Jilbab Cut Meutia

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Setelah gambar Cut Meutia muncul dalam serial uang baru, beberapa ektremis mulai menyebarkan propaganda. Dengan dalih pemurnian agama, mereka menuding Pemerintah menyembunyikan fakta sejarah. Orang islam kagetan ini jelas tidak paham sejarah. Dengan waham dunia islam versi mereka, kultur Arab dijadikan pedoman hidup. Islam memang lahir di sana, tapi islam bagaimanapun juga, bukanlah Arab seutuhnya.

Trend pemurnian agama ini semakin membabi-buta. 30 tahun ke belakang, Indonesia masih baik-baik saja. Tidak ada orang ribut soal jilbab, celana cingkrang, jenggot, dan perayaan hari besar agama lain. Tapi sekarang ini semakin banyak orang gila agama. Berbeda adalah ancaman. Berbeda adalah alasan untuk dimusuhi.

Tentu sejarah mencatat gerakan pemurnian itu sejak lama. Ingat Tuanku Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro? Keduanya adalah ikon pemurnian ala Wahabi yang masuk ke Nusantara. Orang-orang jaman dulu mendapat ide pemurnian agama itu ketika mereka naik haji. Seiring dengan banyaknya pelajar yang menimba ilmu ke Saudi Arabia, kemungkinan penyebaran doktrin Wahabi juga semakin banyak. Terutama soal ide pemurnian agama.

Ada pengecualian, misalnya Kyai Said Agil yang dibesarkan cara pandang Wahabi, tetapi muncul dengan identitas Nusantara. Dan termasuk tokoh yang getol menghalau paham berbahaya itu masuk ke Indonesia. Hal itu terlihat dari keberanian untuk berbeda, untuk mengkhususkan diri dengan Islam Nusantara. Akibatnya Kyai Said adalah tokoh yang paling banyak diserang, difitnah, dinggap syiah dan disesat-sesatkan.

Jilbabisasi adalah salah satu bentuk dari proyek arabisasi itu. Banyak juga pribumi yang berjubah dan menganggapnya sebagi iktiar keagamaan. Yang celaka, ada pula yang berpakaian Pakistan dan menggapnya sebagai busana Arab. Mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat keagamaan begitu besar, tetapi luput membaca sejarah. Mereka merasa mendapat pencerahan (aufklarung) ketika melakukan umroh atau haji. Dan menganggap kultur Arab sebagai titik balik.

Cut Meutia ikut jadi korban buta sejarah bangsa ini. Islam yang masuk Indonesia bukan islam versi Arab. Sejak ratusan tahun yang lalu, kultur Arab terpisah dari kultur Indonesia. Yang berjubah dan berjilbab ya hanya komunitas Arab. Muslim Indonesia tetap dengan kulturnya. Dasar-dasar berpakaian yang diambil dalam doktrin kitab sesuai tolok ukur budaya Arab. Penafsiran yang ada dalam kanon keagamaan juga sesuai cara pandang Arab. Dan itu tidak diterapkan seluruhnya di Indonesia. Ia bukan isu penting. Islam yang masuk Indonesia mengalami filterisasi kebudayaan. Ulama terdahulu ‘manjing ing kahanan,’ produk hukum yang mereka hasilkan tidak saklek dan asal Arab.

Metode filterisasi inilah yang membuat Wali Sanga berhasil melakukan islamisasi hanya dalam waktu singkat. Lompatan yang sangat mengejutkan dalam catatan sejarah. Padahal komunitas islam sudah ada ratusan tahun sebelumnya di pesisir jawa. Tapi mereka eksklusif dan terpisah dari kultur masyarakat. Mereka islam sesuai cara pandang dan kultur Arab. Ketika kultur itu dipisahkan, diasimilasikan, lahirlah kultur Islam Nusantara jauh sebelum istilah ini digunakan sekarang. Orang-orang menerima islam bukan sebagai yang lain (Arab), tapi ajaran yang cocok dengan budaya lokal.

Seribu tahun lebih islam masuk ke Indonesia, tetapi tak ada yang ribut soal jilbab, jubah, jenggot, dan toleransi keagamaan. Karena itu hanya kultur, ia bukan substansi agama. Namun kenapa hanya beberapa puluh tahun saja jilbabisasi menjadi agenda penting? Orang yang tak memakainya diancam membusuk di neraka?

Ada banyak penyebab, di antaranya karena trend berpakaian. Jilbab jadi pop culture. Juga dikarenakan waham kesucian. Banyak orang berpikir kalau sudah berjilbab otomatis suci. Framing ini dibentuk oleh penjual jilbab, pengajian ormas keagamaan (terutama yang radikal), dan bias identitas Nusantara.

Banyak ormas radikal yang ikut berkembang seiring terbukanya gerbang kebebasan. Propaganda tentang pemurnian agama kian tak terbendung. Orang-orang dengan waham keislaman kaffah terus berlipat-ganda. Mirisnya, kebenaran yang mereka yakini dianggap sebagai kebenaran mutlak. Kelompok islam kemarin sore yang buta sejarah ini terkadang memaksakan kebenaran versi mereka.

Cut Meutia, Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati adalah contoh perempuan Nusantara yang terjun ke politik. Perempuan-perempuan perkasa yang memimpin di depan garis pertempuran. Gambaran ini tidak ada dalam kebudayan Arab. Hegemoni laki-laki Arab terhadap perempuan meniadakan peluang itu. Arab dengan “budaya cemburunya” memisahkan perempuan dari realitas sosial. Arab dengan cara pandang patriarkhi sakleknya memasung perempuan menggunakan dogma.

Perempuan-perempuan perkasa itu memang lahir di Aceh, tetapi bukan Aceh yang sekarang. Aceh yang kini mengalami kemunduran sangat jauh. Tanah yang melahirkan para pahlawan perempuan itu adalah Aceh dengan jiwa Nusantara. Bukan Aceh yang berjiwa Arab, bukan Aceh yang sibuk mendirikan negara dalam negara dengan syariat islamnya.

Dan di tengah sesat pikir dan buta sejarah itu, orang islam kekinian meributkan jilbab Cut Meutia. Mereka terdoktrin untuk mengekang perempuan, mencabut hak politiknya, membatasi ruang-geraknya. Dan mereka memulainya dari membatasi cara mereka berpakaian. Mereka lupa bahwa islam pernah mengalami kejayaan, tetapi bukan di Arab, melainkan di Indonesia. Islam Nusantara telah berhasil melahirkan perempuan perkasa, para pahlawan besar, para pendobrak. Suatu hal yang sulit diwujudkan oleh islam Arab hingga kini.

Tapi mereka ingin memundurkan peradaban jauh ke belakang, ke jaman tebas leher dan potong tangan. Aceh telah memulainya. Aceh sama yang pernah melahirkan Cut Meutia. Indonesia berkabung.

(Sumber: https://seword.com/sosbud/jilbab-cut-meutia/ dan status Facebook Kajitow Elkayeni)

Thursday, December 22, 2016 - 16:15
Kategori Rubrik: