Jokowi & Anomali

Oleh: Sunardian Wirodono
 
Hidup itu biasa saja, kata Pramoedya Ananta Toer. Yang hebat tafsirnya, kata penulis Bumi Manusia itu. Kemarahan Presiden, soal kinerja menteri-menterinya terkait pandemi Covid-19, sebenarnya juga biasa-biasa saja. Wajar-wajar saja. Yang hebat tafsirnya, atau setidaknya para penafsirnya.
Mau ditafsir dari kanan ke kiri dan sebaliknya, dari atas ke bawah atau sejungkirbaliknya, itu menunjukkan vibrasi objek yang dikritik. Tafsir yang kayaknya jauh lebih hebat dari yang ditafsir, sebenarnya juga tafsir biasa saja. Yang tak biasa (pasti ini juga tafsir), adalah kita tak biasa dengan semuanya itu. Setidak selama ini, sejak dari Sukarno berkuasa, apalagi sejak Soeharto, kita tidak terlibat dalam kuasa tafsir itu. Tahu-tahu pengen ikutan.
 
Itu pun setelah Mark Zuckerbergh, dan orang-orang pinter sejenisnya, menciptakan aplikasi dan berbagai platform media sosial. Membuat kapitalisme-liberalisme seolah punya semacam semboyan sama rata sama rasa. Padal bokis. Simulakra. Setidaknya dalam ngunandika, menyatakan pendapat, apapun itu. Seolah gagah dan berguna.
Jika itu disebut matinya pakar, mungkin juga terlalu lebay. Ini lebih karena ketidaksiapan, ketika jaman berubah. Tatanan sosial dijungkirbalik. Mandala-mandala dihancurkan atau hancur dengan sendirinya. Tak ada lagi mainstream, kecuali yang anti-maisntream. Dan sia-sia saja dengan klaiming atau pendakuan mutlak-mutlakan.
Ketika ada pemeluk agama menganggap agamanya paling benar, hanyalah cerminan cara beragamanya. Kalau ada mengatakan liyan sebagai dungu atau goblog, itu juga cerminan cara berfikir, yang biasa saja, yang konvensional. Lantas apa jasamu?
Riuh-rendah tafsir yang makin menghebat, dengan daya vibrasi yang diistilahkan viral atau trending topic, juga hanya karena teknologi komunikasi dan informasi yang berubah penggandaannya. Cukup dengan hukum logaritma. Bukan karena pengupayaan yang disebut demokratisasi, atau tumbuhnya proses demokrasi. Justeru demokrasi yang tumbuh liar hanya menebalkan pongahnya kekuasaan. Segala narasi yang dibangun, sekedar curhatan lebay di dinding ratapan. Hanya menjadikan lega secara psikologis. Gitu-gitu doang. Atau setidaknya, sekedar ikutan menirukan cara Soeharto menghisap cerutu.
Munculnya medsos menjadi semacam katarsis doang. Semacam kanalisasi, yang justeru mereduksi, mengurangi. Bukan bagian dari penguatan. Lebih karena situasi, kondisi dan toleransi, dengan efek mediasinya. Apalagi kini semua orang boleh dan bisa menafsir.
Ketika Jokowi dikatakan dungu, atau bodoh, atau goblok, oleh siapapun (dengan alasan sayang atau tidak sayang), juga sesuatu yang akhirnya biasa saja. Biasa saja artinya tidak istimewa. Tidak istimewa dalam istilah pembuat martabak, tidak pakai telor. Itu sekiranya telor sebagai ukuran nilai, kredibilitas, apalagi kapabilitas.
Maka menjadi benar teori Einstein, mengenai relativitas dan sudut pandang. Dan selalu pada akhirnya, sebetapapun petakhilan dan biyayak’annya para Buta Cakil, tak pernah bisa mengalahkan Arjuna, yang kalem, seolah budeg-bisu, seolah setahun ra jejamu. Padal selalu minum empon-empon.
Indonesia tak dibuat sejak Jokowi jadi Presiden. Indonesia juga bukan dari sejak Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Apa yang terjadi sekarang bukan sesuatu yang makbedundug. Maka jika yang lahir cuma kritik anomali, bisa menjadi senjata makan tuan. Itu jika mengerti yang dinamakan agenda. Kalau tidak ngerti, ya memang biasa saja. Namanya juga kritik anomali.
 
(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)
 
Thursday, July 2, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: