Jokowi Belum Tentu Menang tapi Harus Menang

Oleh: Rudi S Kamri

 

HARI pencoblosan kurang beberapa hari lagi. Dan sampai H-21 ini posisi Jokowi-MA menurut saya belum sepenuhnya aman. Meskipun hampir semua survey masih mengunggulkan Jokowi-MA, tapi secara pribadi saya belum merasa puas dan tenang. Mengapa ?

PERTAMA
Mengacu pada hasil survey menjelang Pilgub Jateng dan Jabar 2018 lalu dibanding dengan dengan hasil resmi dari KPU, ternyata hasil survey tidak bisa menjadi patokan yang valid. Perolehan suara koalisi Gerindra-PKS pada saat pemilihan ternyata jauh di atas prediksi hasil survey. Meskipun mereka tetap keok tak berkutik, tetapi perolehan suara koalisi mereka tetap lumayan signifikan.

 

 

Penyebabnya konon koalisi Gerindra-PKS sengaja menyuruh para kadernya untuk tiarap dengan tujuan untuk mengakali para lembaga survey. Benar atau tidaknya isu ini, kita tetap layak dan perlu waspada. Apalagi mereka memang sudah terbukti rekam jejaknya untuk membuat gerakan akal-akalan dengan menghalalkan segala cara.

Gerakan mereka untuk menyongsong 17 April 2019 yang perlu kita antisipasi adalah aktivitas sholat subuh berjamaah dan berangkat ke TPS bersama-sama. Disamping itu ada gerakan pengepungan TPS dengan membuat dapur umum di sekitar TPS. Hal ini perlu saya ungkapkan agar kita waspada dan aparat keamanan mau mengantisipasi gerakan all-out mereka.

KEDUA
Militansi pendukung Jokowi untuk mau datang ke bilik suara menjadi PR besar yang harus dibenahi. Secara kuantitas Pendukung Jokowi pasti jauh lebih banyak dibanding pendukung Prabowo. Ini sangat wajar dan normal. Karena saya yakin di Indonesia ini masih lebih banyak orang waras dan berakal sehat dibanding sebaliknya. Tapi bisakah mayoritas dukungan terhadap Jokowi ini benar-benar dikapitalisasi ke dalam dukungan sampai di balik bilik suara ? Ini yang harus kita buktikan bersama.

Tragedi menyakitkan yang pernah kita alami pada Pilgub DKI Jakarta Putaran ke-2 tahun 2017 yang lalu jangan sampai terjadi lagi. Untuk sekedar mengingatkan secara kuantitatif pada waktu itu dukungan warga DKI Jakarta kepada AHOK jauh lebih tinggi dibandingkan dukungan terhadap Anies Baswedan. Tapi kenyataannya pendukung Ahok yang datang ke TPS hanya sekitar 65%. Hal ini dapat dibuktikan dengan angka bahwa AHOK hanya kalah 890.621 suara TAPI orang yang TIDAK MENGGUNAKAN HAK PILIHNYA berjumlah 1.685.844 suara. Dan disinyalir sebagian besar dari jumlah orang yang tidak menggunakan hak pilihnya tersebut adalah pendukung Ahok.

PENGALAMAN menyakitkan dari peristiwa Pilgub DKI Jakarta JANGAN SAMPAI TERJADI LAGI pada Pilpres 17 April 2019 nanti. Semua pendukung Jokowi-MA hukumnya WAJIB untuk datang ke TPS dan mencoblos nomor 01.

JOKOWI HARUS MENANG. Karena hal ini merupakan pertaruhan besar kelangsungan NKRI dan Kebhinekaan bangsa ini agar tetap terjaga. Disamping itu kita punya kewajiban agar kesinambungan pembangunan yang telah dimulai oleh Jokowi harus tetap berjalan sesuai dengan rencana besar bangsa ini. Ini tanggung jawab kita kepada anak cucu kita.

Dengan mempertimbangkan dengan seksama rekam jejak kekerasan dan masa lalu yang berdarah-darah dari Capres kubu sebelah. Dengan melihat keunyu-unyuan yang penuh dusta dan sandiwara Cawapres kubu sebelah. Dan dengan memperhatikan kelompok radikal keagamaan yang berada dibalik kubu sebelah. Kita harus mencegah dengan sekuat tenaga agar mereka tidak menguasai negeri ini. Masa depan Indonesia dipastikan akan suram kelam apabila mereka berkuasa.

Satu-satunya jalan adalah KITA HARUS MEMENANGKAN JOKOWI-MA. Dengan cara sederhana :
1. Kita harus all-out menambah dukungan suara buat Jokowi-MA di waktu yang tersisa.

2. Kita harus datang ke TPS pada tanggal 17 April 2019. Dan ajak sebanyak mungkin orang untuk datang ke bilik suara TPS.

Masa depan bangsa ini saat ini di tangan kita. Karena kita yakin mendukung Jokowi adalah membela kebenaran dan kebaikan, insyaallah Tuhan akan merestui niat dan langkah kita. Aamiin YRA 

Salam SATU Indonesia,

(Sumber: facebook Rudi S Kamri)

Wednesday, March 27, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: