Joker dan Redefinisi Penjahat

Oleh: Sunandi

 

Saya sendiri belum menonton film Joker yang tengah ramai dibicarakan. Namun, dari ulasan mereka yang sudah menonton saya melihat ada sebuah fenomena menarik di situ. 

Joker dikenal sebagai musuh bebuyutan Batman. Dengan pasukan badut jahat dia menebarkan teror ke seantero kota Gotham Begitu yang kita tahu sejak awal dari film-film tentang Batman. Kini, Joker menjadi tokoh sentral yang dikupas latar belakang kehidupannya.

 

Melalui film tsb, joker ditampilkan lebih manusiawi. Masa lalu yang kelam, tersakiti, dan tersingkirkan menjadi penyebab dia kemudian menjadi sosok penjahat. Orang pun menjadi mahfum atas apa yang terjadi pada Joker hingga menjadi seorang penjahat setelah menonton film tsb.

Perdebatan muncul manakala menilai sosok Joker dari film ini. Apakah ia adalah orang jahat yang terlahir dari orang baik yang tersakiti atau orang baik yang lemah dan kalah oleh dendam. Ya semacam perdebatan bubur diaduk dan tidak diaduk yang tak pernah usai.

Apakah ada redefinisi pada makna jahat, penjahat, dan kejahatan?

Tidak hanya melalui film Joker tapi ada beberapa hal yang membuat saya melihat ini sebagai fenomena. Beberapa kali saya melihat meme maupun tulisan tentang redefinisi sosok Rahwana. Rahwana yang dalam epos Ramayana dianggap sebagai sosok jahat yang ingin menguasai Shinta, kini dimaknai secara berbeda. Apakah ia benar sosok jahat atau dia sebenarnya sosok pencinta yang rela melakukan apa saja. 

Ada pula tentang perbuatan jahat yang dilakukan manusia ditimpakan kepada setan. Meskipun dalam ajaran agama dijelaskan menganai posisi setan dan perbuatannya, namun di kehidupan masyarkat sekarang setan tak lagi dianggap sebagai penyebab terjerembabnya manusia pada kejahatan. Ada yang mempertanyakan kenapa selalu setan yang disalahkan atas perbuatan manusia? Jadi, antara setan dan kejahatan yg dilakukan manusia dianggap tidak memiliki kaitan.

Hal ini kemudian melahirkan konsepsi baru atas makna jahat, kejahatan, dan penjahat. Sesuatu yang jahat tidak lagi dimaknai sebagai kubu hitam dalam konsepsi hitam vs putih. Ia kini menjadi wilayah abu-abu yang bisa dimaknai banyak hal. Orang tak lagi melihat efek perbuatan si pelaku, tapi lebih tertarik melihat apa yang melatarbelakanginya hingga si pelaku bisa berbuat jahat seperti itu.

Apakah akan ada perubahan nilai-nilai masyarakat dalam memandang baik-buruk suatu kejahatan? Entahlah....karena saya lapar jadi gak bisa mikir

 

(Sumber: Facebook Sunandi)

Sunday, October 6, 2019 - 22:45
Kategori Rubrik: