Jokowi dan Kasus Ahok

Oleh: De Fatah
 

Orang tidak dapat menerima kenyataan akhirnya berbuat diluar garis batas kewajaran. Walau yang mereka perjuangkan kebenaran tapi caranya salah tetap saja salah.

Sidang Ahok sudah selesai. Ahok dihukum 2 tahun penjara. Bentuk perlawanannya, Ahok mengajukan banding ke pengadilan tinggi. Saya menolak, pengerahan massa untuk menekan dan menuntut banding Ahok supaya diterima, bagi saya itu tidak taat hukum

 

 

Banyak hal-hal yang bisa dilakukan untuk menyadarkan orang tentang keadilan, keberagaman dan keberanian. Butuh kreativitas bukan Otot.

Kreativitas membuat orang-orang baik yang selama ini diam berani keluar rumah dan menyuarakan suaranya. Tapi jika otot yang dikedepankan, orang-orang baik akan berdiam diri dirumah dan mengunci rapat-rapat pintu rumahnya. Revolusi bunga, Seribu lilin dan Balon adalah contoh perlawanan dalam wujud kreativitas

Apalagi jika disangkutpautkan antara nasib Ahok dengan keberpihakan Jokowi. Seakan-akan Jokowi membiarkan Ahok. Pikiran seperti itulah yang sering saya sebut, "militan boleh dongok jangan".

Jokowi adalah Presiden NKRI, didalam NKRI ini bukan hanya Ahok. Banyak hal yang dipertimbangkan Jokowi untuk membela Ahok secara benderang. Ahok dimata Jokowi adalah nilai-nilai bukan orang. Integritas, kejujuran dan dedikasi itulah Ahok

Terlalu besar taruhannya untuk NKRI. Presiden jabatan politik. Banyak orang baik bersama Jokowi. Dan banyak pula musuh-musuh Jokowi yang berdo'a siang malam supaya Jokowi salah langkah. Karena itulah Jokowi hati-hati, banyak yang salah melihatnya terkesan Jokowi tidak peduli

Yang saya lihat, yang dilakukan Jokowi selama ini supaya kasus Ahok tetap dijalurnya tidak liar kemana-mana. Supaya jika Jokowi melakukan penegakan hukum kepada kelompok onar maka Jokowi masih punya muka. Karena penegakan hukum itu juga berlaku untuk Ahok, teman sejawadnya

Jokowi bukan petarung muaythai seperti Ahok. Seharusnya yang kita lakukan sekarang ini adalah gerakan menuntut penegakan hukum untuk semua pelaku onar lainnya. Aksi itulah yang diinginkan Jokowi. Banser dan Anshor lebih tanggap maunya Jokowi. Terbukti HTI korban pertamanya.

Untuk sekarang saya masih berdiri di depan Jokowi dan tetap mendukungnya dengan memakai akal sehat. Saya tidak peduli orang lain meragukannya. Bagi saya Jokowi tetap adalah kita
"Kadang kebenaran harus diperjuangkan dengan jalan memutar"

 

(Sumber: Facebook De Fatah)

Saturday, May 13, 2017 - 01:15
Kategori Rubrik: