Jilbab dan Hubungan Sosial Kekerabatan

Oleh : Zen Zulkarnaen

Sejak merebaknya pemakaian jilbab di Indonesia seiring maraknya propaganda baik melalui gerakan tarbiyah maupun kepentingan industri jilbab yang kapitalis atau sebabsebab lain yang jelas ada perubahan perilaku dalam hubungan sosial dan kekerabatan, setidaknya yang bisa saya amati dan rasakan

Yang pertama adalah serindu apapun jika berjumpa kawan lama, relasi maupun sodara yang kini telah berjilbab, diriku selalu menahan diri untuk menyodorkan tangan mengajak bersalaman layaknya kehangatan dalam persodaraan. Sebab saya tak mampu membedakan wanita berjilbab seperti apa yang menolak ato menerima untuk sekedar bersalaman dengan lawan jenis. Kan ndak enak bamget sudah semangat tulus senyum ngajak salaman trus ditolak layaknya kita ndak ngerti standar moral yang bener, jadi ya milih pasif

Trus yang kedua saat berkunjung kumpul ke tempat sahabat ato sodara yang duludulu sebelun ada anggota keluarga wanita di rumah itu berjilbab bisa bersantai ngobrol bareng bersama sluruh kluarga, kluar masuk dapur ambil makan dengan bebas, yang kek gitu ndak bisa lagi, sebab yg berjilbab -pakek kudung tepatnya- jadi blingsatan kabur mangsuk kamar ambil jilbab dan seringkali mengunci diri ndak ikut gabung perbincangan sebab mungkin sumuk nek terus suruh makek dan ya takut dosa nek ndak makek sedang ada diriku yg itu ndak boleh liyak rambut mereka meski suami mereka santai saja meliyak rambut istri saya yg ndak berjilbab. Ya kadang akhirnya aku jugak lebih baik menyingkir biar merekamereka bisa leluasa berbuka kerudung di rumahnya, sebab kehadiranku adalah siksaan kenyamanan mereka, mungkin :)

Begitulah, cara masing masing orang mengejar surganya sendiri meski kudu mengorbankan perasaan dan kualitas silaturahmi**

Sumber : facebook Zen Zulkarnaen

Monday, August 8, 2016 - 16:30
Kategori Rubrik: