Jokowi dan SP 3

Ilustrasi

Oleh : Ade Winata

Ada beberapa yang kecewa dengan keluar nya Sp3 untuk habib rizieq, terutama dari para cebonger yang sangat loyal dengan ahok.

Tentu hal ini wajar, terasa sangat tidak adil dikala ahok dipenjara sedangkan yang menjadi lawan nya diberikan SP3 dari kasus hukumnya.

Ya sah sah saja. Namanya juga hidup gak ada yang ideal.

Saya mungkin tidak akan membahas nya dari segi hukum, karena toh SP3 itu masih masuk diskresi kepolisian, jadi bisa dikatakan tidak melanggar hukum.

Toh tujuan hukum itu banyak macam nya, kalau tujuannya saja banyak apalagi caranya..

.
.

Saya secara pribadi cukup banyak melihat manfaat dari SP3 habib rizieq ini.

Pertama, dunia hari ini sedang dalam kebangkitan kaum kanan jauh, di Amerika bahkan Trump menang dengan mengeksploitasi isu isu populis rakyat amerika.

Di Eropa pun sama, lalu bagaimana dengan Indonesia,

Ya iyalah, tingkat literasi kita saja masih jauh dibawah negara2 di 2 benua tersebut...

Jadi ancaman politik populis agama itu nyata.

Jadi ancaman politik populis agatma itu nyata.njadi simbol tersebut, banyangkan dari 20 tahunan yang lalu ia hanya menjadi orang suruhan jendral2 untuk pam swakarsa islami sekarang menjadi tokoh besar..

Yang bahkan Prabowo, Amin rais dan KMS PKS pun sowan dan silaturahmi ke dirinya..

Ini menandakan, dia menjadi simbol, menangkap HRS hanya akan memenjarakan tubuhnya namun narasi nya semakin berkibar.

Narasi pemerintah, anti islam, menyiksa ulama, hal-hal ini yang harus dikhawatikan bukan HRS,

HRS memang tidak akan memberikan dukungan Pada jokowi, atau pun ummat nya, namun SP3 ini mematikan narasi yang dibangun, bahwa pemerintah dikotomi dengan islam.

Yang kedua.

Kita semua sama-sama merasakan ketidaknyamanan rusuh-rusuh paska 2014 ini. baik cebong vs kampret dll.

Bagaimana cara meminimalisnya,

Andai PKS dukung jokowi, mungkin reda.

Namun kita rasakan betul, bahwa oposisi di negara kita tidak memiliki niat baik untuk meredakan polarisasi dimasyarat, mereka malah menikmati dan menjaga segala fitnah dan kebencian.

Padahal ini berbahaya,

Nah saya liat pemerintah ada arah untuk agar kisruh-kisruh ini tuntas lah di 2019, gak ada lagi term cebong atau kampret dll..

Ya tentu dengan mengurai kebencian yang pekat ini dengan memberi diskresi pada simbolnya nya...

Apa anda kira HRS bisa seperti ahok yang dikala didukung oleh massa demo nya malah nyuruh mereka pulang, dan jangan bikin macet.

Tentu beda orang, beda level, beda pula cara perlakuannya.

Siapa yang happy kalau segala polarisasi ini tuntas di 2019.. Kita semua kecuali mereka yang mendapatkan keuntungan dari kebencian baik dari pihak manapun.

Cuma memang susah untuk yang menganggap bahwa demokrasi itu bagian dari "pesta" bukan "perang"

Sumber : Status Facebook Ade Winata

Friday, June 22, 2018 - 19:00
Kategori Rubrik: