Jokowi Dicucuk

ilustrasi
Oleh : Harun Iskandar
Kemaren dimulailah fase baru 'penanggulan' pandemi Covif-19. Vaksinasi. Semua sudah kita lakukan, dari 3M, juga berdoa sampek 'mèsèr2', kata Arek Suroboyo.
Hari pertama vaksinasi, tanggal 13 Januari 2020, diawali di Istana Negara. Presiden Republik Indonesia, Jokowi, ditemani oleh sejumlah pejabat negara dan publik, tokoh agama, tokoh masyarakat, sosialita, rame2 secara bergilir di cucuk.
Di 'cucuk' ini bukan berasal dari bahasa Jawa, yang artinya dipatuk, ayam atau bangsa burung2an, tapi dari bahasa Melayu, Malaysia. Dalam bahasa Inggris, kata 'cucuk', sama dengan pierce, atau inject.
Seorang warga negara tetangga, agaknya sedikit 'iri' dengan kita. Kok kita, Indonesia, sudah mulai dapat suntikan vaksin dengan 'percuma', gratis.
Yang awali, Presiden lagi. Tulis warga negeri tetangga tadi di twitter. Coba kalau PM-nya, Perdana Menteri, yang baru, Muhyidin Yasin, mau juga lakukan itu. Di 'cucuk' vaksin . . .
Beberapa pekan sebelumnya, sebagian orang kita pada sibuk persoalkan halal atau tidaknya di vaksin, Sinovac, produksi Republik Rakyat China.
Halal tidaknya dipertanyakan, terutama karena mengandung ke'Babi'an. Dikira begitu . . .
Konon yang 'dikira' berasal dari babi itu adalah 'tripsin'. Fungsinya sebagai 'katalisator' untuk reaksi yang merubah protein menjadi makanan kuman.
Meski ikut 'aktif' dalam proses produksi makanan buat kuman. Si 'Tripsin', ndak habis ikut bereaksi. Tapi balik lagi ke bentuk semula. Ya tripsin tadi . . .
Jadi kuman tadi dibiakkan, diberi makanan, setelah jadi 'bahan vaksin', dimurnikan lagi. Bahan2 yang ndak perlu dibuang. Jadi ndak ada lagi yang 'bau2' babi . . .
Jadi bukan seperti bikin jamu, bahan ini itu dicampur lemak babi, digiling, lalu di packing. Ndak. Ndak begitu . . .
Kita orang, lewat Biopharma, sebenarnya sedang bikin 'katalisator' dari bahan sapi. Belum jadi. Lama. Katanya bisa 15 taun-an. Sebelum jadi, Corona sudah muncul duluan.
Apakah ada semacam konspirasi, kok pakai binatang Babi yang diharamkan oleh 'umat Islam' ?
Ndak usah GR. Dipilih babi, karena mahluk ini struktur jaringannya mirip manusia. Anatomi dan fisiologi.
Jadi kesimpulannya ? Ya, ndak usah sombong, suka berlagak. Biasa saja. Selow. Wong ternyata mirip. Ternyata jauuuuh sebelumnya, Tuhan telah memberi peringatan.
"Tuh . . . !" Kata Tuhan. Seakan-akan begitu . .
Wwk wk wk . . .
Secara teknis vaksin2 produksi China, memang begitu typenya. Pakai virus atau kuman yang dibikin ndak aktif. Ini cara 'kuno'. Beda dengan vaksin2 produksi negeri2 Barat. Seperti Jerman, Rusia, atau Amerika.
Mana yang lebih bagus, nanti saja kita tunggu buktinya. Yang jelas, waktu diuji coba di dalam negeri tempohari, 'Efikasi' vaksin sinovac sekitar 65,8 persen.
Balik lagi ke masalah halal dan haram. Lembaga Fatwa Mesir, Dar Al-Ifta, umumkan vaksin Covid-19 meski 'mengandung' babi, dinyatakan halal. Karena sudah dirubah menjadi bentuk yang lain.
Mungkin mirip2 kandungan 'alkohol' dalam tape.
Fatwa ulama Uni Emirat Arab, juga begitu. Alasannya ini kondisi darurat . . .
Kita ? MUI sudah stempel kehalalannya. Suka ndak suka . . .
Kalau saya, andai boleh divaksin dan dapat jatah, mandiri atau 'free', tentu saya sangat senang. Bahkan bahagia.
Karena 'ilmu' saya masih cêthèk, maka ndak saya pikir lagi, halal dan haramnya si vaksin itu
Bukan juga karena saya melulu ingat sehat, terhindar dari virus Corona, tapi paling tidak saya sudah berusaha untuk jadi sehat dan imun. Biar ndak jadi 'inang' bagi si Corona. Dan bisa jadi lantaran, jadi penyebab, orang lain ikut tertular. Istri, Anak, Saudara, Tetangga, Teman, Kenalan, . . .
Berarti ndak peduli, halal dan haram-nya ?
Sudah saya sebut diatas, 'ilmu' saya cêthèk, pikirannya saya pun dangkal. Mungkin . . .
Yang jelas saya ndak mau cari2 jalan ke sorga sendiri. Dengan begitu repot2 teliti halal-haram vaksin. Tanpa hirau keselamatan orang lain.
Itu sama dengan 'ancik2', bertumpu, diatas penderitaan orang lain. Nurut saya, itu ndak sopan. Ndak etis. Adab-e ndlosor . . .
"Tuh . . . !" Nanti Tuhan dawuh begitu.
Tabek . . .
Friday, January 15, 2021 - 11:00
Kategori Rubrik: