Jokowi Bukan Tamu di Padang

Oleh: Zamri Yahya
 
Berita ang dibuat dan dimuat di halaman resmi Humas dan Protokoler Kota Padang dengan judul "Presiden ke Padang, Walikota: Kita Harus Memuliakan Tamu", sontak menjadi perhatian publik di daerah ini. Betapa tidak, berita itu seakan-akan menempatkan posisi Presiden Joko Widodo sebagai tamu di Kota Padang.
 
Apatah lagi, berita itu juga mengutip pernyataan Walikota Padang H Mahyeldi Ansharullah. Walikota sangat berharap agar warga juga ikut memberikan yang terbaik selama kunjungan Presiden tersebut. Menurutnya, sebagai warga yang baik dan benar, termasuk umat muslim, mesti memuliakan tamu yang datang.
 
Pernyataan Walikota Mahyeldi Ansharullah tersebut tentu mengundang beragam komentar. Namun, tentu amat disayangkan, pernyataan itu - kalau memang keluar dari mulut Walikota Mahyeldi, sebagaimana direlis dalam berita Humas dan Protokoler Kota Padang tersebut - seakan menempatkan Presiden Jokowi sebagai tamu di Kota Padang. 
 
Pertanyaan kemudian muncul, apakah Kota Padang dan Sumatera Barat bukan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)? Sampai saat ini, baik secara de jure dan de fakto, Kota Padang dan Sumatera Barat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI. 
 
Nah, kalau demikian, maka kedatangan Presiden Jokowi bukan sebagai tamu, tetapi pemimpin yang mengunjungi rakyatnya. Kunjungan Jokowi ke Kota Padang sekali lagi membuktikan, dirinya memiliki perhatian khusus untuk Ranah Bingkuang. 
 
Jokowi bukan pecundang, sebab walau kalah telak dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) yang lalu di Ranah Minang, dia tetap menaruh perhatian kepada rakyatnya yang berada di daerah ini. Jokowi-JK hanya memperoleh 22 persen suara, kalah telak oleh pasangan Prabowo-Hatta yang memperoleh 78 persen suara. 
 
Jokowi menunjukan dirinya sebagai presiden yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi caci maki rakyatnya, yang semua orang tahu, kebanyakan berasal dari Ranah Minangkabau. Bahkan, beberapa situs yang dikelola oleh putra-putri Minangkabau malah selalu terlihat provokatif terhadap Jokowi. 
 
Tak hanya Jokowi, pendukung Jokowi-JK yang berasal dari Minangkabau pun tak luput menjadi sasaran caci maki dan bully di media sosial. Mereka diposisikan dengan anggapan paling rendah karena mendukung dan menjadi pembela Jokowi-JK di daerah ini. 
Penulis menjadi ingat akan akhlak Rasulullah SAW, Nabi yang Agung. Betapa tidak, walau dicaci maki, walau diludahi, walau akan dibunuh sekali pun, Nabi Muhammad SAW tetap menunjukan akhlak yang baik kepada pembencinya. Bahkan tawaran Malaikat Jibril akan membumihanguskan mereka, ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah SAW. 
 
Nabi yang terkenal dengan kemualiaan akhlaknya tersebut memilih mendoakan pembencinya agar diberi hidayah oleh Allah SWT. Tak bosan-bosan Nabi Muhammad SAW memanjatkan doa kepada Allah agar umat yang durhaka itu diberi hidayah, dibukakan pintu hatinya. Dan ternyata, kekauatan doa membuktikan, sampai hari ini, penduduk Thaif menjadi muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
 
Agaknya, Presiden Jokowi mencoba meneladai akhlak dan kesabaran Rasulullah SAW ini. Dia tak bosan-bosannya datang ke Padang. Walau kedatangannya dianggap tamu sekali pun, dia tak akan ambil pusing. Sebab yang dikunjungi adalah rakyat Indonesia yang tanggungjawab merea berada di pundaknya. 
 
Bravo Mr Presiden. Semoga dikau selalu diberi kesabaran dan keikhlasan menghadapi rakyatmu yang membenci dan mencaci maki mu. Diri mu bukan tamu di kota nan indah ini.
 
Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thariq. Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus.
 
Ditulis Oleh:
Zamri Yahya, SHI
Wakil Ketua FKAN Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang
 
(Sumber: Bentengsumbar.com)
 
Tuesday, July 5, 2016 - 05:00
Kategori Rubrik: