Jokowi dan Visi Pengembangan Dunia Islam

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Saya tidak paham dengan pikiran sebagian kelompok muslim yang memusuhi presiden Jokowi. Menganggap diri mereka tertindas karena banyak kriminalisasi ulama. Terus, Jokowi harus campur tangan atau intervensi kepada lembaga hukum (yudikatif) gitu? Jokowi harus melarang dan membatalkan ulang yang diproses hukum meski ia melanggar hukum, gitu? Paham Trias Politika?

Apalagi kesalahan Jokowi bagi mereka yang kerap menghinanya? Apa yang diperjuangkan kelompok Islam Garis Keras ini selain mengubah NKRI menjadi Negara Islam serta mengubah dasar negara Pancasila menjadi Khilafah? Ya, karena Jokowi tidak mendukung cita-cita mereka, sehingga Jokowi dimusuhi bahkan harus dijatuhkan. Semakin terbuka, tidak perlu malu lagi, mereka yang berafiliasi kepada HTI dan ISIS jelas-jelas ingin mengubah Indonesia.

Karena kalau bicara hijrah, misalnya, maka semua dilakukan dengan penuh akhlak dengan perbanyak ibadah dan amalan, serta tetap berada dalam bingkai NKRI. Bicara Islam itu adalah rahmatan lil alamin. Lihatlah kelompok Islam yang lain (NU dan Muhammadiyah), mereka merasa baik-baik saja. Tidak merasa tertindas, tidak dibatasi, tidak pula dikriminalisasi, bahkan segala kiprah mereka selalu dibantu oleh pemerintah.

Jokowi adalah seorang haji yang sangat dihormati oleh pemerintah dan keluarga Raja Arab Saudi. Jokowi masuk sebagai orang ke-13 sebagai muslim yang paling berpengaruh di dunia. Jokowi pun kerap menjadi imam sholat, serta melakukan amalan lain yang sama yang diajarkan kepada umat Islam di mana pun di seluruh dunia, seperti berpuasa, bersedekah dll. Jokowi pun memiliki perjuangan besar terhadap kaum muslim terutama di Indonesia.

Sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar di seluruh dunia, Jokowi ingin Indonesia menjadi pusat ataupun "kiblat" bagi perkembangan ilmu pengetahuan tentang Islam. Untuk itu ia menyetujui membangun Universitas Islam Internasional Indonesia (mulai 2016 hingga target selesai akhir tahun 2020). Dalam senyap tanpa gembar-gembor, kampus UIII dibangun di Cimanggis, Depok, Jawa Barat di atas lahan seluas 142 hektare dengan menelan total biaya Rp 3,5 T.

Pembangunan telah direncanakan sejak tiga tahun lalu yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pendirian UIII pada tanggal 29 Juni 2016. Jokowi mengatakan, pembangunan kampus UIII ini memiliki cita-cita agar benar-benar bisa menjadi pusat kajian dan penelitian peradaban Islam, "Sudah saya masukkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional," ucap Jokowi.

Keberadaan UIII tersebut diharapkan dapat menjadi pusat literasi untuk peradaban Islam dunia dengan bekerja sama dengan sejumlah universitas asing dari Amerika Serikat, Inggris, Malaysia dan Australia. UIII akan membuka beberapa fakultas antara lain Studi Islam, Humaniora, Ilmu Sosial, Sains dan Teknologi, Ekonomi dan Keuangan, Pendidikan serta Apllied and Fine Arts; dengan jenjang pendidikan S1, S2 dan S3.

Sementara itu pula Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) turut mempersiapkan infrastruktur pembangunan Indonesia Islamic Science Park di kaki jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura (Suramadu). Di dalam konsepnya akan ada sentuhan budaya Islam moderat, hotel bintang 7 hingga floating market. Indonesia Islamic Science Park rencananya akan dibangun di atas lahan seluas 101 hektare (Ha).

"Jadi ini area yang membangun satu titik di mana proses untuk bisa mengekspresikan budaya terutama Madura. Kemudian budaya Islam moderat, di situ kita menyiapkan formatnya bagaimana sesungguhnya Islam hadir di Indonesia dengan proses akulturasi budaya yang dilakukan oleh Wali Songo. Kita bikin kayak piramid-piramid, tapi formatnya sudah menggunakan augmented reality,” ujar Khofifah di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

"Kita ingin sampaikan betapa sebetulnya lokal yang dimiliki oleh Wali Songo itulah yang kemudian menjadikan Islam mudah diterima di kawasan berbagai daerah di Indonesia,” tambahnya.

Dia melanjutkan, karena sasarannya generasi milenial, di Indonesia Islamic Science Park tidak akan terlalu banyak papan informasi, tapi ruangan besar yang menawarkan pengamalam interaktif. Adapun komposisi yang ditampilkan ada sekitar 20% edukasi, 30% untuk hiburan, 50% seni. proyek tersebut masih menunggu Peraturan Presiden (Perpres). Jika sudah keluar maka Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) akan segera mengerjakan dan mencari investor.

Jadi sebenarnya, entah di mana letak penindasan rezim Jokowi terhadap umat Islam? Bukankah pengajian akbar dengan pembahasan yang bebas masih diperbolehkan? Kaum Islam beraliran Garis Keras juga bisa demo dengan leluasa tidak dihalangi? Masih bisa beribadah di manapun dengan aman (bandingkan dengan kaum minoritas yang sulit bangun tempat ibdah). Betapa pemerintah justru punya visi besar bagi perkembangan peradaban Islam di dunia?

Inilah yang disebut propaganda dengan cara provokatif. Mereka gunakan sentimen agama dengan istilah hijrah untuk kemudian dicuci-otak menjadi sangat membenci pemerintah dan khususnya Jokowi. Mereka berlaku seolah teraniaya agar ada alasan memberi semangat perlawanan. Rakyat yang tidak tahu apa-apa direkrut dan dimanfaatkan menjadi martir. Jika berhasil maka issue martir diolah sebagai bukti otoriter rezim kepada kaum Islam. (Awib)

#JumatBerkah
#TetapBersamaJokowi

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Monday, October 19, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: