Jokowi dan Islam untuk Indonesia

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Syahdan pada zaman Majapahit saat Raja Kertabumi dan Ratu Kanjeng Amaravati memerintah, mereka sudah berbesan dan bersaudara dgn Kerajaan Champa, sekarang Kamboja. Dan Champa saat itu sudah lebih awal mayoritas memeluk agama islam. Diutusnya Syekh Ibrahim Al-Akbar ke Majapahit adalah atas undangan Raja Kertabumi yg melihat ada kebutuhan bagi rakyatnya yg mulai memeluk agama islam harus dibimbing dgn benar agar kelak beragama dgn benar. Pemikiran seorang raja yg luar biasa, padahal beliau sendiri adalah pemeluk agama Hindu.

Melihat sejarah islam masuk ke Indonesia ratusan literatur bisa ditemukan dan di baca, dari mulai Kerajaan Pasai, Barus, Laksamana Cheng Ho, Sunan Kali Jaga, sampai era KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, dst. Mungkin ini yg disebut islam Nusantara, yg berkembang bersama budaya dan kearifan lokal.

 

 

Agama dan ulama, ulama dan agama, sosok dan agama, agama dan sosok, semua bermuara untuk Indonesia. Kearifan, ajaran kebaikan semua agama harus menjadi landasan pijakan keberpihakan, keberagaman, kebaikan dan kebenaran. Bukan Kristen utk Ahok, bukan Ahok utk Kristen tapi Kristen dan Ahok utk Indonesia. Begitu juga Budha, Hindu dan lainnya, yg terbineka dalam pancasila.

Menarik menyimak fenomena yg sama kita rasakan, tiba-tiba agama dijadikan bara menganga membakar amarah keyakinan lainnya, surga dijajakan murah, malah ada bandrol dan bonus bidadari yg entah dari mana informasinya. Ulama tiba-tiba ada dimana-mana dgn banyak gaya, sayangnya kebanyakan tidak nyekrup ilmunya, dan pada akhirnya asal mangap saja mulutnya, tanpa memikirkan akibatnya.

Yang gila dan berbahaya, ada capres dipaksa menjadi representasi agama, pakai ijtimak ulama, padahal ybs bingung agamanya apa. Sampai dia sendiri menggebrak meja karena ditanya jadi imam dia tak bisa.

Kesembarangan asal tunjuk hanya utk kepentingan buang duit dapat susuk, ini yg bisa membuat bangsa jadi busuk. Sementara yg jelas juntrungannya sejak bayi anak siapa, lahir dimana, sekolah dimana, agama keturunannya apa. Malah dibilang anak siapa, agamanya apa. Padahal kuburan orang tuanya jelas letaknya. Nah tudingan itu difokus utk Jokowi dgn fitnah tak henti-henti.

Kewaspadaan kita bukan cuma perlu ditingkatkan, tapi kesolidan sbg bangsa tidak bisa biasa-biasa saja. Hadirnya HTI yg menolak pancasila, walau dibubarkan, akarnya sudah menjalar kemana-mana. Pengangkatan capres yg tak paham agama dijadikan representasi islam adalah cuma akal-akalan. Sang capres yg sudah lama ngences butuh kuda semberani utk ditunggangi, sebaliknya kaum HTI yg terus mengintai bisa menyusupi dimana-mana asal bisa bebas berkelana melanjutkan rencana memberangus pancasila.

Jadi jelas, tujuan keduanya saling bahu membahu utk menang dulu, urusan nanti bisa saling mengisi lihat siapa membeli siapa, dan apa yg bisa dinikmati bersama. Jangan tanya janji, yg disampaikan hanya kebohongan yg luar biasa, dan ini jelas berbahaya buat bangsa dan negara.

Hari-hari mendekati puncak kontestasi dukungan kepada Jokowi makin tak henti, semoga kondisi ini adalah refleksi dimana Tuhan telah membuka hati bangsa Indonesia makin hari, makin lebih jeli mana omong kosong, mana yg berisi. Kini jelas kita mengerti Islam adalah agama Jokowi, dan Jokowi adalah islam sejati. Paduan rendah hati dan hidup secara religi menjadikannya bukan manusia yg bukan asal bunyi. Iya, Jokowi, Islam dan Indonesia. Jokowi dan Islam untuk Indonesia. Bukan yg islam pura-pura untuk memberangus pancasila dan kebhinekaan kita. Mari bangkit bersama, melawan musuh nyata. Mereka sudah tak lagi mengatakan Jokowi PKI, karena sekarang justru mereka yg mengundang HTI dan PKI, dua ormas terlarang yg sudah dibubarkan malah mau digalang. Ini super serius, INGAT INI SERIUS.

#MARIJOKOWILAGI.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, February 13, 2019 - 17:15
Kategori Rubrik: