai mana? Demokrat-PKS-PAN. Tentu, sudah bisa ditebak, Agus Harymurti tampil sebaga Cawapres. Pilihan ini diambil Demokrat untuk bertahan pada tawaran minimal: AHY Cawapres. Selanjutnya pasangan ini saya sebut ANA.

PKS berkhianat dari Gerindra. Bagaimana tidak? Mereka berada di bawah pengaruh besar Jusuf Kalla beserta Sudirman Said dan Anies Baswedan—tiga serangkai yang menyelusup dan membongkar Paramadina. Dua kali kemunculan Jusuf Kalla pekan lalu bersama Anies sudah mengirim kode keras kepada para bandar. Dugaan saya, Partai Berkarya dan PBB juga bakal masuk barisan.

Jangan tanya kenapa Anies nanti bersedia menerima sokongan keluarga Cendana. Dia cabo intelektual sesungguh. Nyalinya segunung untuk mempermalukan diri sendiri atas ratusan ucapan masa lalu yang bersilang-sengkarut dengan tindakan hari ini. Hal yang lebih memalukan daripada memuja Prabowo, yang dulu dia hina secara kejam, akan bertebaran di depan mata.

Lalu ke mana Gerindra pergi? Kubu di sana sudah terlalu sesak. Mereka gak mungkin kebagian kue besar. Pilihan paling rasional adalah bergeser ke kubu yang, meski tidak membagi kue lebih besar, memberi kepastian lebih kuat. Kubu mana? Tentu saja kubu Jokowi.

Tak sukar bagi Prabowo pindah ke sana. Pastilah dia tak akan minta jatah Wapres, cukup diberi jaminan 3-5 menteri di Kabinet Kerja jilid -2. Bertaruh apa pun, kubu Jokowi akan menyambut mereka dengan tangan terbuka dan wajah ceria. Yang sulit memang tentang bagaimana Fadli Zon mengubah narasi.

Indonesia kembali terbelah dua. Lalu siapa pasangan paling pas bagi Jokowi untuk menjewer Anies-AHY?

Ada 2 kemungkinan.

Pertama, saya tetap pada usulan 2 bulan lalu: Mahfud MD. Mantan ketua MK ini kuat beradu-mulut dengan siapa pun. Serangannya tajam, terbuka, dan siap melakukan adegan babarik.

Berhadapan dengan Mahfud MD, ANA keder mengusung ayat, gak berani menyemprot pidato radikal, bahkan jiper beradu gagasan soal keamanan, politik, hukum, dan perundang-undangan. HTI, FPI, dan para gerombolannya cuma berani teriak-teriak di dalam pagar sambil mengenang Firza dan timun sawah.

Kelemahannya? Andai ANA menyerang JOMA soal ekonomi, bisnis, dan industri, mereka unggul di sisi citra. Muda, necis, mengilat, dan retorika nginggris tapi kosong. Akan lebih sial kalau pada akhir 2018 Indonesia mengalami masa surut akibat hegemoni Trump. JOMA terlihat lusuh. Maka saya tawarkan Anda kemungkinan kedua.

Tuan Guru Bajang (TGB). Dia mengilat, retorikanya—meski tak senginggris ANA—terukur, kuat, dan menghujam sasaran. Personalitasnya adalah dambaan kaum yang rela puterinya jadi istri ke sekian. Dia terbilang sukses di NTB.

Kelemahannya adalah soal komitmen kebangsaan. Saya kira, sebelum menentukan putusan, PDIP perlu ngobrol dengan TGB 3 hari 3 malam plus 7 kali blind date. Dia harus sadar bahwa dalam konteks Indonesia, posisi hukum agama berada di bawah Pancasila dan UUD 45.

Terjadi keretakan di mana-mana. TGB adalah sesuatu yang sekarang terlihat oleh keretakan itu. Dan jika Gerindra serta TGB berada di sisi Jokowi, persoalan pindah ke suasana di antara para cebong. Akankah mereka berdua diterima baik? Relakah Fadli Zon duduk berdampingan saling puji dengan Adian Napitupulu? Kekerasan adalah biang perkara. Dan Anda butuh crack.

Sometimes when everything's cracked, that’s how the light gets in. It shows you the way out of the darkness

Sumber : facebook Sahat Siagian

 

Tuesday, July 10, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: