Jokowi Dan Banjir Jakarta

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Jakarta kembali diterjang banjir. Kata Gubernur 'kité' yang salah kontraktor. Itu, yang lagi kerja bikin tol, ada 'Karya2'-nya begitu . . . 

Wajar saja beliau omong begitu. Karena tempo hari juga omong banjir Jakarta sumber 'utama'-nya yang 'diatas'.

Ada dua yang 'diatas' itu. Satu aliran sungai yang diatas, hulu, artinya Bogor dan sekitarnya. Satu lagi yang dimaksud adalah Tuhan, si pencipta hujan . . .

Ya sudah, wasssss . . . salam ! 

Lagipula beliau pernah 'dawuh', masalah 'utama' Jakarté bukan macet dan banjir, tapi pangan. Kebutuhan pokok.

Salah tempat koyok e. Dikira sedang berada di Papua atau Nusa Tenggara Timur. Dan sia-sia pula lah Jokowi bikin MRT dan LRT . . . 

Seperti biasa pria bertubuh kurus dan hampir selalu berbaju putih ini melangkah cepat. Ber-payung warna biru. Dipegang sendiri. Menuju ke tempat hadirin yang sudah datang lebih dulu.

Hari itu Jokowi sedang meninjau proyek pembangunan bendungan Sukamahi dan Ciawi.

Ada Menteri PUPR, Gubernur DKI, dan Dirjen SDA, Suprayogi, disitu. Laporan yang sampai, per Desember tahun lalu, progres Sukamahi 50 persen, Ciawi 35 persen. Tahun ini, 2019, selesai. Makanya disempatkan datang, sekalian kontrol . . 

Memang lokasi kedua bendungan itu ada di DKI ? Ndak. Justru ada di Jawa Barat . . .

Kerja harus begitu. 'Planing' dan 'Doing' harus dari awal, hulu. Nanti 'Check' dan 'Action' untuk perbaikan juga begitu. Muter terus. Ndak boleh mandeg. Hulu Ciliwung memang 'salah satu' penyebab banjir DKI.

Cari masalah penyebab, buat rencana, bekerja, kontrol. Ini prinsip manajemen sederhana . . .

Kalau baru 'Planing' saja sudah mandeg. Apalagi baru wacana-wacana, ya sudah 'dobel' wassalam. Dobol !

Kata Jokowi, 'Kalau kedua bendungan itu rampung, banjir DKI berkurang meski 'baru' 30 persen'.

'Nanti pak gubernur DKI' lanjut Jokowi, 'akan bikin bersihkan drainase dan 'sumur resapan'.

Kata gubernur pun begitu. Kalau air hujan bisa dikembalikan lagi ke tanah, beres sudah. Mungkin maksudnya bikin sumur resapan itu.

Sama sebenarnya. Masalahnya. Kapan ? 

Wong 'normalisasi' sungai yang sudah berjalan pun stop, berhenti di tempat, 2 tahun . . .

Yang dimulai bahkan, mungkin, baru 'Do-ing', berdoa. Dan 'Wacaning', bikin wacana . . .

Semacam 'normalisasi' sungai begitu. Keren. Tinggi. Sampai ndak ada yg ngerti maksudnya.

Dikira kali Ciliwung itu barang 'asing'. Sampai perlu di-naturalisasi. Dikira Gonzales, Lilipaly, Spasojevic, Maitimo, dan Ezra Wailan . . .

Salah tempat lagi . . .
Ini DKI bukan PSSI . . .

Sepertinya, nurut saya, pada kabinet Jokowi 2019- 2024, diperlukan tidak saja Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, tapi juga perlu Menteri ng'Urus'-i DKI. MUJ ! Menteri Urusan Jakarta . . . 

Kalau ndak, lama2 banjir DKI bisa sampai ke leher. Dan Jakarta pun jadi Atlantis . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Sunday, April 7, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: