Jilbab dan Sekolah

Oleh : Iyyas Subiakto

Saya tidak begitu paham tentang hal yg lebih mendalam akan halnya keharusan wanita muslim berjilbab, karena muslim di Indonesia yg mayoritas ini masih banyak wanitanya yg tidak berjilbab, bahkan anak saya tidak berjilbab kecuali istri saya, itupun dengan kesadarannya sendiri.

Menyimak apa yg disampaikan Prof.Quraisy Shihab yg anak-anak wanitanya tidak semua berjilbab, bahwa pertentangan pakai dan tidak pakai jilbab itu menjadi argumentasi yg tidak akan berujung, apakah itu sebuah keharusan karena akidah, atau menutup aurat wanita untuk keamanan dirinya, seberapa berat dosa yg ditimbulkannya dibanding hal-hal lain yg lebih urgent ditertibkan dari prilaku wanita muslimah, sampai ada istilah jilbabkan hatimu jangan cuma kepalamu.

 

 

Kalau sekedar menutup kepala, wanita-wanita Jahudi dan Biarawati lebih dulu memakainya, terus kenapa kita yg seolah punya hak atas jilbab, bentuknya yg beragam dan menjadi mode, bisa-bisa akan menjadi ria memakainya, ibu saya pada zamannya cuma memakai selendang yg disampirkan, tidak ada yg ribut, dia juga muslimah yg taat, bahkan Hamka pada zamannya tidak pernah ribut soal jilbab, sebagai ulama yg tergolong keras kenapa beliau tidak gencar memaksa wanita muslim berjilbab, sama halnya dgn Prof.Quraisy Shihab, ilmunya jgn diragukan, kenapa dia membiarkan anaknya khususnya Najwa Shihab tidak berjilbab padahal dia ditonton jutaan pasang mata, kalau rambutnya atau kepalanya dilacurkan sudah berapa besar dosanya, ini yg keluar gang saja jarang sudah memvonis orang lain seolah calon kuat penghuni neraka karena tidak berjilbab, dia sendiri kepala dikerukupi, maaf bokongnya dieksploitasi, karena dia penganut Islam seksi, atas ditutup bawah bisa dijual beli.

Minggu ini ramai SMP 3 Genteng Banyuwangi menerapkan keharusan siswi memakai jilbab, yg digagas kepala sekolahnya, dia lupa sekolah negeri dibiayai uang rakyat termasuk gajinya, setan apa yg merangsek kedalam kepalanya sampai nalar gurunya bisa jadi gila, mungkin dia juga anti Pancasila, mungkin saja bibit radikal sudah tersemai dihatinya, pantaskah dia ada disana, diruang, dimana hak azasi manusia dikedepankan karena dia pendidik anak bangsa yg dibangun beragam untuk negerinya, bukan cuma dicekoki oleh tutup kepala.

Jujur saya pribadi melihat fenomena ini kayak kejangkitan paranoid, penyalahan dan vonis wanita pemakai dan bukan pemakai jilbab sudah seperti menilai pelacur dan non pelacur, sampai isu cari menantupun ditanya, pakai jilbab atau tidak, mereka lupa nanya Bapaknya koruptor atau bukan, memang berat kalau hidup cuma pakai tutup kepala, otaknya jadi panas dan bisa turun kehatinya, minimal dalam hatinya akan mencibir, aku pakai jilbab dan engkau tidak, maka aku lebih mulia, walau suami dan anakku pemakai narkoba.

Terima kasih Najwa Shihab, engkau mewakili sikap wanita yg tidak berjilbab, terima kasih istriku karena darimu aku tau bahwa sadarmu yg membuat engkau mengenakan jilbab bahwa engkau butuh bukan disuruh, dan buat anak-anak perempuanku, pakai tidak pakai jilbab itu pilihanmu, berprilakulah dengan kekuatan akhlakmu jangan cuma meniru-niru, andai kelak engkau ditanya Tuhan tentang jilbab biarkan aku sebagai ayahmu akan menjawab, bahwa itu pilihan karena yg ada cuma anjuran bukan keharusan atau kewajiban. Itulah pendapat kami yg awam, salah dan benar biarkan kami yg menjalankan, karena urusan kami dgn Tuhan jangan dipaksakan hanya kalian berjilbab dan kami masih buka-bukaan.

Terima kasih Tuhan karena masih memberi kami hati untuk mengenalmu walau kami tidak memakai tutup kepala, karena semua yg kami terima adalah rahmatMu.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, July 18, 2017 - 20:45
Kategori Rubrik: