Jogja Slowdown

ilustrasi

Oleh : Arif Maftuhin

Pasar Bringharjo memang sepi, tetapi jalanan masih ramai. Meski tidak sepadat hari biasa tetapi mobilitas orang masih sangat tinggi. Tansjogja juga masih terlihat beroperasi.

Bagaimana dengan masjid dan musala? Di kampung saya, Fatwa MUI, NU, Muhammadiyah tidak bisa berbunyi. Fatwa ulama Mesir dan Saudi terasa jauh sekali. Semua kalah lawan "ustad" lokal yang berpandangan bahwa "masjid adalah jiwa kami".

Salat berjamaah masih jalan terus. Saran untuk menutup masjid diabaikan. Minggu lalu masih Jumatan. Minggu ini mungkin juga masih jalan. Himbauan Sri Sultan untuk tidak berkumpul-kumpul diabaikan. Waktu ada usulan agar masjid segera mengambil kebijakan yang tepat, mendengar himbauan ulama dan pemerintah, jawabannya malah "Nek khawatir lara, pengin salat neng omah, ra sah ajak-ajak. Ra sah mekso wong liya."

Tadi pagi bahkan sudah ada larangan di grup WA untuk tidak boleh posting apa pun yang terkait Corona. Mereka ingin, seolah-olah Corona tidak ada. Beribadah saja seperti biasa.

Ya sudah. Akhirnya kami-kami yang ingin membagi pesan siaga dan waspada Corona seperi menjadi warga yang hanya bisa menebar kabar duka.

Kami yang pilih tidak ke masjid dan 'ndekem' jadi tampak sebagai warga yang kurang taatnya. Apalagi saya, yang rumahnya persis di samping musalla.

Dua hari lalu saya masih ikut jamaah di musala. Anak dan istri sudah saya suruh di rumah saja. Waktu salat, di samping saya bersin-bersin. Di belakang saya batuk-batuk. Salat pun tidak jadi khusyuk.

Dalam struktur relasi sosial kampung, tidak mungkin saya menegur. Akhirnya, yang berlaku hanya pepatah Jawa: "sing waras (badannya), ngalah" karena yang sakit tidak mau tinggal di rumah.

Emboh lah. Mending pasrah Gustialah.

Sumber  : Status Facebook Arif Maftuhin

Wednesday, March 25, 2020 - 12:00
Kategori Rubrik: