Jilbab Bantet

Oleh: Budi Setiawan
 

Ketika Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mempersilakan anggota wanita TNI untuk kenakan jilbab saya paham sepenuhnya. Namun dengan perasaan yang mengganjal. Sebagai orang penting, Pak Panglima tentu mendengar banyak sekali masukan dan desakan mengenai kebebasan beragama dan menjalankan syariat agamanya adalah hak asasi yang harus diperhatikan dan dihargai.

Hidup dinegara mayoritas Muslim, Pak Panglima tidak bisa berbuat lain untuk mengizinkan anggota TNI wanita mengenakan jilbab. Keputusan ini diharapkan bisa memuaskan pihak-pihak yang terus menerus mendesak Panglima demi kestabilan keamanan dan ketertiban. “Rengekan” mereka diluluskan dan hasilnya saya bilang “bantet” Saya katakan demikian karena jilbab yang dikenakan tidak memenuhi syarat karena hanya kepala yang ditutup tapi dada tetap terbuka.

Bawahannya pun juga. Jika pakai celana panjang pada Pakaian Dinas Lapangan toh juga kelihatan bokongnya. Jadi yang tertutup hanya kepala tapi bokong dan dada tetap terbuka. Sebab jika mau konsekuen, harusnya jilbab itu menutupi dada dan bokong tidak terlihat bulatannya. Bagi saya juga aneh melihat seragam mereka jilbab ditumpuk dengan topi..gak matching banget...

Karena serba nanggung begini, menurut saya sebaiknya mereka tidak perlu memakai jilbab karena keterbatasan dan ruang lingkup lapangan kerja tidak memungkinkan. Bagaimanapun, kemaslahatan arti tugas mereka sebagai penjaga dan pembela negara jauh lebih penting dari pada busana. Lagipula , keimanan dan keberagamaan toh tidak semata diukur dari pakaian atau asesori bersimbol agama. Jadi kita tidak perlu memaksakan kehendak karena menurut saya dari segi manapun Kowad, Kowal, Kowau dan Polwan tidak perlu memakai jilbab karena tuntutan tugas lapangan mereka.

Kemudian kita juga tidak memikirkan dampak pemakaian jilbab itu pada kekompakan TNI yang anggotanya berasal dari beragam agama. Ini berarti jilbab menabrak pakem kemiliteran yang patuh 1000 persen pada keseragaman dan kepatuhan. Lucu saja membayangkan ketika defile pasukan kita melihat ada dari mereka yang tidak pakai jilbab karena non muslim. Adalah semua ini terpikirkan oleh kita ?

Kita khawatir, jilbab bantet TNI dan Polri justru merupakan pembenaran lebih lanjut bahwa jilbab adalah seragam bukan hasil dari internalisasi nilai-nilai jilbab yang sebenarnya.

Kita risau seragam jilbab bantet itu justru merupakan bukti kemunafikan bahwa seolah-seolah bangsa ini sudah menuju kehidupan yang syar’i padahal kita menikmati kehidupan yang sekuler. Dan kita bertepuk tangan untuk itu..

Lebih dalam lagi, kita bisa berujar jilbab bantet TNI dan Polri adalah salah satu buah hasil kegenitan kita dalam beragama.

Mentang-mentang mayoritas , kita selalu melotot , meradang dan memaksanakan kehendak dan selalu lantang meneriakkan kata, “ pokoknya..... untuk menutupi bokong kita yang telanjang karena celana kita bolong..

 

(Sumber: Facebook Budi Setiawan)

Wednesday, July 13, 2016 - 22:45
Kategori Rubrik: