Jokowi Dikalahkan Setya Novanto?

Oleh Ninoy E. Karundeng

Ya. Presiden Jokowi kalah. Setya Novanto memenangi pertempuran kasus Papa Minta Saham di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Bahkan Fahri Hamzah menyatakan kasus hukum Setya Novanto akan menguap dan hilang. Ya memang. Sejatinya, setelah Setya Novanto ditetapkan sebagai Ketua Fraksi Golkar di DPR, Presiden Jokowi telah dikalahkan dalam pertempuran oleh para mafia dan gerombolan koruptor. Mari kita telaah kekalahan pertempuran Presiden Jokowi melawan mafia dan koruptor Petral dengan hati riang gembira ria sentosa bahagia suka-cita pesta-pora menari menyanyi ngakak menertawakan maneuver Setya Novanto dan para koruptor dan mafia dengan berjingkrak break dance selamanya senantiasa.

Betapa tidak, bahkan, MKD pun tidak memberi hukuman kepada Setya Novanto. Pun, skenario gagal MKD pun pada detik terakhir mampu membalikkan keadaan ketika pada 16 Desember pukul 20:00 lebih sekian menit, MKD menunggu Setya Novanto yang bermanuver di tikungan dengan cerdas: mundur dari jabatan sebagai Ketua DPR. Implikasinya sungguh luar biasa dan jelas publik dan Presiden Jokowi digunduli habis-habisan.

Implikasi pertama, Setya Novanto tidak pernah dijatuhi hukuman oleh MKD. Tak terbukti melanggar etik. Kenapa? Tidak ada amar putusan dari MKD jika Setya Novanto melanggar etik. Yang ada cuma pandangan anggota MKD 9 menyatakan pelanggaran etik sedang, dan 7 berat. Arah hukuman berat itu adalah akal-akalan agar (1) dibentuk panel ad hoc MKD, (2) untuk secara permanen membebaskan Setya Novanto.

Dengan panel ad hoc Palanggaran Etik Berat akal-akalan yang terdiri dari 4 orang luar dan 3 anggota MKD DPR – dengan segala upaya kendali kekuatan finansial para mafia migas dan Petral pimpinan Reza atau Riza Chalid – dapat dipastikan akan memutuskan Setya Novanto tak bersalah: lagi-lagi dengan alasan (1) bukti rekaman tidak valid dan (2) legal standing pelapor baik Sudirman Said maupun Maroef Sjamsoeddin (Alasan dan akal bulus yang anak kecil atau bayi yang waras otaknya meski belum lahir pun tahu skenario menipu publik, culas, akal-akalan MKD terkait Setya Novanto).

Implikasi kedua, Setya Novanto pamer kekuatan penuh dan akan mengendalikan DPR melalui kaki tangan di Fraksi-fraksi DPR. Selama masih berkuasa di Fraksi Golkar DPR, Setya Novanto masih 100% berkuasa sebagaimana biasa: Ketua DPR akan diatur-atur oleh Setya Novanto. Apalagi kekuatan mafia dan koruptor seperti Riza Chalid membekap dan berpengaruh di percaturan (1) politik, (2) hukum, (3) ekonomi, (4) pendidikan, (5) sosial, dan (6) budaya sangat luar biasa massif, terstruktur, dan sistematis. Contoh praktis kasus Setya Novanto Papa Minta Saham yang mencatut nama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla yang masih menunjukkan indikasi kekalahan pertempuran Presiden Jokowi melawan mafia dan koruptor.

Implikasi ketiga, the Operators bergerak lagi dengan penuh seluruh kekuatan, karena Fahri Hamzah telah sesumbar bahwa kasus Setya Novanto akan hilang menguap. Suatu bentuk peringatan dan tantangan tidak hanya kepada Kejaksaan Agung, Polri, namun secara keseluruhan menunjukkan tantangan dan perlawanan yang secara gamblang disampaikan oleh Fahri Hamzah kepada the Operators. Tanpa campur tangan the Operators of silent operation dipastikan Presiden Jokowi akan kalah dalam pertempuran.

Dengan demikian, jadi naiknya Setya Novanto sebagai Ketua Fraksi Golkar telah mengembalikannya menjadi the untouchable, mighty, and unstoppable. Maka jelas kembalinya orang terkuat di Indonesia Setya Novanto ini wujud kekalahan pertempuran Presiden Jokowi melawan mafia dan para koruptor pimpinan Riza Chalid. The Operators cuma mencatat kekelahan Presiden Jokowi dalam satu pertempuran: not the war. President Jokowi with the hands of the Operators is definitely going to win the war, subsequently Mr Setya Novanto is going to be behind bars when convicted by the court.

Salam bahagia ala saya.

Sumber: Kompasiana
 
 
 

 
 

Saturday, December 19, 2015 - 22:00
Kategori Rubrik: