Jokowi Cemen?

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Mantan PM Australia, Julia Gilliard, pernah banyak peroleh pujian. Seperti Ratu Dunia, katanya. Sebab di salah satu pidatonya berucap sangar dan gagah. Tentang 'perilaku' umat Islam, sebagian, yang bermukim di Australia tapi dinilai ndak punya 'adab'.

Pokoknya ndak ada 'Syariah2an', kata Julia, termasuk khilafah2an. Silakan mbaca Qur'an atau sembahyang, tapi jangan bengak-bengok mesjidmu itu. Jangan dilakukan di tempat2 umum, sekolah, kantor. Lakukan di tempat2 tertutup.

Pakai bahasa Inggris, jangan bahasa Urdu atau bahasa 'Islam' lainnya. Kalian yang harus beradaptasi agar sesuai dengan kehidupan disini. Orang Australia memandang Muslim sebagai teroris. Mesjid2 akan diperiksa dan digeledah.

Kami percaya Yesus dan percaya Tuhan, tak ada kepercayaan lain. Jika kalian bermasalah dengan kami punya Lagu Kebangsaan, Bendera, Gaya Hidup, silakan tinggalkan saja Australia. Dan jangan kembali lagi . . .

Para Jokower dan pencinta NKRI Pancasila, berlambang Garuda, bendera Merah-Putih, tentu senang baca pidato itu. Dan berharap pemimpin negeri, Ir. H. Joko Widodo, berani pidato seperti itu juga. Mesti ndak persis, karena disini mayoritas Muslim. Dia sendiri juga. Yang penting esensi-nya. Sangar dan gagah pada 'khilafah2' . . .

Nyatanya, meski di awal masa periode kedua-nya berucap ndak ada beban, nuansa dan bau2 'pembiaran' tetep saja ada, meski aksi 'mereka' makin merata dan merajalela . . .

Jokowi Cèmèn ? Belum tentu . . .

Ambil cermin untuk mengaca diri, kita semua. Apa selama ini kita juga bersikap gagah dan sangar pada yang 'itha-ithu'.

Waktu jaman Ahok disidang karena tuduhan 'menista' agama, kita diam seribu basa. Ndak ada demo tandingan. Atau memang percaya Ahok menista agama ? Akhirnya 'mereka' dapat batu loncatan.

Saya lihat Kiai Ishom, orang NU, yang sendirian tampil gagah di persidangan, membela Ahok.

Kiai2 Sepuh sampai Bu Shinta dinista dengan bengak-bengok. Banser dan NU dibully habis2an, tapi nyaris ndak ada demo2an. Di jalan senyap, hanya rame di medsos. Kalaupun jadi 'dhèr', rame, akhirnya selesai cukup dengan meterai Enam Ribu diatas kertas HVS putih ukuran Folio . . .

Wakil Presiden memang orang NU, bahkan sesepuh. Namun ndak usah dipungkiri banyak yang mikir, dan ndak semua suka, karena beliau bukan NU yang 'biasa'.

Itu arti dan maksud Jokowi minta tolong pada sang Wakil untuk tampil gagah dan sangar pada para khilafah. Wong beliau punya 'sangu'-nya, kiai. Ternyata ? Mémblé juga . . .

Menteri Agama dipilih Tentara dan wong Aceh, bukan warga NU seperti jatah biasanya, juga begitu mau dan maksud Jokowi. Nyatanya ndak juga tampil gagah dan sangar . . .

Sebagai orang Jawa, Jokowi suka beri tanda, 'perlambang'. Bahwa dia sudah kerepotan. Beri tanda samar2 pada kita, dengan pengangkatan kedua pejabat itu. Termasuk pengangkatan Prabowo sebagai Menteri Pertahanan.

'Nih ! Saya sampek minta2 'bantuan', gimana kalian ?' Mungkin begitu maksud Jokowi.

Tapi respon kita tetep saja juga. Malah ngejek Jokowi salah milih partner. Lembek. Dan nggrundêl, karena Menteri Agama bukan orang NU, wapres bukan Mahfud MD, Menhan kok Prabowo . . .

'Pasukan' NKRI ber Pancasila itu sak hohah, namun hadapi 'musuh', yang sering kita ejek cumak segelintir, ndak bisa apa2. Tak berdaya. Loyo cuma karena meterai. Takut pada bendera hitam putih, katanya bendera Nabi.

Cuma mampu dan bisanya bertahan. Defensif. Kayak taktik sepakbola Italia jaman dulu, Catenaccio.

Kalau jaman Nabi dulu pakai taktik Perang Khandaq. Karena pasukan Islam cuma 3000 orang, musuh punya 10 ribu, bahkan lebih, maka bikin parit, khandaq, sekitar kota Madinah. Supaya musuh ndak bisa menyerang masuk. Mereka bertahan dalam kota.

Setelah 15 hari pasukan Muslim dikepung, musuh pada buyar. Konon datang angin topan. Porak porandakan perkemahan, sekaligus gudang2 perbekalan. Balik kucing lah mereka. Pulang ke Mekkah . . .

Itu karena Nabi punya jumlah pasukan yang lebih sedikit, bisa dimaklumi. Lha ini, 'kita' punya jauh lebih banyak daripada musuh, kok pakai taktik bertahan. Harusnya ya serbu dan serang.

Memang Nabi pakai taktik perang Khandaq atau perjanjian Hudaibiyah. Tapi kalau ndak lewati perang Uhud atau perang Badar, dan perang2 lain, ya Mekkah ndak mungkin bisa ditaklukkan. Kakbah pun masih dipenuhi para berhala. Berhala patung diam ataupun berhala yang bisa kênthut . . .

Nah, 'kita' pun harus begitu. Lawan ! Serang ! Kalau ndak mau ribut, bikin gaduh, ganggu stabilitas nasional, masak ndak bisa dengan cara senyap.

Santhèt kèk, atau bacakan 'kulhu sungsang', atau apa. Kita orang kan banyak yang mengaku sakti . . .

Nah ! Siapa bilang Jokowi cemen ? Ngaca dulu . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Monday, July 13, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: