Jilbab, Wajib atau Tidak Wajib?

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Delapan puluh persen perempuan, atau lebih, akan mengenakan jilbab sewaktu ada acara. Mungkin sekadar tren. Atau sebagian besar meyakininya wajib. Penampakan ajaib yang baru muncul setelah era 80-an. Seiring dengan mengerasnya ideologi islam garis keras, jilbab adalah salah satu senjata untuk memisahkan umat islam. Antara yang kaffah dan tidak. Antara yang ahlu janah dan ahlu nar. Antara perempuan salihah dan bejat. Hanya dengan selembar kain.

Dulu tidak ada yang gembar-gembor jilbab wajib. Setelah Tarbiyah-HTI-Wahabi mendapat akses dengan kejatuhan Soeharto, tren pewajiban jilbab ini diamini hampir semua umat islam. Tidak banyak yang berani kritis. Termasuk dari kalangan NU yang katanya islamnya bawaan Walisanga. Corak islam berbeda yang menyatu dengan tradisi Nusantara. Cara penafsiran ulang dari kitab suci dengan batasan kearifan lokal.

 

Di zaman itu, nenek dan ibu kita tidak diancam masuk neraka ketika rambutnya terlihat. Itu telah terjadi ratusan tahun sebelumnya. Tetapi, hari ini bocah-bocah ompol hasil didikan You-tube dan ustad abal-abal itu, berani melaknat para pendahulu mereka.

Kewajiban jilbab sebenarnya khilafiah. Tak kurang ulama yang menyebutnya tidak wajib. Quraish Shihab, ahli tafsir kelas dunia itu salah satunya. Jilbab yang dikenakan orang Indonesia hari ini pun bukanlah jilbab yang dikenakan orang Arab jaman Rosul. Menurut penafsiran ayat yang mewajibkan jilbab, dengan sudut pandang budaya Arab, seluruh tubuh perempuan wajib ditutup. Bahkan muka, kecuali mata satu sebelah kiri. 

Kita, dengan budaya Nusantara kita akan menolak mentah-mentah tafsir seperti itu. Ratusan tahun tafsir yang kita terima berbeda. Sudut pandang kenusantaraan tidak membuat laki-laki ngaceng saat melihat rambut, tangan, betis, dan muka perempuan. Seluruh bangunan dalil mengenai jilbab saat itu didasarkan kode kebudayaan Arab. Itu artinya, mereka membuat standar berdasarkan ukuran kesopanan saat itu.

Bahkan jika mencermati surat Al-Ahzab ayat 59, jilbab itu justru digunakan sebagai alat ukur perbudakan. Orang merdeka berjilbab, sedang budak diharamkan. Tujuannya agar orang merdeka itu tidak dianggap budak dan diganggu. Kita mungkin bisa memaklumi, saat itu Islam masih lemah. Jilbab adalah cara paling mudah untuk menyelamatkan orang-orang merdeka. Itu memang kejam dan tak manusiawi. Tapi mungkin tidak ada jalan lain.

Hal itu tidak relevan lagi saat perbudakan sudah dilarang. Semua orang merdeka. Alat ukur perbudakan mestinya juga telah lenyap. 

Kemudian jika kita masih membuat standar ukur ala Arab, suku Quraisy, Islam mundur 1400 tahun yang lalu. Apa bedanya Arab dengan bukan? Apa bedanya suku Quraisy dan non? Standar seperti itu kita terima, karena saat itu cara paling mudah membuat ukuran. Tapi jika hal itu masih diberlakukan sampai hari ini, hal itu mengingkari kesetaraan. Mengubur akal sehat.

Kita orang Indonesia sama terhormatnya dengan orang Arab. Suku Jawa, Bugis, Batak, Minang, sama mulianya dengan suku Quraisy. Tidak ada lagi standar, seorang imam harus dari suku Quraisy. Tidak ada lagi standar, halal-haram suatu barang ditentukan oleh adat orang Arab. Kita makhluk merdeka yang cerdas. Harus ada standar baru yang lebih universal. Satu ukuran yang diterima seluruh umat manusia.

Jilbab juga begitu. Itu budaya Arab yang dijadikan standar tafsir Quran klasik. Mereka melihat cara hidup kaum mereka di padang pasir. Lalu menerapkannya untuk seluruh umat di dunia. Padahal itu bertentangan dengan standar universal tadi. Standar kesopanan harus didefinisikan secara universal. Apa yang sopan di Arab, belum tentu di tempat lain. Apa yang tabu di tempat lain, belum tentu di Arab.

Islam bukan Arab. Hanya saja nabinya memang turun di Arab. Bahasanya Arab. Kebiasaannya kebiasaan Arab. Bukan berarti seluruh dunia harus diarabkan. Itu penjajahan kebudayaan.

Berjilbab tidak wajib. Jika anda meyakininya wajib silakan. Tapi jangan memaksa orang lain mengikuti keyakinan anda. Belum tentu anda yang benar. Karena itu hanya perbedaan tafsir. Oleh sebab itu, yang berhak menyebut "yang tak berjilbab masuk neraka" bukan anda. Karena anda bukan Tuhan. Dan tidak ada firman Tuhan yang secara terang menyebut demikian. Semua itu hanya tafsiran anda. Lalu memaksakannya pada orang lain.

Saya melarang istri dan keturunan saya berjilbab. Apalagi jika hanya ingin terlihat cantik. Memamerkan model-model jilbab seperti tumpukan gorden. Itu jelas menyalahi tujuan awal berjilbab untuk menutupi kecantikan. Untuk mengekang syahwat padang pasir.

Kenapa kecantikan dimusuhi dalam tafsir jilbab? Karena itulah yang dipahami oleh orang Arab tempo dulu. Perempuan adalah ancaman bagi keimanan. Godaan terbesar bagi laki-laki soleh. Oleh sebab itu perempuan dikurung, dibatasi, dizalimi. Mereka tidak merdeka, bahkan atas tubuh mereka sendiri. Lalu orang-orang penuh syahwat itu membuat peraturan fasistik. Yang diatasnamakan agama. Kezaliman ribuan tahun yang hari ini terus dilembagakan.

Dulu orang-orang teriak "jilbab wajib" tidak digubris. Mereka minoritas yang berisik. Karena itu bid'ah dalam tradisi keislaman yang dibawa Walisanga. Hari ini teriak "jilbab tidak wajib" malah jadi minoritas. Dianggap aneh dan menyalahi hukum agama. Karena jilbab sudah jadi bisnis. Dan agama adalah komoditi perdagangan yang sangat laku. Orang-orang takut diancam neraka.

Hari ini, minoritas yang dulu teriak "jilbab wajib" mulai ngelunjak. Mereka memaksakan tafsir mereka itu sesuka hati. Padahal yang mereka lakukan itu bid'ah, dilihat dari standar Islam tempo dulu di Nusantara. Penjajahan kebudayaan Arab terus digencarkan dengan kedok Islam. Dajalisme yang berbahaya dan menyedihkan. Akhir zaman...

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Sunday, June 9, 2019 - 04:15
Kategori Rubrik: