Jilbab Dan Vitamin D

ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Saya sampai pada kesimpulan bahwa cara beragama sebagian besar kita, muslim, cukup parah: dibiasakan tekstual dan bukan kontekstual, taat pada teks dan menganggap semua tentang teks adalah suci bisa dicarikan penjelasan otak-atik-gatuknya, dan - ini yang parah sekali - karenanya mendegradasi penggunaan akal dalam memahami agama. Karena berjalan beberapa abad, setidaknya paska so called jaman keemasan Islam, maka struktur ini sudah mendarah daging. Sejak kita lahir. Jadi kebayang usaha untuk memahami bias tsb, berat, apalah lagi berani membongkarnya.

Counternya paling mudah begini menggambarkannya. Apa poligami baik? Diriset aja, manfaatnya apa mudharatnya apa, klo riset yang robust menunjukkan poligami buruk, tinggalkan. Kalau baik, jalankan. Apapun kata tafsir, tinggalkan kalau evidence based menunjukkan dia buruk. Wong prinsip syariat hanya satu: menjaga 5 hal dari manusia. Apa nikah muda baik? Diriset aja, manfaatnya apa mudharatnya apa, klo riset yang robust menunjukkan nikah muda buruk, tinggalkan. Ulama karenanya bukan hanya penafsir teks, tapi ulama alias alim alias mereka yang mendedikasikan diri untuk pengetahuan termasuk riset sosial tentang nikah muda. Sekali lagi prinsip syariat menjaga. Apa riba baik atau bunga yang baik? Apakah praktek Islam X, Y, Z dll baik. Idem, di riset aja yang robust. Khususnya domain praktek-praktek muamalah yang debatable, bukan domain tauhid.

Akhir-akhir ini baru ngeh fenomena pemakai jilbab cenderung menderita kekurangan Vitamin D, karena kurang terpapar sinar matahari. Dokter saya di Aussie terakhir menunjukkan saya juga defisiensi vitamin D. Berarti ada beberapa efek dari jilbab: ada efek baik yaitu a-b-c-d tapi ada efek buruk yaitu e-f-g-h. Resultan atau hasil akhirnya bisa baik (menjaga) atau bisa buruk (tidak menjaga).

Jadi apakah jilbab itu menjaga, sesuai prinsip syariah? Entah, kita belum tahu, perlu banyak riset untuk menjawabnya. Tapi penting bagi kita untuk sampai pada tingkat kesadaran: mari kita teliti dulu dengan cermat, open minded alias terbuka dengan segala kemungkinan, tidak taqlid buta hanya pada tafsir teks. Berhenti membiasakan diri karena merasa tafsir jilbab wajib menurut Islam, lalu hanya mau melihat otak-atik-gathuk sisi baiknya saja, dan psychology biased menutup diri dari melihat situasi lengkapnya dengan rasional dan terbuka. Hasil akhirnya sendiri mungkin tidak terlalu penting: bisa tetap yakin jilbab baik, ya lanjutkan, kalau tidak, ya tinggalkan. Atau produksi jilbab dengan pori-pori yang bisa melewatkan sinar matahari. Tapi state of mind nya yang penting. State of mind untuk bisa berkata: mari kita pikir apakah jilbab itu bentuk menutup aurat yang baik (menjaga) atau ada bentuk menutup aurat lain yang lebih baik (menjaga). Kalau ada bagian diri Anda yang membaca kalimat itupun sudah alergi, seakan suatu yang amat suci sudah dilanggar, cermati ulang bahwa mungkin Anda sudah terbawa gelombang besar: mensucikan/menuhankan alat (means), alih-alih mensucikan tujuan (ends).

State of mind untuk bisa berkata: mari kita pikir apakah X, Y, Z (jilbab, poligami, nikah muda, bagi hasil, dll) secara bukti (evidence) itu baik, atau tidak, mungkin itulah yang dimaksud ketika ayat pertama turun. Iqro. Iqro bismi robbika. Baca. Baca. Beragamalah selalu dengan kesadaran. Beragamalah selalu dengan periksa.

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Monday, July 22, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: