Jilbab

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Ini Cerita Tentang Asbabungèyèl)

Ada satu teman kerja saya dulu, teman yang lain memanggil dia dengan kata ganti 'ustadz', sukanya omong perilaku beragama orang lain atau sekelompok orang lain. Nyinyir kesannya. Karena semua orang itu salah. Dan orang lain ndak punya hak jawab, atau minimal males njawab. Karena dia sendiri ndak ada maksud untuk 'tabbayun'. Pasang badan . . .

Beduk di mesjid bid'ah. Bayi lahir telinga kanan di perdengarkan azan, salah. Dalam.Quran tertulis bayi lahir itu tuli dan buta.

Cara penentuan awal bulan dengan rukyat, salah juga. Dalam.Quran tertulis, harusnya pakai metode 'hisab', hitungan.

Pokoknya selalu nyinyir dan tunjukkan 'bukti' dari Quran, yang selalu ada siap di atas mejanya. Tentu saja tafsir yang ndak sama dengan dia berarti salah . . .

Biasanya saya cuma merespon dengan senyam-senyum. Males rame-rame . . .

Satu saat yang beliau 'serang' bukan orang lain, tapi saya. Ndak tau juga mengapa dan ada apa kok tiba2 beliau omong tentang Nyonya saya. Yang ndak pakai jilbab . . .

Saya ndak bisa senyum-senyum lagi, sempat meradang. Namun kemudian akhirnya bisa juga menjawab dengan santai.

"Ah, istri ulama jaman dulu, juga ndak ada yang pakai jilbab, Pak. Adanya cuma pakai kebaya dan kerudung. Anak2nya, meski sudah dewasa juga cuma pakai rok panjang selutut,"

Lalu saya sebut ulama2 besar Indonesia. Para pendiri organisasi Islam Indonesia. Pembuat kitab tafsir Quran terkenal. Dan lain-lain . . .

Eh, beliau serius timpali 'eyelan' saya. Ulama2 itu mungkin belum tahu atau belum sempat ulas tentang jilbab. Jawab beliau.

"Ndak sempat bagaimana ? Wong mereka sudah cari dan gali ilmu sampai tua kok. Wafatnya pun saat sudah berumur kok. Masak ndak sempat ?" Agak meninggi suara saya.

Emosi. Karena yang beliau bicarakan, istri saya dan meragukan 'ilmu' para ulama.

"Kalau saya dan istri saya salah dan masuk neraka, ya tinggal tunjuk saja, saya niru ulama ini, ulama itu. Beres !" Ketus saya menukas.

"Jangan taklid lah . . ." Suara beliau merendah tapi pilih pakai kata yang justru 'membakar' saya. Taklid itu kira2 punya arti, ikuti anjuran atau ajaran seseorang tanpa tahu dasarnya.

"Sik, sik . . . Kalau ustad beri santapan rohani, lalu jemaah sampeyan nurut dan ikuti. Itu termasuk taklid ?"

"Ya ndak. Saya kan bisa tunjukkan dalilnya !" Beliau 'naik' juga.

"Lalu sampeyan pikir para ulama dulu ndak baca dan ndak pakai dalil ?" Tanya saya mendesak. Masih berpanjang beliau. Saya juga. Tapi ya ndak ada titik temu. Bubar . . .

Saya pikir masalah jilbab Nyonya sudah selesai dibahas. Sayapun sudah lupa. Ternyata ndak. Diteruskan sekira satu minggu kemudian

"Run, Run, coba kesini," beliau memang biasa cuma panggil saya nama. Saya pun mendekat ke meja beliau. Ada Quran terbuka. Tepat pada satu Ayat dalam satu Surat.

Saya baca di sudut halaman atasnya, Surat An-Nur. Mata saya tertuju ujung telunjuknya yang menunjuk ayat ke 31 . . .

Beliau baca ayat itu sampai tuntas. Lalu pindah ke kitab terjemahannya. Saya disuruh baca. Ya saya baca. Pelan pelan. Tartil meski cuma terjemahan . . .

'Katakanlah kepada para wanita yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa ada padanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung mereka ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka . . , atau budak laki-laki yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan . . .'

Demikian saya baca seterusnya sampai tuntas. Beliau nampak puas. Telah tunjukkan 'bukti', memang jilbab tertulis disana, Quran . . .

Saya tanya, "Terjemahan ini sudah bener, Pak ?' InsyaAllah, jawab beliau tegas

"Maksud budak dan pelayan laki2 yang ndak punya nafsu, itu apa ? Jaman sekarang budak sudah ndak ada, lho !"

Ayat itu kan datang pada jaman masih ada perbudakan, beliau cekatan menjawab.

"Lha ? Artinya ada dimensi waktu. Berarti cuma berlaku untuk masa itu ? Bukannya Quran itu selalu ter-update dengan sendirinya ? Berlaku sepanjang masa ? Masak ndak bisa diprediksi nanti budak ndak akan lagi ada ?" Makin ngeyel saya.

"Atau supaya tetep update, budak dan pelayan bisa diterjemahkan sebagai sopir dan tukang kebon ?! Jadi sopir dan tukang kebon boleh 'lihat' juragan perempuannya ?" Desak saya terus . . .

Makin lama perdebatan makin panas. Teman yang lain cuma menonton bingung. Habis, argumen saya meski 'berkelas' ngeyel, tapi mungkin mereka pikir masuk akal juga. Di tempat kerja, saya memang nyohor pinternya . . .

Sekali lagi ndak ada kata sepakat. Yang jelas dan yang lebih penting lagi, sejak saat itu dia ndak pernah lagi omong dengan saya perkara 'ayat' . . .

Pesan moral dari cerita ini adalah jangan suka ngurusi orang lain jika ndak diminta . . .

Yang lebih penting lagi, jika sudah kebelet beri nasehat, pahami dulu hakekat 'amar makruf nahi mungkar'. Yakni poles diri sendiri dulu sampek mengkilat. Hingga orang lain nurut dan ikut cuma karena lihat apa yang kita lakukan dan kerjakan, bukan pada apa yang kita omongkan dan kita paksakan . . .

Tapi biasanya memang begitu sih. Orang yang belum 'nutug maqom'nya, cenderung nuturi orang dengan bengak-bengok. Dan biasanya isi pituturnya sama sekali ndak mutu dan bikin malu. Kalau di counter, mesti ngeyel juga. Kayak saya . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Monday, June 1, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: