Jokowi dan Jokower

Oleh: Sahat Siagian

 

Menjadi superstar itu berat. Bukan hanya harus menertibkan tingkah laku, juga harus pilah-pilih tempat makan, bioskop, barbershop, salon, mall, pun gadget. Sekali salah pilih, gak pas dengan branding kita, kamu terseret sekian strip dari tangga popularitas. Butuh satu hype untuk ngangkat balik, atau sabar dan tawakal merangkak ke atas lagi.

Menjadi presiden lebih berat lagi. Bukan hanya superstar, itu jabatan tertinggi di sebuah negeri yang setiap keputusannya berpengaruh kepada masa depan sekian juta atau sekian ratus juta orang. Apalagi kalau dia disukai rakyat, dipercaya bakal membuat nasib bangsa berubah, diharapkan sebisa mungkin jangan turun dari jabatan.

 

 

Dia harus berhadapan dengan para haters yang ngintip di setiap pengkolan, yang berharap menemukan apa saja untuk diplintir menjadi kabar buruk; berhadapan dengan lovers yang—sama dengan para haters—juga menguliti apa yang dikenakan, warna dasi , raut wajah, sampek ke printal-printilnya.

Itu yang terjadi dengan motor Jokowi. Rocky Gerung (yaelah, si Rocky lagi) ikutan nyinyir dengan membandingkan kepantasan bobot pengemudi berbanding bobot motor. Dia bilang, bobot si pengemudi sekurangnya harus sekian kilo. Ada nggak bobot Jokowi segitu, sungutnya dengan tarikan wajah menceng ke kanan. Saya bingung, gimana mungkin pakar filsafat ikut menyinyiri fashion dan gaya hidup? Kalau yang disoal perkara estetika, sila bicara. Tapi kalau perihal teknikal?

Rocky lupa bahwa Jokowi beli motor tersebut pakek uang dari koceknya. Dia memesan langsung dari pemilik bengkel motor Elders Garage, Heret Frasthio. Itu custom made, 70% tubuh motor adalah hasil crafting orang Indonesia, dirancang khusus buat pemesan dan pengendaranya—dengan demikian pas banget untuk tubuh Jokowi.

Sudah dicerca Rocky, Presiden juga mendapat tak sedikit umpatan dari para pendukungnya. Di jejaring saya tertemukan 23 komen nyinyir. Saya tahu persis bahwa mereka Jokower dan akan tetap memilih Jokowi di April 2019 nanti. Tapi mereka rupanya tak satu selera dengan apa yang terjadi pekan lalu.

Setahu saya Jokowi paling bersemangat jika diundang atau diminta mencicip produk baru karya orang Indonesia. Ia pernah mengendorse satu kedai kopi, pangkas rambut, jaket, jeans. Pekan lalu dia mengendorse Chopperland, juga jaket, celana denim, dan topi. Itu dia lakukan saban ada kesempatan. Dia merindu produk Indonesia tumbuh, membesar, membuka lapangan kerja, dan siap merangsek pasar di berbagai negara. Entah kenapa sebagian dari kita tak merasa nyaman.

Lalu Jokowi hadir di tengah manusia Asmat. Bersama Iriana dia menggendong beberapa anak, ikut berjoged secara natural di tengah musik Asmat. Sekali lagi saya nyatakan: Anda tak bisa memfabrikasi kebahagiaan lewat senyum. Sekian juta pasang mata siap memelototi dan dalam waktu singkat membongkar kebohongan.

Tapi, tengoklah, tak kita temukan satu komentar nyinyir yang menyoal senyum Jokowi beserta Iriana. Semua terlihat tulus. Alam Papua menyelimuti pasangan suami-istri nomor satu Indonesia itu. Mereka lebur di dalamnya. Enggal-enggol pinggul Iriana ketika tenggelam ke dalam bunyi tetabuhan Asmat tampak alamiah. Ia tidak menggerakkan tubuhnya melainkan digerakkan oleh Asmat.

Saya juga tersima melihat Jokowi begitu nyaman berdamping dengan perempuan Asmat. Beberapa dari mereka bertelanjang dada, berfoto di sebelah Jokowi. Lelaki Solo itu tak kehilangan senyumnya, yang sungguh semringah hari itu. Saya megap-megap mendapati Papua menemukan Ayah Kandungnya.

Tapi haters dan lovers di media sosial berteriak parau. “Pencitraan,” seru mereka. Saya terkejut.

Citra memang harus terus dibangun. Apa yang ditampilkan Jokowi itu real, nyata, tulus, dan jujur. Kalau momen itu kemudian digunakan biro pers Istana bagi pemekaran personalitas Bapak dan Ibu Negara, tentu sahih.

Sebagian dari Anda boleh bosan. Tapi sebagian yang lain masih merindu foto-foto semacam itu. Beberapa teman saya mengaku telah menangis di hadapan foto Jokowi dan Asmat. “Dosa kita yang selama setengah abad meminggirkan Papua, bahkan mengisap kekayaannya dengan kemaruk, telah ditebus Jokowi pada hari itu,” tulis mereka melalui Telegram app pada saya.

Dugaan saya, inilah saat tepat bagi Jokowi untuk sedikit menjauh dari para pemuja, bergeser sekian ratus kilometer ke kota-kota yang selama ini memusuhinya. Di sana Ia akan bercumbu dengan keunikan daerah masing-masing. Kesadarannya yang belum berubah bahwa ia bagian dari Indonesia, satu dari sekian ratus juta penduduknya, akan memandu dia, menggerakkan bahu istrinya, mendorong mereka memasuki petulangan batin yang tak terbayangkan.

Dia bukan cuma Presiden Anda. Dia juga presiden dari sekelompok orang yang masih suka dengan hal-hal yang Anda anggap kampungan, memuakkan, dan membosankan. Pekan depan dia mungkin menggendong bayi-bayi di Nusa Tenggara Timur, atau bernyanyi dengan para pesampan di Bangka. Dia menyatu dengan Indonesia. Saya dan Anda hanya sebagian dari Indonesia.

Karena itu saya ajak kita semua melangkah lebih jauh. Kita pilih Jokowi bukan untuk membalaskan rasa sakit atas gereja yang diserang orang-orang kardus, bukan untuk mempermalukan tetangga sebelah yang kemarin menghina kita di depan orang banyak, bukan untuk dendam-dendam personal maupun komunal. Kita memilih Jokowi bagi masa depan mereka yang kampungan itu, bagi hidup berkelanjutan orang-orang yang selama 6 kepresidenan ditertawakan dan diperdaya.

Akhirnya, ini permintaan saya kepada Jokowi:

Tetaplah Anda seperti yang teragakan di tanah Asmat. Tak perlu menyahuti kaos #2019 Ganti Presiden. Itu urusan Kaesang dan kaum milenial. Tetaplah rileks. Kalau bisa, undang lagi para pelawak ke Istana. Di sana Anda bakal terbahak-bahak. Melihat Anda terkekeh, hati rakyatmu tenteram.

Jangan ladeni tantangan Fadli Zon untuk buka baju. Tubuh Anda memang tak elok bagi pose semacam itu. Tapi bukan itu soalnya. Tantangan tersebut lahir dari seseorang yang tahu persis jagoannya tak punya apa-apa untuk dipertaruhkan selain ke-bekasmiliter-an. Perih rasanya mendengar cekikik putus asa dari seseorang yang tak beres mengendalikan lebar perut.

Terimalah permintaan endorsement dari pengusaha garmen lain. Mungkin kali ini Anda akan mengenakan jaket yang lebih gagah. Kalau butuh, saya bersedia bawa tukang bordir untuk menatahkan tagar ini di punggung Anda: #2019 Ganti DPR

Menjadi Presiden itu berat.
Dilan juga gak kuat.
Biar Jokowi saja

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Wednesday, April 18, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: