Jilbab

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

Semalam saya nemu foto lama di file laptop. Kemudian saya posting di IG.

Foto lama ini sebelum saya memakai Jilbab dengan rambut hitam panjang alami terurai, beberapa tahun lalu.

Seketika teman2 dekat saya heboh dan banyak sekali komen, mengirim pesan di DM, WA, bahkan Telpon berdering setiap jam nya. Sampai saya menonaktifkan akun IG untuk sementara waktu supaya tidak menuai polemik.

Teman2 saya heran, kaget dan bertanya karena mereka tidak tahu sebelumnya bahwa foto yang saya posting tanpa memakai Jilbab. Padahal itu foto lama.

"Teh, apakah teteh lepas Jilbab? Kalo bener aku kecewa sama teteh."

"Beb, kemana Jilbab nya. kamu mau mengikuti Rina Nose yang melepas Jilbab? Aiiih.. Gak nyangka aku."

Apapun yang menyangkut dengan diri saya selalu ramai dan jadi bahan pembicaraan orang banyak, ada yang Pro dan kontra. begitulah kehidupan.

Gara2 postingan saya semalam, sekarang saya mau mengulas secara tuntas dan menjelaskan tentang Jilbab serta saya menilai dari sudut pandang yang luas.

Memakai Jilbab itu sama dengan saya memakai pakaian biasa. Pakaian adalah produk sekuler karena buatan manusia.

Pakaian produk kebudayaan made in manusia, dan manusia lah yang membuat pakaian itu menjadi beragama.

Dalam Islam tradisi berpakaian untuk Perempuan bermacam macam ada jilbab, niqab, burqa, dan khimar.

Tradisi berjilbab sudah ada sebelum munculnya agama Ibrahim, masyarakat Arab pada mulanya tidak mengenal tradisi Jilbab.

Kebudayaan Byzantium dan Persi yang memperkenalkan budaya Jilbab ke masyarakat Arab.

Menutup aurat bagi Perempuan sudah dipraktekkan jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7 M. penggunaan Jilbab di kalangan umat non muslim baik Yahudi maupun Kristen adalah simbol kesederhanan dan kepantasan tentunya bukan milik kaum Muslim saja.

Dalam Islam sendiri tidak ada kesepakatan tunggal di kalangan ulama tentang kewajiban berjilbab untuk Perempuan Muslimah.

Ada yang mengharuskan, ada yang membolehkan, ada pula yang tidak mewajibkan.

Meskipun ada yang berpendapat bahwa perintah mengenakan Jilbab bagi Perempuan itu diambil dari sejumlah ayat dalam Al-Qur'an.

Walaupun begitu, berjilbab itu dimaksudkan untuk menutup aurat dan penutupan aurat itu bisa dilakukan dengan jenis pakaian apa saja.

Bisa dengan baju, kemben, celana jeans atau celana kain panjang dan lainnya asalkan pakaian yang dikenakan sopan.

Adakah hubungannya antara Jilbab dengan hidayah dan kesalehan? jelas tidak ada.

 

Hidayah itu tidak ada sangkut pautnya dengan busana.

Hidayah itu urusannya dengan hati, bukan karena sehelai pakaian. begitu juga kesalehan, kesalehan itu di perbuatan bukan di pakaian.

Banyak Perempuan yang berjilbab merasa diri lebih baik, lebih saleh, lebih alim ketimbang mereka yang tidak berjilbab. tanpa mereka sadari mereka sedang mempermalukan dirinya di hadapan Tuhan karena merasa lebih baik dan lebih suci dari manusia lainnya hanya karena sehelai pakaian.

Bagi saya, yang lebih penting di Jilbab itu akhlak dan moral bukan cuma sekedar aurat!

Jilbab yang baik adalah akal, budi pekerti, moral dan akhlaq yang sempurna. baik dari Hati, lisan dan sikap. Bukan sekedar tampilan secara fisik.

Jilbab itu hanya bungkus tidak mengandung arti kebaikan apapun jika jiwa pemakainya tidak diisi dengan kebaikan dan kebenaran secara prinsip keislaman.

Bagi yang tidak berjilbab, jangan menuduh pula Perempuan berjilbab sebagai sok Islami, karena banyak juga Perempuan yang berjilbab dengan niatan tulus ingin mengikuti penafsiran ulama.

Begitu pula sebaliknya, Perempuan yang berjilbab jangan berprasangka buruk dan menuduh perempuan yang tidak berjilbab sebagai Perempuan tidak baik.

Mengartikan Jilbab tidak bisa hanya dengan membaca beberapa dalil dari Al-Qur'an atau Hadis tapi miskin wawasan kesejarahan dan perangkat ilmu sosial, tetapi harus juga menguasai sejarah.

Beragama itu harus melihat konteks, Segala sesuatu ada konteksnya dan setiap dalil ada sejarahnya.

Begitu pula risalah tentang Jilbab ada sejarah dan konteksnya.

Belajarlah menanggapi segala sesuatu itu dengan pandangan yang luas secara utuh bukan dengan kacamata pembenci.

Jadilah elang dan bukalah akal seluas luasnya sehingga terbuka wawasan dan membuka seluas-luasnya pintu kebaikan. Jika wawasan terbuka maka hati akan terang benderang.

Orang yang Open-Minded pasti pengetahuannya luas dan pasti Never Judge People.

Pengetahuan yang luas membuat mereka sadar bahwa ada kemungkinan benar dari sebuah hal yang mereka kira salah.

Dan orang yang menyalahkan cenderung merupakan orang yang tidak tahu banyak tentang hal itu.

Sebaliknya, orang yang berpengetahuan luas akan mengintrospeksi dirinya sendiri.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

Sunday, November 10, 2019 - 18:45
Kategori Rubrik: