Jilbab dan Perempuan

Oleh: Ade Winata 

Bagaimana sih hukum jilbab dalam islam ?

Saya pribadi sebagai muslim menyakini menutup aurat itu wajib, istri saya pun berjilbab syari pada umumnya.

Saya pribadi pun saat mengenal islam melalui komunitas tarbiyah, hanya mengenal 1 narasi jilbab itu wajib.

Sampai saat ini pun saya mengambil narasi ini sebagai pilihan saya.

Namun adakah narasi lain selain narasi yang saya pilih ?

Awalnya saya kira tidak ada, namun rupanya ada.. Perbedaan pendapat itu ada.

 

Menurut saya selama pendapat itu keluar dari 

1. Person yang kredibel
2. Argumentatif

Contoh, ucapan jilbab tidak wajib keluar dari seorang guru besar tafsir alquran (Ex Quraish shihab) dan memiliki argumen yang berdasar sumber-sumber yang diakui oleh worldview islam (quran, sunnah, ijma, qaul shabat dll).

Artinya pendapat tersebut valid. 

Lalu cara menghandle perbedaan narasi ini bagaimana ?

Ya harusnya biasa aja, ada pendapat lain bukan berarti harus saya ikuti, dan ada orang yang ngikuti pendapat tersebut tidak harus membuat saya ngamuk-ngamuk. 

Malah perbedaan itu membuat cara pandang saya lebih luas, misal ada muslimah gak berjilbab berjalan, tidak membuat saya memandang muslimah tersebut auto pelacur/apapun dalam konotasi negativ. 

Dan juga, sebenarnya secara tidak sadar, kita juga sudah jauh memandang kualitas perempuan bukan sekedar kain dikepala nya.

Misal Najwa Shihab, siapa sih yang gak ngakui kualitas dirinya walau ia tidak berjilbab.

Dan juga baru-baru ini, saya melihat sebuah poster acara Partai yang hampir seluruh anggota perempuan nya berjilbab syari. Mengundang Ex mentri Kelautan yang seorang muslimah bertato, ngerokok dan tidak berjilbab dalam acara partai nya..

Artinya secara bawah sadar diakui atau tidak , kita tau dan paham, kualitas seorang wanita tidak diukur dari kain yang menutup kepala nya.

Yang salah itu adalah, dikala kita punya pilihan fiqh, meyakini itu benar yang lain salah, namun dalam kesendirian kita hobi melanggarnya.

Contoh, ada mubalig yang hari-hari menjadi polisi moral, berteriak sana-sini, namun rupanya dibalik itu berselingkuh dengan perempuan lain, berasyik masyuk dalam ruang-ruang gelap. Dan dikala ia harus bertanggung jawab memilih kabur padahal sebelum nya ia berteriak soal patuh pada hukum.

Seolah-olah Wajah Ampunan Tuhan hanya untuk dirinya, sedangkan Wajah Siksaan Tuhan hanya untuk orang lain.

Padahal, agama yang saya yakini ini ialah

Hal-hal yang berat dalam Agama (Azimah) adalah fatwa untuk diri sendiri, sedangkan keringanan ( rukhsah) adalah untuk kaum muslimin

Salam

 

(Sumber: Facebook Ade Winata)

Tuesday, January 21, 2020 - 17:15
Kategori Rubrik: